Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TRADISI TABUIK DI KOTA PARIAMAN

https://draft.blogger.com/u/3/blog/post/edit/5967421269097762484/7902704435960977953#


Oleh: Rafi’ Alra

        Ada yang tau dengan tabuik? Ya sebuah tradisi atau budaya yang ada di Pariaman. Pariaman merupakan salah satu kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Tabuik (tabut: Bahasa Indonesia) merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan satu kali dalam setahun di daerah Pantai Pariaman yang dilaksanakan dalam rangka memperingati kematian cucu Nabi Muhammad SAW.
            Menurut sejarah, Tabuik ini berasal atau dibawa oleh orang India yang tergabung dalam pasukan Islam Thamil di Bengkulu tahun 1826, di bawah kekuasaan Thomas Stamford Rafles dari kerajaan Inggris. Lalu setelah perjanjian London 17 Maret tahun 1829, Bengkulu kemudian dikuasai oleh Belanda dan Inggris menguasai Singapura. Hal ini lah yang menjadi penyebab pasukan Islam Thamil Bengkulu akhirnuya menyebar dan diantaranya sampai ke Pariaman.
        Menurut Bagindo Zamzami (seorang perantau Pariaman yang menetap di Sulawesi Selatan) di Pariaman tradisi merayakan Tabuik tetap diadakan dengan menggelar ritual kisah kematian tragis cucu Nabi Muhammad SAW dalam perang Karbala. Sakralnya prosesi Tabuik ini pada dasarnya untuk memperingati peristiwa kematian Hosein bin Ali yang mengenaskan atas kekejaman raja zalim. Tradisi ini selalu digelar oleh masyarakat Pariaman setiap tahunnya.
        Yang dinamakan tabuik yaitu sejenis hewan berbadan kuda dan berkepala manusia, sayapnya lebar dan ada peti jenazah pada pundaknya dan berhias payung mahkota warna-warni. Ada yang menyebut bahwa hewan berbadan kuda tersebut merupakan ilustrasi dari bouraq. 
        Tradisi tabuik dimulai dari aktivitas mengambil tanah pada petang hari tanggal 1 Muharam. Puncaknya terjadi di tanggal 10 Muharram yang dari pagi mulai diarak kejalan dan dihoyak sepanjang hari. Hoyak tabuik berlangsung hingga sore hari dan diusung secara perlahan menuju pinggir pantai seiring turunnya matahari. Tepat pada pukul 18.00 WIB ketika sunset memancar, tabuik dilempar kelaut oleh kelompok anak nagari Pasa dan Subarang ditengah kerumunan pengunjung.
        Yang menarik dari tabuik ini ialah sejak tanggal 1 sampai 10 Muharam selalu diisi dengan persiapan-persiapan pesta tabuik sampai menuju acara puncak pada tanggal 10 Muharam. Begitupula dengan pengunjung yang setiap tahunnya yang selalu memadati kota Pariaman untuk menyaksikan tradisi pesta tabuik.
           Setiap tahunnya, banyak dari masyarakat seluruh Sumatera Barat berdatangan ke Pariaman untuk melihat tabuik, bahkan dari seluruh nusantara dan turis mancanegara juga turut hadir memeriahkan tradisi tabuik atau prosesi pesta tabuik. Kepadatan pengunjung ini mulai dari pantai gondoriah sampai dengan pantai kata. Mereka rela berdesak-desakan satu sama lain demi mengikuti setiap rangkain acara dihari puncak.

Source by: http://www.pariamantoday.com/2012/06/sejarah-tabuik-dan-raminyo-pariaman.html#:~:text=MENURUT%20sejarah%2C%20Tabuik%20berasal%20dari,Stamford%20Rafles%20dari%20kerajaan%20Inggris.&text=Sejak%20itulah%20perayaan%20Tabuik%20mulai,hingga%20menjadi%20budaya%20masyarakat%20Pariaman.


Pondok Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar