Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

URGENSI SIKAP REALISTIS DALAM IDEALISASI RESOLUSI


 

Oleh: Muhammad Anis Fuadi

        Di tengah hingar bingar Tahun Baru 2021 Masehi ini, membuat resolusi merupakan perkara yang lumrah dilakukan oleh para kaum idealis. Idealnya pada setiap pergantian tahun, mereka akan membuat refleksi untuk tahun kemarin dan resolusi untuk tahun yang akan datang. Hal ini dilakukan guna mencapai suatu tujuan, sebagaimana arti kata resolusi yang berarti suatu putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan suatu hal. Diharapkan dengan membuat sebuah resolusi, maka keseharian selama setahun ke depan akan berjalan lebih tertata dan dapat berorientasi pada tujuan. Namun, sebuah resolusi tidaklah selalu berhasil. Terkadang seseorang justru gagal mewujudkan resolusi yang telah direncanakannya untuk setahun ke depan. 

        Salah satu penyebab gagal terwujudnya resolusi adalah kurangnya sikap realistis dalam formulasi resolusi. Ketika merancang sebuah resolusi, seseorang merencanakan suatu hal yang terkesan muluk-muluk. Sebagai contoh ketika seorang mahasiswa mengungkapkan bahwa dirinya memilki resolusi untuk menjadi presiden di tahun 2021, maka jelas hal ini tidak dapat dikategorikan dalam resolusi yang ideal. Contoh lain seperti seorang pemuda yang memiliki resolusi untuk dapat menghasilkan omset 10 Milyar dalam setahun tanpa tujuan yang jelas. Hal ini juga kurang baik karena menyebabkan tidak adanya keseriusan dalam mewujudkan resolusi. 

        Dari dua contoh sederhana tersebut, nampak bahwa sikap realistis amatlah penting untuk menyusun sebuah resolusi. Resolusi yang terlalu berlebihan justru meningkatkan presentase kegagalan. Untuk melakukan suatu hal yang besar, satu tahun bukanlah waktu yang panjang. Setidaknya, resolusi yang kita rancang adalah sesuatu yang wajar dilakukan selama satu tahun. Maka membedakan antara resolusi dengan impian atau cita-cita sebenarnya adalah sesuatu yang tak kalah penting. Seyogyanya resolusi cukup memuat suatu hal yang mampu dicapai dalam jangka waktu satu tahun. Sedangkan cita-cita, perlu kita sadari adalah suatu hal yang harus diraih melalui proses yang panjang. Dan resolusi, merupakan langkah kecil dalam menggapai cita-cita. 

        Adapun dalam menentukan resolusi, bukan berarti kita cukup dengan hanya merencanakan resolusi yang rendah dan mudah dicapai saja. Sangatlah rugi jika sebenarnya effort atau energi yang kita punyai sebenarnya tinggi, namun resolusi yang ingin kita capai rendah. Kembali lagi bahwa sikap realistis diperlukan dalam menentukan sebuah resolusi. Dengan sikap realistis, maka antara energi dengan resolusi akan dicapai suatu hasil yang optimal. 

        Resolusi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan jatuh semangat dan berujung tidak berani melakukan suatu gebrakan dalam mencapai resolusi. Sebaliknya resolusi yang terlalu rendah dapat menumbuhkan sifat terlalu percaya diri yang juga justru dapat menghancurkan diri sendiri. Selain itu, perlu diingat sesudah menentukan resolusi yang telah sesuai dengan kemampuan kita, bukan berarti bahwa resolusi yang telah tersusun rapi tidak dapat diubah lagi. Suatu rencana yang baik adalah rencana yang relevan digunakan dalam berbagai situasi. Perkembangan zaman yang cepat menuntut kita untuk mudah beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru. Tujuan mungkin saja tidak berubah, tapi strategi dan cara yang digunakan bisa dirubah. Sebagaimana perkataan dari Bruce Lee: "Be water my friend".



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar