Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

THE SECRET OF QUR'AN



 Oleh: Syifaul Fajriyah

Fajar menyingsing di balik gunung, burung bersenandung ria menjadi backsound pagi itu, hingga udara yang membuat bulu kuduk berkontraksi karena dingin yang tak tertahankan. Pagi ini menjadi kenangan kelam dalam hidupku. Sosok yang ku jadikan surya penerang langkahku kini telah pergi. Tuhan telah membawa sosok yang ku panggil “Ayah”. Jahat sekali mentari, ia masih terlihat gagah bersinar di kala hati ini berduka. 
“Aaagghhhh!!!”

Luapan amarah pun ku lepaskan, namun tak melegakan. Entah siapa yang harus ku salahkan, dan entah kepada siapa amarah ini ditujukan. Bodohnya aku, yang tetap terdiam merintih di ladang belakang rumah, sedangkan ayah menungguku untuk melantunkan ayat suci Al-Qur’an yang dikhususkan untuknya. Aku pun bergegas mengusap air mata, mengambil wudhu, dan berlari menuju ruang tengah. Ku lihat banyak bola mata yang tertuju kepadaku menyiratkan rasa empati. Ku coba untuk tegar, demi menguatkan ibu dan Idris. 

“ Ila hadrotin nabiyyil musthofa……” 

Tawasul ku lantunkan dengan lirih. Ku duduk bersila dengan mengangkat Qur’an. Ku menundukkan kepala agar tiada orang yang tau bahwa air mataku tak terbendung lagi. Tiba-tiba ku teringat mimpi ayah, ia ingin anak-anaknya menjadi ahli Qur’an.

*
Enam minggu kemudian,

“Zahra, Idris... Bisa bantu ibu di ladang.” Panggil ibu yang menghentikan lantunan Qur’anku.

“Shodaqallahul ‘Adziim... baik bu. Zahra ambil camping dulu ya.”

Ladang dan gubuk adalah salah satu warisan yang ayah tinggalkan untuk ibu, aku, dan adik laki-lakiku, idris. Dan kami tak pernah mengeluh dengan apa yang kami miliki, karena didikan ayah telah mendaging. Rasa syukur dan sabar yang selalu ia ajarkan tak ikut pergi bersamanya. Impian ayah membuat semangatku untuk menghafal Qur’an semakin membulat. Inilah yang akan ku persembahkan untuknya dan ibu.

“Kakak!!! Kenapa sih ngelamun sambil lihat atap rumah?” Kejut Idris yang mengikuti kemana bola mataku tertuju. 
Kami pun bergegas menghampiri ibu di ladang. Ladang ini tidak luas, hanya berisi sayur mayur untuk mengenyangkan cacing-cacing di perut. Sedangkan untuk membayar sekolah kami, ibu bekerja serabutan dari ladang ke ladang. Jika ada waktu longgar, aku dan Idris pergi membantu. Terkadang, ibu marah ketika kami pergi ke ladang terlalu sering. Pikirnya, kami akan lupa dengan belajar jika sudah nikmat dengan uang. Sosok perempuan yang berusaha menggantikan posisi kepala keluarga di rumah ini membuat ku merasa gairah untuk membahagiakannya. Oleh karena itu, aku diam-diam tanpa sepengetahuan ibu bekerja serabutan. Ku jadikan senandung Qur’an yang ku hafal sebagai teman untuk melenyapkan rasa lelahku.

*
Dua Tahun sejak kepergian ayah, aku telah menginjak kelas akhir dari Madrasah Aliyah. Hafalan yang sudah menjadi prioritas utama dan bekerja yang sudah menjadi hobi, tak membuatku mundur untuk mengais ilmu. Bintang kelas masih tersematkan kepadaku selama dua periode ini. Padahal waktu belajarku tak menjadi prioritas, hanya ku lakukan saat senggang dan saat tugas rumah dibebankan.

“Panggilan untuk ananda Zahra dimohon segera menemui wali kelas di ruang guru. Terimakasih.” Tiba-tiba terdengar suara mikrofon memanggil namaku dari bilik informasi. Akupun berderap menuju ke ruang guru, hatiku berdegup kencang. Anganku pun mulai liar. Aku harap waktu tidak kembali seperti kala itu. Waktu dimana aku sedang menyantap makan siang bersama sohibku di kantin. Tiba-tiba saja suara pria paruh baya terdengar menggema di sekolah. Ya, suara itu berasal dari speaker di sudut-sudut sekolah. Saat ku hampiri asal muasal suara itu berada, aku terkejut setengah mati. Semua guru menangis, begitu juga ibuku yang sudah basah kuyup dengan keringat dan air mata. Ku tanya kenapa, ibu menggelengkan kepala dan mengajakku pulang. Saat ku tiba di rumah, puluhan orang memenuhi halaman. Bahkan kerabat yang ku kunjungi hanya saat lebaran, kini berkunjung di bulan Dzulhijjah. Bendera kuning melambai, seakan memberiku informasi bahwa ada kabar duka di rumah ini. Ya, Ayah berpulang.

“Zahra…” Teriak Andin, sahabat karibku. Suaranya menghentikan kilas balik dan langkah kakiku. Aku pun menoleh ke arahnya. Raut muka yang ku coba tutupi dengan topeng cool, melemah dihadapannya.   
“Ara, tidak akan terjadi apa-apa. Tenanglah.. aku akan menemanimu.” Telapak tangannya yang mungil menepuk punggungku seraya menenangkanku. Ia adalah sahabat ku yang paling tahu tanpa harus ku beri tahu. Aku takut kali ini adikku yang datang menjemputku. Kecemasanku berdasar karena pagi tadi ibu sedang demam tinggi disertai batuk-batuk berdahak. 

Aku dan Andin, bergegas pergi ke ruang guru. Selama perjalanan, Andin selalu menenangkanku. Kulantunkan hafalanku selirih mungkin, untuk menjadi teman Andin dalam menenangkan hati ini.
“Assalamualaikum Bu Hanum... apa ibu memanggil saya?” Tanyaku pada seorang guru yang duduk membelakangiku.
Bersambung….


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar