Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BELAJAR DENGAN KATA "CUKUP"

                                              Oleh: Mutiara Rizqy Amalia


Awan kelabu mengiringi perjalananku bersama motor kesayangan pemberian bapak, angin sepoi turut mempercantik sekitar hingga kerudungku tersingkap, untung saja aku memakai pengaman kepala. Motorku ikut goyang sebab hempasan angin. Dedauan dan ranting pohon saling sapa satu sama lain, suaranya terdengar sangat elok.

Lelangit semakin abu pekat, aku takut jika air tiba-tiba menghujani diriku. Kutancap gas motor menerjang lubang-lubang sepanjang jalan. Dari kejauhan terlihat lampu lalu lintas tegak menjulang, lampunya sedang berwarna merah, tandanya remku harus bersiap untuk menahan gas motor.

Kuberhenti tepat di barisan pertama, samping mobil mewah berwarna hitam elegan, kaca mobilnya mulus dan mengkilap, badanku terlihat jelas terpantul di kaca mobil itu, dan aku numpang berkaca beberapa detik hehe.

Tak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara terompah, bunyinya aneh. Kulihat sekeliling tapi belum menemukan dimana sumber suara tersebut. Setelah aku menoleh ke kiri, ada orang kurus tinggi menjulang membawa buntelan kresek hitam kecil di tangan kanannya.

Dari orang tersebut sumber suara terompah terdengar jelas di telingaku, suara aneh itu dari langkah kakinya. Ia berjalanan cepat hanya menggunakan satu kaki yang menopang tubuhnya, tanpa tongkat sebagai penyangga berat badannya. Begitu kuat dan cepat ia berjalan, bahkan seperti lari.

Terus saja kupandangi orang tersebut berjalan menyusuri jalan, ternyata tangan kirinya juga tak ada. Lantas bagaimana ia menjalani aktivitasnya? Bekerja? Belajar? Beribadah?

Terlihat dari raut wajahnya yang menerima keadaan, tanpa ada tanda ia memberontak kepada Tuhan. Andaikan hatinya tak sekuat baja, bisa saja ia berada di sampingku sambil menengadahkan tangan.

“Duh gusti, perbuatanku dalam mengarungi hidup tak sebanding dengan yang ia perbuat. Aku hanya manusia yang terus berleha, tanpa sadar membiarkan badan ini meninggalkan kewajibannya sebagai seorang hamba.” Gumamku.

Aku yakin, semesta akan menaungi siapapun yang mampu berlapang dada atas segala kejadian yang menimpa. Semesta hadir menyuguhkan berbagai macam tanda kebesaranNya untuk kita ambil sebagai pelajaran atas kehidupan.

Lantas apa yang telah kita perbuat kepada diri sendiri? Membiarkannya menjadi mayat hidup ataukah seorang  hamba yang selalu mengharap uluran tangan dari Tuhan. Menjadi manusia yang bermakrifat atau bungkam terhadap semesta.

                Manusia yang selalu merasa kurang atas seluruh nikmat yang menghujaninya, selalu tak merasa betapa luar biasanya rejeki yang selalu menaungi setiap jalan yang disusuri. Namun acap kali manusia hanya terdiam dan terpaku pada kekurangan yang ada pada dirinya, lupa akan sejatinya hamba yang seharusnya selalu berucap syukur atas segala limpahan rahmat yang mencucuri dirinya.

            Wahai hati, meluaslah seluas samudera agar engkau tau betapa banyaknya nikmat ataupun kesedihan namun engkau tetap saja menerima dan mencoba menaungi apa saja yang berada dalam dirimu. Cobalah kau rengkuh agar kebahagiaan sadar akan betapa banyak nikmat atas keberadaannya. Merasa cukup adalah sesuatu yang perlu senantiasa kita latih dan dipelihara dalam diri. Karena Allah akan selalu ada dalam setiap jatuh bangun kita. Iso iso hehe..


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar