Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ALAMAT YANG MEMBAGONGKAN


Oleh : Daiyatul Choirot

“bangun, bangun udah jam setengah 8 lho…” 

kata-kata pembuka yang akan menjadi awal cerita kali ini. Mbak Nur yang ingat kalau kita akan berangkat ke tempat ijo-ijoan jam 8 tepat tapi jam setengah 8 pun belum pada yang bangun. 

“krong krong krong” 

kurang lebih seperti itu suara alarm mbak Sahae, meskipun berbunyi sudah hampir 5 kali tapi masih aja gak ada tanda-tanda untuk bangun.

“mbak ini jadi berangkat ta, kok aku gak dibangunin sendiri, aku diajak kan”. 

Suara serak si Liya yang selalu bangun terakhir dan ketinggalan info. Acara itu seakan-akan dadakan tapi terealisasikan dan tanpa persiapan. Entah kenapa ada sedikit rasa gak yakin sama diri sendiri ketika akan berangkat, padahal biasanya kemanapun fine aja. Diawali dengan miskom antara mbak sahae dengan kita, kita yang mengira bahwa pom bensin di seberang namanya pom bensin galunggung, akan tetapi sebenarnya itu namanya pom bensin Tidar. 

“mbak Sahae aku isi bensin dulu ya di Galunggung, kalau mbak mau ngisi juga nyusul ke sana ya tak tunggu”. Kataku.

“okehh nanti aku nyusul kesana, ini bentar lagi udah nyampek kok antrian ngambil uangnya”. Kata mbak Sahae. Dan ternyata kesalahpahaman itu berlanjut sampai di depan kampus UMM. Kita baru sadar kalau mbak Sahae dan partnernya si Riya ketinggalan di belakang, dikarenakan salah menyebut alamat pom bensin pas di awal.

“udah ah yang penting sekarang kita udah ngumpul jadi satu, ayok gass berangcutt gaess keburu panas”, lanjut mbak Yati ketika melihat mbak Sahae dan Riya terlihat menghampiri kita.

Ntah kenapa laju kecepatan anak-anak lambat pakek banget, padahal aku udah menggunakan kecepatan yang pol lambat menurutku, 30 km/jam. “mbak Yati ini anak-anak kok dari tadi gak ada di belakang kita ya, apa kita terlalu cepet ya”. “ntahlah aku kira juga udah pol lambat kita”. Sahut mbak Yati. Sampai akhirnya aku dan mbak Yati memutuskan untuk berhenti kedua kalinya sambil nunggu kedatangan yang lain.

“kok kalian kenceng banget sih jalannya, kita loo jaraknya jauh sama kalian”. Tegur si Zahra.

“maap gaess kirain tadi udah berurutan kita jalannya, eh ternyata pisah jauh hehe”. Jawabku sambil sedikit nyengir biar hati mereka luluh gak marah lagi hehe. Sampai pada akhirnya kita sampai di tujuan yang kita maksud, hijau memang, jangan diragukan lagi, dingin dan hijau adalah khasnya daerah sana, daerah yang sering dibuat destinasi tempat wisata ketika kita berkunjung di kotanya. 

“ayo cepetan yang mau foto, keburu panas cuacanya, kalau minta difotoin satu-satu yang urut, harus antri” suara mbak Sahae yang dikenal handal dalam masalah potret memotret. “ayok 1 2 3 cekrek, ganti gaya, ayok next siapa yang antri foto”. Kurang lebih seperti itu kata-kata mbak Sahae, sampai akhirnya kita memutuskan untuk pulang setelah sekitar 25 menit kita main-main foto gak jelas di sana. 

“kita lewat jalur atas ya gaes, lewat jalan yang berbeda ya hehe” ucap salah satu dari kita, jalan yang kanan dan kiri dipenuhi dengan hamparan alam luas yang bener-bener ijo. Seger banget mata rasanya, setelah sekian lama yang dilihat hanya laptop. 

Tanpa ada tanda-tanda jalan menuju arah pulang, yang kita lihat masih sama, hanya ijo-ijoan, tapi kali ini beda, kita baru saja melewati gapura yang bertuliskan “selamat anda memasuki wilayah hutan”.

“widihhh keren ya mbak hutannya, baru jam 11 siang aja udah kayak malem gelapnya, mana gak ada tiang-tiang buat lampu lagi, kok ini kayak kita aja ya mbak yang berada di dalam hutan ini, dari tadi gak ada kendaraan lewat, hanya satu atau dua motor yang lewat, terus yang temen-temen lain juga mana yak kok gak kelihatan batang hidungnya”. Celetukku Ketika di sepanjang jalan hutan.

Hanya sesekali kita (aku dan mbak Yati) mencium aroma melati, tapi kita saling diam, gak ada yang berani mengungkapkan, tapi entah kenapa aku sudah agak merasa sedikit aneh selama memasuki wilayah hutan dengan aura mistisnya, terkenal mistis memang jangan heran. Dan sampai saat ketika aku mencoba menyelip 2 truk di depanku, agak ragu memang, dengan kondisi jalan turunan tajam dan aku masih nglawan menyelip 2 truk di depanku, dan benar saja, motor yang aku pakai sama mbak Yati remnya blong dua-duanya, ditambah lagi bensin motor kita merah banget, mana gak ada tanda-tanda orang jualan di sekitar situ, gak ada jaringan juga. Sampai pada akhirnya aku mulai melakukan aksiku, menurunkan kedua kakiku guna menahan berhentinya motor karna jalanan yang turunannya curam banget. Sampai aku menemukan ada warung di sebelah kiriku, tanpa pikir panjang langsung kubelokkan motorku ke arah warung.

“kenapa mbak, rem blong ta”, tanya bapak-bapak yang ada di warung tersebut. “iya pak, gimana ya pak, mana dua-duanya lagi yang blong, gak ada bengkel terdekat ya pak” tanyaku. “ ada ,mbak tapi ya gitu, masih jauh, udah duduk sini aja dulu, dibuat istirahat dulu motor sama penumpangnya, itu nanti Kembali lagi kok rem nya, tanpa dibawa ke bengkel, itu gara-gara mesin yang panas aja mbak” kata bapak-bapak yang antusias kepada kita.

Tanpa pikir Panjang, kumulai menenangkan pikiran, berfikir positif, sholat dan mengabari mereka yang belum ada tanda-tanda kalau hampir nyampek di antara kita. Itu merupakan waktu yang sangat-sangat membagongkan bagi kita, kita salah alamat sejauh ini, kesasar, rem blong, bensin abis, pisah sama temen-temen dan anehnya kita baru nyadar kita kesasar nya pas sampai di daerah kota mojo…., Ketika kita berhenti di warung tersebut dan kita beli salah satu cemilan di sana, kok cemilannya tulisannya khas mojo… semua, pasti hanya stokan saja, kita masih di malang kok, suara hati seakan mengatakan begitu, tapi lamunan itu tersadarkan Ketika mbak Sahae membuka map dan benar saja kita sudah berada di beda daerah. Dan ternyata sebelum itu si Zahra mengalami hal yang sama kayak aku, rem blong, bedanya dia masih ada bensin dan masih bisa menghubungi kita di group minta ngejemput. Pikiran udah ke mana-mana, berusaha berfikir positif tapi sulit, lemes dan nyerah adalah pikiranku saat itu, antara nyangka dan gak nyangka apa yang telah terjadi. Hanya ada dua pilihan balik lagi melewati jalan yang serem tadi apa kita lewat jalur yang berbeda tapi jalannya sekitar 5-6 jam. Tapi apalah daya Namanya juga cewek, rasa trauma pasti ada untuk Kembali balik melewati jalan itu, dan keputusan kita ternyata sama, melewati jalan raya yang jarak tempuhnya sekitar 5-6 jam untuk bisa sampai di tempat tujuan kita. Kehujanan dari daerah mojo… sampai tempat tujuan bukan hal yang enak, tangan keriput warna putih, wajah pucet, capek, laper campur jadi satu, hmm ternyata kita nyapu jalan udah sekitar 16 jam. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar