Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Aku dan Seekor Kucing di Bulan Rajab

Sumber : IDNtimes

-Rafi’ Alra-

Tanggal 20 February 2015 tepat usiaku menginjak 15 tahun, usia seorang remaja yang belum mengerti kerasnya kehidupan orang dewasa. Saat itu aku masih tinggal di pondok pesantren.

Namaku Aril. Muhammad Aril gak pake noah. Usiaku sekarang 15 tahun bertepatan pada tanggal 20 February, ya lima hari yang lalu. Dihari itu aku menemukan seekor kucing yang sedang terlantar dan kelaparan. Aku yang kebetulan sedang berjalan menuju sebuah minimarket ingin membeli makanan ringan lalu segera memangku kucing tersebut dan membawanya ke minimarket. Tak lupa aku juga membelikan makanan khusus untuk kucing tersebut karena kasian dengan badan kurusnya.

Setelah membayar belanjaan, aku bergegas pulang ke pondok dengan membawa kucing tersebut. Aku tak langsung memberinya makanan tersebut karena ada sedikit rasa malu dalam diriku ketika berbuat baik didepan umum. Setelah sampai di pondok, aku meletakkan kucing tersebut di dekat gudang. Kupikir gudang adalah tempat ter-aman untuk kucing tersebut, karena tak mungkin sekiranya aku membawa kucing tersebut ke kamar.

Aku segera menghidangkan makanan tadi untuknya. Dia terlihat sangat lapar dan makan dengan lahapnya. Seketika aku sadar bahwa kucing ini usianya belum sampai satu tahun, mungkin baru 5 bulan, pikirku. Kucing tersbut adalah jenis kucing kampung biasa, pantas saja tak ada yang tertarik untuk mengadopsinya. Padahal setiap kucing menurutku lucu. Tak penting dia dari ras apa, seperti manusia, ada dari kita yang terlahir dari keluarga berada dan ada pula yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Kita tidak memiliki hak untuk mendeskriminasi ciptaan Allah SWT.

Setiap hari aku selalu mengecek kucing tersebut dan tak lupa memberinya makan tiga kali sehari. Sesekali saat akhirpekan aku membawanya ke kamar dan memperkenalkannya kepada teman-teman. Untung saja teman-temanku tak ada yang keberatan dengan kucing, bahkan mereka juga berkeinginan untuk membiarkan kucing tersebut untuk berada dikamar. Namun hal tersebut mustahil, karena pihak pondok melarang santri untuk membawa hewan peliharaan.

Kucingnya sangat lucu, dia tergolong aktif dan suka bermain. Oleh karena itu setiap kali aku kecapekkan setelah mengaji, aku selelu menemuinya untuk sekedar melepas penat. Kadang aku berpikir ingin menjadi seperti seorang sahabat Nabi SAW yakni Abu Hurairah R.A yang terkenal sebagai bapak kucing. Kisahnya membuatku tambah bersemangat merawat kucing ini, meskipun aku kadang ragu apakah kucing ini akan panjang umur atau tidak.

Sekarang adalah bulan Rajab dan dua hari lagi adalah hari memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj. Aku sangat bersemangat, karena pada hari itu pondok libur. Namun tidak sepenuhnya libur, karena pada hari itu akan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bertemakan Isra Mi’raj. Aku tetap senang dan bersemangat karena malamnya akan diadakan makan-makan besar bersama seluruh santri.

Tepat hari ini adalah tanggal 27 Rajab. Setiap santri sibuk dengan setiap kegiatan yang ada. Ada berbagai macam perlombaan, tapi aku tak mengikutinya satupun. Aku lebih memilih menonton dan sesekali menumui kucingku digudang. Meskipun hari ini penuh dengan kegiatan, aku takkan lupa memberi kucingku makan. Saat memberinya makan kali in aku merasakan sebuah perasaan sedikit tidak nyaman. Ada yang mengganjal dalam diriku dan aku tak begitu memahaminya.

Saat malam tiba aku bergegas bersama santri lainnya pergi kelapangan. Kami semua berkumpul disana untuk mendengarkan pengumuman pemenang lomba dan acara makan bersama. Seperti biasa, hal yang paling membosankan bagiku ketika ada acara besar adalah terlalu banyak kata-kata sambutan. Tapi mau gimana, demi bisa makan gratis aku rela menungga lama.

Saat pengumuman pemenang lomba telah selesai dan pada akhirnya acara yang kunantikan tiba juga. Aku akhirnya bisa menikmati nasi kotak yang berisi ayam goreng dan sayur-sayuran. Aku makan dengan lahap. Jarang-jarang bisa makan ayam karena ketika makan dikantin aku lebih memilih makan tahu tempe agar bisa lebih hemat.

Ketikaacara telah selesai, aku bergegas balik ke kamar. Di perjalanan aku menemukan satu bungkus nasi kotak yang masih utuh. Aku berpikir ini adalah rezeki yang gak boleh ditolak. Aku seketika berpikir untuk memberikan nasi ini untuk si kucing. Aku lalu putar arah menuju gudang menemui kucingku. Ternyata dia suka ayam, aku baru pertama kali memberinya ayam. Saat memberinya makan kali ini, aku kembali merasakan perasaan yang sama seperti tadi siang, perasaan yang takku mengerti. Selesai memberinya makan aku segera kembali ke kamar agar bisa segera tidur.

Pagi harinya setelah sholat subuh, aku kembali merasakan perasaan aneh itu lagi. Aku segera menemui kucingku. Anehnya ketika sampai di gudang aku tak menemukannya. Kucari disekitar gudang dan aku tetap tak menemukannya. Aku berpikir dia telah menemukan majikan baru dan berpindah tempat. Aku sedikit sedih karena kucing yang ku rawat lebih kurang tiga bulan itu pergi meninggalkanku.

Keesokan harinya, perasaan-perasaan aneh tersebut kembali menghantuiku. Aku bingung dan tak mengerti dengan perasaan ini. Namun perasaan ini mengarahkanku untuk terfokus pada sebuah pot bunga kosong ditepi sungai didekat gudang. Aku penasaran dan segera mendekati pot tersebut. Setelah sampai dan melihat kedalam pot bunga tersebut, sesuatu yang tak pernah ingin kulihat selama ini seolah datang menghampiriku. Pemandangan dimana dadaku terasa sesak dan tak pernah ingin membayangkan hal ini. Aku menemukan kucingku yang hilang kemarin tergeletak tak bernafas di dalam pot tersebut. Seketika aku tersadar dengan perasaan aneh yang selalu menghampiriku baru-baru ini. Aku tau kalau seekor kucing ketika mendekati ajalnya dia akan pergi menyendiri, namun aku tak pernah berpikiran mengenai hal itu. Aku hanya berpikir kalau dia pergi meninggalkanku dan menemukan majikan yang lebih baik dariku.

Setelah itu, aku lalu mengambilnya dan segera menguburkannya. Aku hanya tak menyangka, pertemuanku dengannya saat memberi makan malam itu adalah pertemuan terakhirku. Meski sedih, tapi aku cukup tenang bahwa akhirnya dia sekarang cukup tenang dan akan selalu kenyang. Dia tak perlu menahan lapar lagi untuk menungguku memberinya makan. Aku senang karena pernah merawatnya meskipun dalam satu sisi aku merasa gagal. Terimakasih cing semoga kamu menceritakan cerita tentang kebaikanku kepada Tuhan, hehe. Aku yakin kamu sekarang sudah sangat tenang karena kamu adalah hewan kesayangan Nabi. Aku ingin merawatmu kembali di Surga nanti. See you cing J.

-Tamat-

Malang, 11 Maret 2021

 Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar