Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BIOGRAFI SYEKH NAWAWI AL-BANTANI (PEWARIS PARA NABI)

referensimakalah.com

Oleh: Dihyat Haniful Fawad 

Syekh Nawawi Al-Bantani memiliki nama lengkap Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi dilahirkan di Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten pada tahun 1230 H/1813 M. Ayah beliau bernama Umar bin Arabi dan Ibunya bernama Zubaidah. Keduanya adalah penduduk asli desa Tanara. Ayahnya seorang ulama sebagai pendiri dan pembina Masjid Jami’ di desa Tanara dan pernah menjabat sebagai penghulu di daerah tersebut.

Syekh Nawawi merupakan keturunan ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Cirebon. Silsilah keturunan Syaikh Muhammad Nawawi dari ayahnya adalah Kyai Umar bin Kyai Arabi bin Kyai Ali bin Kyai Jamad bin Janta, bin Kyai Mas Bugis bin Kyai Masqun bin Kyai Masnun bin Kyai Maswi bin Kyai Tajul Arusy Tanara bin Maulana Hasanuddin Banten bin Maulana Syarif Hidayatullah Cirebon bin Raja Amatudin Abdullah bin Ali Nuruddin bin Maulana Jamaluddin Akbar Husain bin Imam Sayyid Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Adzmah Khan bin Amir Abdullah Malik bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad Sahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali Qasim bin Sayyid Alwi bin Imam Ubaidillah bin Imam Ahmad Mubajir Ilalahi bin Imam Isya Al-Naqib bin Imam Muhammad Naqib bin Imam Ali Aridhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad Al- Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Khusain bin Sayyidatuna Fatimah Zahra binti Muhammad Rasulallah SAW.

Pada usia lima tahun beliau belajar langsung dibawah asuhan Ayahandanya ‘Umar bin Arabi. dari Ayahnyalah Muhammad Nawawi mendapatkan Ilmu Pengetahuan khususnya Ilmu Agama seperti Bahasa Arab, tauhid, fiqih dan tafsir. Setelah itu barulah Muhammad Nawawi dan kedua adiknya Ahmad dan Tamim belajar kepada ulama-ulama lain seperti Kyai Sahal di Bantam dan Kyai Yusuf seorang Ulama terkenal di Purwakarta. Ketika usianya memasuki delapan tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara itu memulai pengembaraannya mencari ilmu. Tempat pertama yang dituju adalah Jawa Timur, setelah tiga tahun di Jawa Timur, beliau pindah ke salah satu pondok di daerah Cikampek (Jawa Barat) khusus belajar lughot (bahasa).

Setelah belajar kepada orangtuanya sendiri dan beberapa ulama di Jawa, pada usia 15 tahun, beliau beserta kedua saudaranya berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Beliau bermukim di sana selama 3 tahun. Setelah itu, beliau kembali ke Tanara untuk mengembangkan ilmu yang didapatnya selama di Mekkah. 3 tahun kemudian beliau kembali lagi ke Mekkah dan tinggal di Syi’ib Ali sampai akhir hayatnya. Di sana beliau belajar pada Sayyid Ahmad Nahrawi, Sayyid Ahmad Dimyati, Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (ketiganya dari Mekkah), dan setelah itu beliau belajar pada Syekh Muhammad Khotib Al-Hambali dari Madinah dan Syekh Khotib As-Sambasi, Syekh Yusuf Sumbawani dari Indonesia yang bermukim di Mekkah. Tidak sampai di situ, beliau pun melanjutkan belajarnya hingga ke Mesir dan Suriah.

Setelah sukses belajar, beliau menjadi guru di Masjidil Harom selama 30 tahun. Diantara anak didiknya yang kemudian dikenal oleh bangsa dan umat Islam Indonesia sebagai ulama besar adalah KH. Kholil (Bangkalan), KH. Tubagus Muhammad Asnawi (Caringan Jawa Barat), KH. Hasim Asy’ari (Tebu Ireng Jombang Jawa Timur), KH. Asy’ari (Bawean), KH. Najihun (Kampung Gunung Mauk Tangerang), KH. Asnawi (Caringin Labuan Pandeglang Banten), KH. Ilyas (Kampung Teras Tanjung Karagilan Serang Banten), KH. Abdul Ghoffar (Tirtayasa Serang Banten), KH. Tubagus Bakri Sempur  (Purwakarta).

Syekh Muhammad Nawawi tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai fuqaha dan hukama generasi terakhir. Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama Hijaz, Imam Al-'Ulama' Al-Haramain, guru besar pada Nasrul Diniyah di Mekkah, dan mempunyai peran penting dalam memutuskan hukum-hukum fiqih di kawasan kota suci itu. Dan semua ikut berduka cita, beliau wafat pada tahun 1314 H bertepatan pada tahun 1897 M. Di tempat kediamannya di kampung Syi’ib Ali Mekkah, jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Ma’la Mekkah, berdekatan dengan makam Ibnu Hajar dan Siti Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau wafat pada saat sedang menyusun buku yang menguraikan Minhaj ath-Thalibin-nya Imam Yahya bin Syaraf bin Mura bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah Hujam An-Nawawi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum'at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara Haul untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar