Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BEDA BAHASA


Oleh: Hilmi Gholi Hibatulloh


       Terlihat seorang anak laki-laki turun dari bus dengan membawa barang bawaan yang sangat banyak. tampak sekali dirinya kelelahan seusai melakukan perjalanan yang jauh.

“Duh ... kota ieu panas pisan, janten kuring haus. Bayu teu acan sumping, cenah bade angkat” Keluh fakhri sambil memegangi lehernya, dan melihat sekeliling mencari penjual minuman. Tidak jauh dari tempat fakhri berdiri terlihat penjual minuman, dan fakhri berjalan menuju  penjual minuman tersebut.

“Pak, meser hiji inuman!” Sambil mencari dompet yang diletakan dalam tasnya.

“Opo mas, aku ra ngerti sampeyan ngomong opo?” Melihat Fakhri dengan raut wajah kebingungan.

“Naon anu anjeun carioskeun, abdi henteu ngartos, Pak.”

“Waduh kowe ki ngomong opo to, iki neng jowo kowe gae bahasa opo?”Muka penjual minuman sedikit cemberut menahan amarah.

“Wah Pak naon deui anu anjeun carioskeun, kuring henteu ngartos, Pak.” Fakhri menimpali sambil menelpon Bayu, teman kuliahnya yang tinggal di kota ini.

“Ngomong pake bahasa indoneaia mas kalo ndak ngerti bahasa jawa, di sini jawa mas, masnya ngajak omong orang pake bahasa apa?” Menjawab dengan nada yang sedikit tinggi brusaha menahan amarah.

“Maaf, maaf ...pak kebiasaan. Soalnya gak pernah keluar daerah saya, baru kali ini jadi lupa gak pake bahasa Indonesia.” Fakhri menundukan kepalanya berusaha minta maaf kepada bapak penjual minuman.

Tiba-tiba dari belakang tampak seorang pemuda menghampiri dengan berlari kecil lalu menepuk pundak Fakhri yang sedang meminta maaf kepada bapak penjual minuman.

“Napa kau ri nunduk-nunduk?” Fakhri terkejut mendengar suara yang terdengar dibelakangnya lalu menoleh dan melihat orang yang menepuknya, ternyata bayu yang sedari tadi dia tunggu.

“Owh yu…yu…, dari tadi kutunggu baru datang kamu" Berbalik dan menyalami bayu.

“Ini loh yu, aku minta maaf ke bapaknya. Gara -gara kebiasaan dirumah lupa kalo lagi dijawa sekarang. Aku ajak ngomong bapaknya pake bahasa sunda.” Tertawa kecil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Lah kamu ini ada-ada aja. Ngapunten pak rencang kulo niki sanes tiang mriki” Menatap Fakhri sekilas, lalu menundukan kepalanya sambil meminta maaf kepada penjual minuman.

“Ora popo le. Mung dikandani kancane ojo koyo ngunu mameh. Wedine ko salh ngomong karo uwong.”

“Nggeh pak” Bayu kembali menundukan kepalanya untuk meminta maaf.

“Kowe mau sidone lapo, tuku ombe opo gak?” menatap Fakhri yang terlihat bingung dengan ucapanya.

“Wah pak, ngomong apa bapak?”

“Bingung kan? makanya… hahahaha” menertawakn Fakhri yang kebingungan.

“Hehehe, iya pak.” Tertawa dengan canggung.

“Bercanda mas, jadi beli minuman kan?” Bersiap membuat minuman yang dijual.

“Iya pak satu”

Setelah mendapatkan minumanya, Bayu mengajak Fakhri langsung pergi ke rumah dengan mengendarai motor yang dipakainya pergi ke terminal. Motor Bayu meliuk-liuk ditengah keramaian jalanan kota. Dan tidak lama mereka berdua sampai di rumah. Bayu langsung mengajak Fakhri masuk, karena orang tuanya sedang pergi keluar.

       Tidak lama setelah mereka berdua datang, sekitar setengah jam kemudian terdengar suara mobil datang di depan rumah.

“Yuuu...! bukake lawange le” Teriak seseorang dari luar rumah sambil mengetuk pintu.

“Nggeh pak riyen” sambil berlari turun dari kamar yang berada di lantai dua.

       Bayu membuka pintu dan membantu orang tuanya menurunkan barang-barang yang ada dalam mobil. 

“Iki klambine sopo yu, koncomu ono sg nginep ta?” Sambil melihat baju yang tergantung di kamar mandi.

“Nggeh pak wau dzuhur nembe dugi rencang kulo.” sambil meletakan barang-barang bawaan orang tuanya di atas meja dapur.

“Lah sampeyan kok gak ngomong lek kancane pe nginep, ngerti ngono meng tak tukokne lawuh” ucap ibu Bayu yang baru masuk kedalam rumah.

“Supe bu lekne wonten rencang bade mriki” tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.

“Yowes tak masakne sek lek ngunu” berjalan ke dapur sambil membawa bahan makanan yang baru saja dibeli.

       Gerimis turun diluar rumah, pohon-pohon basah terguyur hujan. Jalanan tampak sepi, hanya sesekali terlihat orang lewat. Langit gelap, sesekali terdengar suara guntur yang menggelegar. Suara katak sahut-menyahut nyaring terdengar dibelakang pekarangan rumah Bayu.

“Piye kuliahmu le, ono seng kangelan gak?” Menata masakan di atas meja makan.

“Nggeh ngoten buk, wonten sing gampang wonten seng kangelan.” Mencondongkan tubuhnya ke depan mengambil sayur di seberangnya.

“Lek ono sg angel ojo meneng wae lo takono dosenmu po kancamu.” Mengambil nasi di depanya.

“Nggeh pak”

       Obrolan terus berlanjut dengan lama, akan tetapi Fakhri yang juga ikut bergabung disitu hanya terdiam dan sekali-kali tersenyum sambil menganggukan kepalanya padahal tidak mengerti apa yang temanya dan kedua orangtuanya bicarakan.

“Wah iyo namine sampean sinten mas?” sambil tersenyum.

“Iyya buk” Menjawab dengan kikuk.

“Lho namine iya?” Sedikit ragu dengan jawaban Fakhri.

“Anu buk...” Fakhri terbata-bata, menggaruk kepalanya dengan canggung dan kebingungan.

“Namine anu?” 

“Namine fakhri buk, ngapunten supe sanjang lek fakhri sanes tiang jawa mboten ngertos sanjangane panjenengan” Bayu tertawa mendengar percakapan fakhri dan ibunya.

“Oalah lee, ndak ngomong kaet maeng ngeri ngunu ibu gae bahasa indonesia, sampeyan juga mas Fakhri kalo gak ngerti omong aja.”

“Iya, buk”

“Kalo gitu lain kali tinggal bilang saja kalo misalnya gak tau, biar gak salah paham toh ada bahasa pemersatu kita Bahasa Indonesia, sebagai orang yang tinggal di negara yang sama walaupun berasal dari daerah yang berbeda-beda.” Percakapana berlanjut dengan hangat di ruang makan rumah tersebut, sambil di iringi gerimis yang mengguyur daerah tersebut.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar