Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TUDUHAN KEPADA USMAN BIN AFFAN SEBAGAI KHALIFAH NEPOTISME

Sumber image: http://pesantrennuris.net/wp-content/uploads/2019/06/gambar-2.jpg

Muhammad Hadiyan el Ihkam

               Setelah Rasulullah Saw wafat, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Abu Bakar. Khalifah kedua adalah Umar bin Khattab. Lalu Umar digantikan Usman sebagai khalifah yang ketiga. Usman menjadi khalifah selama 12 tahun (644-656M). Usman merupakah khalifah paling lama dalam mengemban amanah dibandingkan dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib. Selama beliau memimpin umat Islam banyak prestasi-prestasi yang diraih. Misalnya, pembukuan Al-Quran sera standardisasi bacaan. Karena wilayah Islam semakin luas serta pemeluk agama Islam juga banyak dari non-Arab. Hal ini lah yang menyebabkan perbedaan bacaan Al-Quran di setiap wilayah. Karena orang Ajam (non-arab) tidak memiliki dzauq bahasa Arab.

            Namun di masa akhir Khalifah Usman memimpin, banyak terjadi pertikaian semakin lama semakin rumit untuk diselesaikan. Banyak rakyat yang tidak puas dengan kebijakan-kebijakan Usman. Beliau banyak mengangkat kerabat dekat untuk dijadikan gubernur maupun yang lain. Beberapa gubernur yang menjabat ketika khalifah Usman adalah Muawiyah bin Abi Sufyan, Abdullah bin ‘Amir bin Kuraiz, Al Walid bin Uqbah, Sa’id bin ‘Ash, Abdullah bin Sa’ad, dan Marwan bin Hakam. Dari beberapa gubernur tersebut, ada yang mengklaim bahwa Usman telah melakukan nepotisme, yaitu tindakan memilih kerabat dekat untuk memegang pemerintahan. Tuduhan ini digencarkan beberapa tokoh yang akhirnya membuat situasi pemerintahan tidak kondusif.

            Usman diangkat menjadi khalifah tidak serta merta mencopot semua gubernur yang telah diangkat oleh Umar bin Khattab. Alasan Usman mencopot jabatan gubernur adalah sesuai dengan wasiat Umar bin Khattab. Yaitu, tidak mengangkat gubernur dalam jangka waktu lebih dari setahun dan untuk Abu Musa Al-‘Asyari selama empat tahun. Semua kebijakan Usman merupakan hasil dari musyawarah dengan para sahabat yang lain.

            Namun, banyak tuduhan nepotisme yang dilontarkan kepada Usman bin Affan. Padahal jika diteliti lebih dalam, gubernur yang diangkat Usman memiliki kepiawaian dalam memimpin. Tidak diragukan lagi, karena Usman memiliki cara tersendiri dalam menilai serta mengawasi kinerja para gubernur. Di antaranya, bertanya kepada orang-orang yang melakukan ibadah haji; bertanya kepada orang yang datang dari berbagai negeri dan wilayah; menerima surat laporan dari masyarakat; mengirim penyidik ke berbagai wilayah; berkunjung langsung ke berbagai wilayah dan menyelidiki keadaannya; meminta utusan wilayah yang datang untuk bercerita tentnag pemimpin dan gubernur mereka; mengundang para gubernur dan bertanya tentang kondisi daerah mereka; berkirim surat dengan para gubernur.

        

Berikut adalah pengangkatan pejabat yang dianggap nepotisme,

1.      Mu’awiyah bin Abi Sufyan, merupakan sepupu Usman bin Affan. Mu’awiyah diangkat sebagai gubernur Syiria atas pengangkatan dari Khalifah Umar bin Khattab. Lalu di masa pemerintahan Usman gubernur Syiria tetap dipegang oleh Muawiyah. Usman tidak mencopotnya melainkan tetap menjadikannya sebagai gubernur Syiria. Usman hanya melanjutkan dari pendahulunya.

Mu’awiyah mampu menjadi seorang pemimpin yang cakap. Hal ini terbukti ketika beliau menyelesaikan konflik antara Arab Utara dengan Arab Selatan. Pencapaian Mua’wiyah yang lain adalah, Usman memerintahkan untuk membentuk pasukan angkatan laut. Kebijakan ini guna untuk menghadapi pasukan Byzantium. Peperangan ini dikenal dzatis sawari. Disebut demikian karena peperangan ini terjadi di Laut Tengah menggunakan banyak kapal hingga mencapai 1000 kapal.

2.      Abdullah bin Sa’ad Abi Sahr. Usman mencopot jabatan Amr bin Ash sebagai gubernur Mesir lalu Abdullah bin Sa’ad menggantikannya. Sebelumnya, Abdullah bin Sa’ad menjadi pembantu utama dari Amr bin Ash. Oleh karena itu, patut diduga bahwa beliau telah menguasai Mesir sebelum diangkat jadi gubernur. Sebagai wakil gubernur, beliau dapat mengusir orang-orang Byzantium dari Alexandaria pada tahun 646 M. Selama karirnya sebagai gubernur, beliau berhsil menghancurkan pasukan-pasukan Gregorius di Sbaitla di Utara Tunisia pada tahun 647 M.

Dalam masalah suksesi kepemimpinan di Mesir dari Amr ibn Ash kepada Abdullah perlu diperhatikan bahwa Amr ibn Ash telah pernah diberhentikan oleh Umar dari jabatan gubernur. Jadi pergantian jabatan gubernur dari tangan Amr ibn Ash kepada Abdullah ibn Sa’ad bukanlah penggantian dari tangan orang yang diangkat oleh Umar ke tangan orang yang diangkat oleh Usman. Kedua-duanya adalah resmi diangkat khalifah Umar. Dengan demikian tidaklah dapat dituduhkan bahwa Usman melakukan kebijaksanaan pembersihan terhadap personalia-personalia yang diangkat oleh Umar.

3.      Sa’id ibn al-Ash, merupakan kemenakan Usman, yang memangku jabatan gubernur Kufah adalah panglima yang mendapat nama harum di front Azerbaijan. Dalam menghadapi front ini beliau dibantu oleh al-Asy’as ibn Qois, seorang pemimpim kaum riddah. Hal ini salah satu unsur pula bagi terjadinya gejolak-gejolak di kalangan ahl al-Qurra’, yang berakhir dengan dilakukannya kup atas kepemimpinan Sa’id. Sehingga pada tahun 655 M. atas persetujuan Usman, Sa’id digantikan oleh Abu Musa al-Asy’ari.

4.      Abdullah ibn Amir yang menjabat gubernur di Bashrah adalah panglima yang mendapat nama harum dalam peperangan di Khurasan pada tahun 651-653 M. Dia juga menerima penyerahan Heart, Merv dan Balkh dan yang menumpas habis sisa-sisa kekuasaan Yasdigird III, raja Sasaniah yang terakhir.

5.      Marwan ibn al-Hakam, yang menjabat sebagai Sekretaris  Negara dan penasehat pribadi Usman adalah seorang yang cerdas dan berani. Dia banyak membaca al-Qur’an dan banyak pula merawikan Hadis , khususnya dari Usman, Umar dan Zaid ibn Tsabit. Dalam masa pemerintah Mu’awiyah beliau dua kali menduduki jabatan gubernur di Hijaz. Marwan ini kemudian menjadi khalifah yang keempat dari dinasti Amawiyah yang memerintah  pada tahun 684-686 M. Sejak anaknya yang bernama Abdul Malik memangku jabatan khalifah sampai masa akhir kekuasaan dinasti Amawiyah, semua jabatan khalifah dipangku oleh anak keturunannya. Oleh karena itulah periode pemerintahan bani Umayyah sejak Marwan sampai akhir, dalam sejarah diberi nama juga periode Marwaniyah.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan, Usman bin Affan yang sebelum memangku jabatan khalifah tidak pernah terlihat berambisi politik, bisakah orang yang seperti ini di saat tuanya menjadi orang yang haus kekuasaan yang karenanya menganut nepotisme? Pertanyaan yang paling penting. Bisakah seorang koruptor, serakah, tidak amanah, nepotis dan menyalahgunakan kekuasaan masuk surga? 

Sumber

Ash Shalabi, Ali Muhammad. (2017). Biografi Usman Bin Affan. Jakarta: Ummul Qura.

Gunawan, Syafri. (2018). Profil Usman Bin Affan dan Pemerintahan Nepotisme, dalam    Jurnal Al-                Maqosid IAIN Padangsidimpuan. Vol 4. No 2, Hal. 30-45, Desember          2018.

Hasibuan, Armyn. (2018). Menyikapi Nepotisme Kepemimpinan Usman Bin Affan,          dalam jurnal Hikmah IAIN Padangsimpuan, Vol 12, No 2, Hal. 327-345, Desember         2018.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar