Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

All About Hanna 3


Oleh: Nurmiati Habib

Akhir Semester

            Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa akhir semester sudah di depan mata bagi para mahasiswa yang haus akan liburan setelah satu semester sibuk dengan kegiatan kuliah. Begitupun dengan Hanna, ia kegaiatannya masih sama setiap harinya, pagi kuliah siang ke perpus dan sore harus menjadi tutor anak-anak sekolah dasar yang memang butuh dampingan dalam proses belajar mengajar. Semua itu dilakukan Hanna dengan senang hati tanpa ada rsa ngeluh karena yang terpenting dalam hidupnya saat ini ia bisa menghidupi dirinya untuk bertahan hidup di tanah rantau. Ketika liburan semester tiba,Hanna tetep harus berfikir memutar otak untuk bagaimana menghasilkan uang. Akhirnya ia memutuska untuk bekerja sampingan di perpustakaan kampus yang bertugas untuk membereskan buku-buku yang dipinjam mahasiswa dan merapihkannya kembali ke tempat semestinya. Apapun akan Hanna kerjakan dan yang terpenting halal.

            Sorak-sorai melepas akhir tahun dan akhir semester sudah terdengar di penjuru kampus, ada yang puas dengan nilai yang didapatkan, ada juga yang masih harus berurusan dengan dosen untuk memperbaiki nilai di masa enjury time, ada juga gerombolan aktifis mahasiswa yang masih diskusi di saung-saung kampus, dan masih banyak sekali kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus pada akhir semster tanpa terkecuali Hanna dan Sania.

“Han besok udah libur semester nih dan akhir tahun juga, yuk liburan bosen gwe di kos kampus kos kampus. Gitu-gitu mulu hidup gwe kan membosakan, ayuklah jalan-jalan kemana gtu”.

“Gwe gak bisa San, kan Lo tau gwe kerja sampingan di Perpus kampus”.

“Ah gak asik lo, seminggu kedepan libur kali kan hari raya natal sekaligus lanjut tahun baru, masa iya kampus tetep buka, udah kayak kerja apa aja’.

“Iya deh iya gwe usahain untuk beberapa hari ke depan kita jalan-jalan khusus waktu buat kamu, haha udah kayak pacaran aja ya kita berdua”.

“Duh mit amit kali yak gwe pacaran sama lo, bisa-bisa hidup gwe lurus-lurus aja”.

“Hhaaha, asik lah.. mau kemana nih? Kalau bisa jangan di Malang tapi ya jangan jauh-jauh juga, gwe tuh pingin banget gtu ke tempat wisata yang penuh keindahan tapi banyak cerita mistis, dan kita disana memcahkan itu semua. Duh asik banget kayaknya”.

“Gila lo ya, kita tuh mau liburan bukan jalan-jalan ke alam lain, kayak nyawa lo ada sepuluh aja, endingnya takut juga aja pakek sok-sokan pengen jadi kayak detektif gitu, Han..Han..”.

“Ya gak ada salahnya kali ya, berarti imajinasi gwe kuat dong tentang hal-hal kayak gituan, tinggal realisasinya Hahaha”.

“Ya Allah lindungi teman gwe satu ini, cantik-cantik kenapa otaknya gesrek ya Allah, berikan kuasamu agar kembai ke jalanmu”. (ucap Sania sembari wajah yang ngejek”

“Apa-apaan sih lo San, lo kira gwe gila apa yaaaa, Udah deh mau kemana?”. (tanya Hanna)

“Sans dong, gwe kan cuma bercanda, Han lo masih inget Panji kan? yang anak geofisika, dulu pernah deket banget sama kita jaman-jaman maba hits hehe”.

“eh iyaa inget banget lah gwe, sesibuk apapun dia gwe gak bakal lupain kebaikan dia waktu awal-awal gwe datang ke sini, gimana ya kabar dia sekarang, udah lama gwe gak denger kabarnya, Cuma liat instastory dan itupun jarang deh, yaa maklum dia kan orang sibuk, aktifis juga kayaknya ditambah dia tangan kanannya salah satu dosen di jurusannya. Yaudah lah tambah tenggelem tuh Panji di auditorium fakultas HAHAHA”. (jawab Hanna)

 “Dia baik kok, kemaren masih ngechat gwe kan lo tau gwe satu organisasi daerah sama dia, ya walaupun dia jarang kumpul sih, tapi dia masih aktif bales-bales info-info di grup.Dia kemaren bilang ke gwe, kalau dia ngajakin ke Banyuwangi, disana terkenal dengan wisata yang indah juga ditambah dia kakeknya dia asli orang sana kan enak tuh” (tawaran Sania pada Hanna)

“Eh asik tuh,gwe juga belum pernah kesana, kayaknya keren juga gwe kemaren liat di explore wisata-wisata Banyuwangi yang udah mendunia gtu. Terus gwe baca artikel juag kalau disana terkenal dengan mistisnya juga, kayak kemaren tuh kan yang lagi viral ada Festival Santet di Banyuwangi, duh menantang sekali” (ucap Hanna sambil membayangkan semuanya)

“Bener-bener gesrek nih Hanna Mahira, Iya udh lo setujukan kalau kesana? Nanti gwe omongin ke Panji” (tanya Sania)

“Iya gwe setuju, kabarin aja info selanjutnya”.

“Sip dah, udah yuk pulang, ngantuk gwe, semaleman bagadang mikirian Kak Bisma”.

“Kak Bisma lagi, Kakk bisma lagi, heran gwe kenapa sih di otak lu pikirannya Cuma dia doang, kayak gak ada cowok lain aja”

“Dia itu tipe gwe banget Hahahha” (jawab Sania sambil berlari  meninggalkan Hanna)

Dadadadadada Hanna Mahira gwe pulang duluan (sembari melambaikan tangan)

Hari minggu telah tiba, Sania Hanna dan Panji sepakat unuk jalan-jalan ke Banyuwangi di rumah kakeknya Panji. Sejak semalem mereka bertiga sibuk dengan barang-barang yang akan dibawa selama beberapa hari liburan. Pagi-pagi sekali mereka bangun dan menyiapkan kembali barang-barang yang belum disiapkan. Mereka akan berangkat nanti sore mengggunakan kereta dari Stasiun Malang tentunya kereta ekonomi untuk menghemat pengeluaran. Tanpa lupa, Hanna izin kepada oramg tua untuk liburan ke Banyuwangi supaya diberi kelancaran.

Pukul tiga sore mereka berkumpul di stasiun Malang karena harus menukarkan tiket terlebih dahulu dan mengantisipasi agar tidak terlambat. Hanna ke stasiun menggunakan grab, begitupun dengan Sania dan ternyata sampai di Stasiun Panji sudah sampai terlebih dahulu. Disusul dengan Sania dan Hanna yang terakhir sampai karena memang jarak kos Hanna yang paling jauh dari stasiun.

“Gimana kabar panji?, udah lama gak bertemu, sibuk banget sih “. ( Hanna sembari menyalami Panji)

“Baik Han, lo kai Han gwe mah masih sama kayak dulu gini-gini aja”. (jawab panji sembari bergumam lo makin cantik aja Han). Sebenernya dulu Panji suka sama Hanna, tapi karena Panji tau kalau Hanna punya prinisip kalau kuliah yang paling penting dan gak mikirin dulu perihal perasaan. Udah deh jadinya panji mundur secara perlahan sebelum mengungkapkan.

 “Bisa aja lo Nji, lo tuh yang sibuk, tiba-tiba ngilang,”. (ejek Hana)

 “Ehemmmm, please disini masih ada manusia lain selain kalian” (Sindir Sania)

“Eh iyaa “ (jawab Hanna dan Panji secara bersamaan)

“Tuh kan, Please ya kita liburan bertiga, gwe gak mau jadi obat nyamuk diantara kalian, Stopppppppppp” (kata Sania)

“Udaah lah, apa sih ini,, Gwe udah cetak tiket kalian. Kita tinggal nunggu keretanya dateng dan berangkat, sekitar sepuluh menit lagi” (kata Panji)

            Akhirnya kereta yang mereka tunggu telat tiba di Stasiun Malang. Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, mereka langsung bergegas untuk cek in terlebih dahulu memastikan pesanan tiketnya.Secara bergantian dan masuk satu persatu ke dalam kereta. Karena mereka menggunakan tiket yang ekonomi jadi tempat duduk  yang didapatkan hadap-hadapan. “Han, Lo samping gwe kan?” (tanya Sania). “Iya gwe samping Lo, khawatir banget sih, gwe ilang sambil”. (jawab Hanna sambil menata tas-tas agar cukup untuk penumpang lain)

            Sembari menunggu kereta diberangkatkan, mereka bertigapun bersenda gurau menceritakan apa saja dari hal yang menarik sampai absurd  terutama tentang Panji yang seneng banget ngilang. Sambil memakan snack yang telah dibeli, sembari melihat orang lain yang sedang memasuki kereta, ada yang membawa anak, ada yang menenteng koper,kardus dan masih banyak lagi. Ditengah suasana yang sedang asik, tiba-tiba ada yang berjalan ke arah mereka bertiga dan menanyakan “Maaf mas mbak, kursi 9D yaa, saya disini” tanyanya “Oh iya mas, disini disampingku” (jawab Panji)

            Selang beberapa menit dari itu, keretapun jalan menyusuri rel kereta yang memang sudah mengetahui rutenya. Pemandangan hempasan sawah yang begitu memanjakan mata membuat mereka seperti menikmati perjalanan ini. Tanpa disadari maghrib telah tiba yang menandakan waktu sholat telah datang. Hannapun mengawali untuk ke toilet terlebih dahulu semabri berkata “Guyss, misi gwe ke toilet dulu yaa, udah maghrib sholat yuk”. “Iyaa Lo duluan”. (jawab Panjia dan Sania) Akhirnya satu persatu dari mereka sholat secara berganti. Setelah beberapa jam meraka di kereta, rasa kantuk mulai menyapa dan membuat mereka terlelap hingga satu dua jam setelahnya tanpa terasa sudah sampai di stasiun Banyuwangi yang menandakan kereta telah tiba ditujuan akhir.

            Mereka langsung membereskan barang-barang meraka dan memastikan tidak adanya barang yang tertinggal di dalam kereta serta langsung bergegas keluar kereta, lalu menemui keluarga paman Panji yang memang sudah menunggu sedari tadi di Stasiun. Panji menengok kanan kiri untuk mencari pamannya, dan ternyata pamannya juga sudah melihat Panji dari kejauhan. Panji berlari yang diikuti oleh Sania dan Hanna dan berteriak “PAMAN”. Setelah berhadapan dengan pamannya, panji seketika langsung memeluk pamannya yang memang sudah lama tak bertemu.Hanna dan Sania yang menyaksikan pelepasan rindu antara paman dan ponakanpun ikut menjadi haru.Setelah melepas rindu, paman mengajak mereka untuk beristirahat di rumah.

            Selama beberapa hari kedepan, mereka akan mengahabiskan waktu di  wisata-wisata Banyuwangi untuk mengisi waktu liburan semester, karena semester depan mereka sudah disibukkan dengan tugas akhir skripsi yang pasti akan banyak menyita waktu dan. Wisata pertama di mlai dari mengunjungi Baluran yang memang menjadi salah satu paling diburu wisatawan. Hamparan rerumputan yang tumbuh di sekitar taman yang luas menyerupai padang savana yang begitu indah. Dilanjutkan dengan wisata Alas Purwo yang sangat terkenal menjadi satu tempat wisata yang memiliki tingkat kemistisan, dan ini wisata yang Hanna paling antusias,karena selama ini hanya membaca dari artikel kini ia bisa melihatnya secara langsung dan bisa merasakan seperti apa mitos yang telah berkembang dimasyarakat. Hingga sore hari mereka menghabiskan waktu disana, karena suasana terasa tidak mendukung seperti hendak turun hujan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan mencukupkan perjalanan hari ini.

            Keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan ke wisata pantai, yakni pulau merah. Seharian mereka menghabiskan waktu disana, dari yang bermain air, pasir, bakar-bakar ikan, bercerita kesana kamari dengan alunan musik yang diiring panji menggunakan gitarnya. Rasanya syahdu sekali karena suasana di pantai itu. Suara ombak yang tenang dan alunan petikan gitar yang sangat menyatu menyelaraskan rasa damai di hari terakhir di kota Banyuwangi. Mereka sangat menikmati liburan kali ini yang mungkin menjadi liburan mereka terkahir kalinya sebelum sibuk sidang skrispi, wisuda dan setelah itu mengarungi kehidupan setelahnya. Bayangan semua itu tampak nyata. Di sela-sela mereka duduk berdua di tepi pantai karena Sania sibuk dengan selfie dengan ponakan Panji yang memang sangat menggemaskan.

“Han, apa-apa prioritasmu dalam waktu dekat” tanya panji

“Kenapa lo tiba-tiba nanya gini”

“Ya gak papa, gwe pingin tau aja”

“Saat ini  prioritas gwe cuma satu, gwe pingin cepet sidang skripsi lalu wisuda, disitu gwe pingin liat tangis kebahagiaan orang tua gwe karena telah berhasil mengkuliahkan anaknya karena di daerah gwe masih jarang yang anak yang kuliah, kalau bukan dari keluarga benar bergelimang harta, ya gitu lah lo buat gwe nangis aja kalau cerita tentang orang tua”

“Ya sorry, kan gwe Cuma mau tau, terus tentang perasaan Han”

“bosen gwe setiap sama lo pasti bahasnya itu dan jawabannya masih sama, gwe masih sama dengan Hanna yang dulu, Hanna yang tidak terlalu memikirkan tentang asmara karena ada prinsip yang harus tetap dijaga, tapi gwe gak bisa mastiin itu nyampa kapan bakal gini, intinya gwe mau sidang dan wisuda ulu, kedepannya mau gimana, gwe pasrahin sama Allah”

“Gwe tetep salut sama lo dari dulu sampai sekarang” jawaban Panji sembari bergumam dalam hati gwe tetep suka sama lo Han

            Seharian penuh mereka menghabiskan waktu di pantai itu, karena memang besok harus balik ke Malang dengan berbagai kesibukan yang sudah menunggu. Setelah membereskan semua peralatan yang dibawa ke pantai tanpa lupa membawa sampah kembali, mereka pulang ke rumah kakek Panji untuk beristirahat. Merekapun tidur dengan nyenyak karena rasa lelah setelah seharian bermain di pantai.

            Suara adzan shubuh berkumandang, menandakan manusia untuk melaksanakan kewajiban. Kakeknya Panji membangunkan siapapun penghuni rumah, karena memang beliau orang yang tepat waktu untuk urusan sholat. Hanna yang memang sudah sedari tadi melaksanakan sholat tahajud dan tidak tidur kembali, ia membangunkan Sania untuk sholat berjamaah bersamanya.

“San, bangun sholat”

“Nanti ah Han lima menit lagi, gwe masih ngantuk, Lo gak tau apa gwe kemaren cape banget”

“Heee sama aja lah, lo selalu gitu kalau dibangunin, gwe gelitikin nih kalau gak bangun”

“Eh eh jangan, udah tau gwe gelian, iya-iya gwe bangun”

            Sambil mata yang masih menahan ngantuk, Sania mengambil wudhu di kamar mandi.Setelah itupun mereka melaksanakan sholat subuh secara berjamaah dengan Hanna yang menjadi imamnya. Ya itulah persahabatan mereka, sudah seperti adik kakak. Sering banget berantem tapi kalau gak ada kabar seharian udah pada kangen sendiri-diri. Terlebih Hanna selalu mengingatkan Sania tentang hal-hal baik, tentunya Hanna mencontohkannya terlebih dahulu, karena ia berfikir cara terbaik untuk mensharing hal-hal baik adalah mencontohkannya.

            Pagi haripun menyambut, mereka semua akhirnya sarapan dan lanjut untuk mengamasi baju-baju yang mereka gunakan selama liburan. Setelah selesai semua, mereka berpamitan kepada kakek dan keluarga Panji lainnya.

 “Jangan bosen-bosen nduk maen ke sini, kapan-kapan harus balik lagi”. (kata Kakek)

 “Iya kek, terima kasih sudah menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat selama liburan, insyallah lain waktu jika ada kesempata kita kesini lagi dan kita juga mohon doanya supaya diberi kelancaran dalam menghadapi sidang akhir serta kesuksesan untuk kedepannya”.

 “Iya nduk, semoga kalian diberi kelancaran akan harapan-harapan kalian kedepannya”

“Amiin” (kata Panji, Sania dan Hanna secara serentak)

            Setelah berpamitan mereka langsung menuju ke stasiun karena memang sudah mepet dengan jadwal keberangkatan kereta. Sekitar enam jam mereka di perjalanan dari Banyuwangi ke Malang. Sesampainya di stasiun Malang, mereka menggunakan ojek online untuk sampai di kosan dan inilah akhir dari perjalanan indah di penghujung semester.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar