Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

THE SECRET OF QUR'AN 2

https://www.istockphoto.com/photo/license-gm482765777-?utm_medium=organic&utm_source=google&utm_campaign=iptcurl

Oleh: Syifaul Fajriyah

Keringat bercucuran dari balik jilbabku. Derap langkah ku hentikan tepat didepan meja Bu Hanum. Seketika mataku membidik sudut-sudut ruangan itu. Puluhan mata tertuju padaku. Seakan bertanya, kenapa raut kecemasan ada dalam wajah mungilku. 

Bu Hanum, sosok yang kini menjabat sebagai wali kelasku seketika berdiri menghampiriku dengan membawa segelas air putih. Wanita yang mengampu Pendidikan Kewarganegaraan itu mencoba menenangkanku dan mempersilahkanku duduk. Ia pun mulai mengutarakan kata demi kata hingga menjadi kalimat yang mudah ku pahami. Pernyataan maaf pun menjadi pembuka dan penutup dari kalimat yang bu Hanum utarakan. Entah aku harus senang atau sedih. Senang karena apa yang ku khawaatirkan tidak menjadi kenyataan, sedangkan sedih karena sesuatu yang menjadi tanggung jawabku tak dapat terealisasikan.

Alas kakiku melangkah meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh sosok yang dipanggil guru itu. Mendadak secuil air mata terjatuh. Aku pun berderap menuju loteng sekolah. Ku tinggalkan Andin sendiri, ia pun paham dengan keadaanku. Setibanya di loteng, aku mencoba mencerna kembali apa yang bu Hanum katakan. Ku buka dompet yang berisi foto ayah ibu dan sepeser uang lima puluh ribu rupaih. Uang yang ku dapat dengan hasil jerih payahku. Mustahil rasanya dengan uang bergambar I Gusti Ngurah Rai, aku bisa melunasi tunggakan sekolah selama satu windu. 

*
Seminggu kemudian,

“Panggilan untuk ananda Zahra dimohon segera menemui wali kelas di ruang guru. Terimakasih.” 

Suara mikrofon yang ku tunggu-tunggu, membuat jantungku berdegup lebih kencang.

Aku melangkah dengan sangat lamban dengan memegang uang yang hanya mampu untuk membeli makan kami sebulan. Uang yang ku dapat dari hasil jerih payahku dan ibu bekerja di Ladang. Sign Name yang bertuliskan ruang guru sudah semakin dekat dengan langkah kaki. Ku lihat sosok yang berdiri tepat di depan pintu. Bu Hanum menanti dengan senyuman. Terheran-heran aku dibuatnya, entah apa yang membuatnya bahagia. Tangan lemah gemulainya melambai-lambai sambil memanggil namaku. Ku hampiri dengan raut penuh tanda tanya. Tangan bu hanum menuntunku ke sofa ruang guru. Aku merasa canggung, karena sofa itu hanya diperuntukkan bagi seseorang yang spesial.

“Bu...” Ucapku lirih.

“Maaf bu... Ara masih belum bisa untuk melunasi tunggakan SPP selama delapan bulan. Ara hanya memiliki uang untuk...” 

“Ara... ibu memiliki jalan pintas untukmu melunasi pembayaran sekolahmu. Jika kamu beruntung, kepala sekolah akan memberikan beasiswa untukmu hingga kau lulus” Ujar bu Hanum menghentikan penjelasanku.

“Maksud ibu?” tanya ku.
“”

Lima menit kemudian, aku beranjak keluar dari ruang guru. Perbincangan kali ini membuatku bertanya-tanya “Apakah aku bisa?”. Ini mungkin kesempatan yang Allah berikan, durhaka jika aku menyianyiakannya. Terlintas juga rasa insecure, bagaimana tidak aku ditunjuk sebagai perwakilan sekolah untuk menghadapi olimpiade nasional matematika. Ku akui memang aku mahir dalam bidang ini, berkali-kali ku menjadi peserta dalam ajang kompetensi matematika, namun baru pertama kalinya bagiku melangkah ke jenjang nasional. 

Sebelum kami digiring untuk bertempur dengan puluhan jiwa, kami dibimbing oleh ahlinya. Setiap kata yang pelatih tuturkan, ku torehkan dalam buku catatan. Lima belas hari adalah waktu yang kuhabiskan untuk matematik. Aku pun berhenti untuk bekerja serabutan, dan tanpa ku sadari aku melakukan kesalahan yang fatal. Aku menekuni logaritma dan teman-temannya, sebab harapan pendidikanku ada di tangannya. 

Olimpiade pun tiba,
Puluhan bibit-bibit bangsa berdiri dan baris-berbaris bak tentara perang. Ya perang, disinilah medan tempur bagi kami untuk menjunjung nama dan martabat diri. Teriknya surya tak mengalahkan semangat yang sudah membara. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Mohammad Nuh memandu apel pada pagi itu. Beliau memberikan sambutan yang begitu memotivasi.

Mentari sudah meninggalkan meridian, aku pun beranjak menuju ruangan untuk berperang namun tak berdarah. Trigonometri, phytagoras, persamaan, dan sahabatnya pun datang menyapa. Entah untuk memberi pertanyaan atau memberi kebingungan. Operasi penjumlahan masih bisa ku hendel. Namun jika ku bertemu logaritma otakku pun keluh. Padahal selama latihan berlangsung ku atasi pertanyaan itu dengan rumus yang tepat. 

Sembilan puluh menit berlalu
Ku tinggalkan ruangan itu. Ku sapa lokasi yang bertandakan “mushollah”. Ku basuh dan usap seluruh area yang menjadi rukun wudhu, setelah itu ku ambil mukena dan ku laksanakan dhuha. Dzikir yang menjadi rutinitasku terlaksana dengan khusyuk dan penuh harapan semoga Tuhan mengabulkan do’a yang terpanjatkan. 
*
Dua hari kemudian,
Inilah hari yang kunanti, karena hari ini adalah pengumuman hasil olimpiade. Kerja kerasku selama lima belas hari akan terlihat entah membawakan hoki atau rugi. Kuyakinkan hati “Kamu juara, wahai hati tenanglah” sebab ku yakin usaha tak akan menghianati hasil.

“kriingg...kriingg...” bunyi bel yang menandakan dimulainya pelajaran pertama.
Aku yang tengah berjalan di koridorpun mengubah kecepatan. Tiba-tiba, suara sesosok wanita menyapa.

“Bu Hanum?” 

“Ara, bisa bicara sebentar?” tanya bu Hanum dengan suara yang berat.

Hasil olimpiade sudah ku ketahui dari raut dan gaya bicara bu Hanum. Ada rasa kecewa dalam diri. Ingin marah rasanya, tapi pada siapa. Seakan kerja keras yang ku lakukan tak membuahkan hasil apapun. Bu Hanum memberiku izin untuk pulang lebih awal. Perhatian dan kepercayaannya padaku membuat ku semakin merasa bersalah. 

Derap kakiku melangkah ke tempat kerja ibu. Batinku berucap ini semua tak adil, setiap waktu yang kutorehkan untuk hafalan, kerja, dan membantu ibu, ku luangkan untuk olimpiade. Namun kerja keras itu nahas.
Sesampainya, ibu melihatku datang dengan air mata, dan kata yang pertama diucapkan adalah “Kenapa bolos!!!”. Aku mencoba menjelaskan semua dan kulontarkan apa yang ku rasa. Namun, jawaban ibu membuatku tercengang,

“Nduk, ada sesuatu yang kau tinggalkan. Padahal itulah kuncinya. Kau tau apa itu? Qur’an. Kau meninggalkannya pada saat Qur’an itu sudah dekat denganmu. Qur’an lah perantara kita untuk komunikasi dengan-Nya".

“Nduk, tak ada yang salah jika kamu belajar dengan giat. Namun, jika itu tidak diiringi dengan ridho Allah, itu akan percuma. Ingatlah ini Zahra, jika kamu memprioritaskan Al-Qur’an langkahmu akan selalu dipermudah oleh-Nya. Kamu boleh belajar, boleh bekerja keras, tapi jangan sampai menyisakan waktumu untuk Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an bukanlah untuk disampingkan tapi di nomersatukan. Paham Zahra.” Lafal ibu yang menggetarkan jiwa.

Ya, ibu benar. Dalam lima belas hari yang kuhabiskan untuk belajar tak ada waktu ku gunakan untuk hafalan ataupun sekedar membuka Al-Qur’an. Inilah kesalahanku yang fatal, ku campakan ia yang selama ini kutimang. Ku lupakan dia yang selama ini ku junjung dan ngaungkan. Malu ku pada Tuhan, yang dengan tegas ku agungkan kalamnya, ku lantunkan setiap saat, hanya karena nikmat secuil ku hempaskan nikmat yang sesungguhnya. Inilah tamparan bagiku. 

Memang selama ini kami hidup dalam kemiskinan, namu tidak ada hari kami merasa kekurangan. Dan tidak ada hari kami merasakan kesengsaraan. Saat itu Allah memberiku sebuah ujian dan kenikmatan, namun karena keserakahan Allah pun mengingatkan. Dia sangat baik, mengingatkanku sebelum terjatuh lebih dalam.

*
Lima tahun kemudian,
Aku duduk di meja yang bertuliskan “Zahra Ahmed, M. Ag”. Kini aku menjadi salah satu pegawai kementerian agama. Sungguh tak terduga, setelah kejadian lima tahun yang lalu, aku memutuskan untuk fokus menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Untuk biaya sekolah, ibu meminjam uang pada tetangga. Beberapa bulan kemudian, datanglah wanita yang dermawan ke sekolah. Ia berniat memberikan beasiswa penuh bagi salah satu siswa yang hafal Al-Qur’an dengan tajwid dan makhorijul huruf yang apik. Rencana Allah memang indah. Ia melunasi seluruh hutang-hutang ibu, dan membantuku mendapatkan beasiswa perguruan tinggi. 

Kini aku mengalami apa yang para ‘Ulama katakan mengenai keagungan Allah dan Firman-Nya itu nyata. Imam sahal pernah berkata: 

“Tanda kecintaan kepada Allah adalah kecintaan pada Al-Qur’an. Tanda kecintaan kepada Allah dan Al-Qur’an adalah kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw.”



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar