Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TAK ADA KATA FINAL DALAM MENUNTUT ILMU


Oleh: Muhammad Rian Ferdian

Banyak orang beranggapan bahwa keharusan belajar hanya cukup sampai seseorang menginjak usia dewasa saja.  Sehingga ketika ia telah memasuki fase tersebut, ia enggan untuk belajar lagi. Ia malu untuk baca buku, duduk di majelis ilmu, merasa diri sudah memiliki ilmu yang cukup. Tentu ini merupakan anggapan yang keliru, karena kewajiban menuntut ilmu itu tak mengenal kata akhir, ia akan terus melekat pada diri kita sampai kita tertanam di peristirahatan terakhir. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits :

اُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى الَّحدِ  (رواه ابن ماجة)
“Tuntutlah ilmu sejak dalam buaian (kecil) sampai ke liang lahad”. (HR. Ibnu Majah)

Ketika seseorang merasa sudah cukup dengan ilmu, sejatinya di situ ia masih sangat kurang akan ilmu. Ketika seseorang merasa sudah pintar, hakikatnya masih sangat bodoh. Karena tak ada pelajar yang berhenti dalam belajar. Sampai kapanpun ia akan menggali dan terus menggali keilmuan. Setiap kali ia menggali suatu hal, semakin ia merasa masih banyak hal yang belum ia ketahui. Penuntut ilmu sejati selalu haus akan meneguk nikmatnya lautan ilmu. Penuntut ilmu sejati selalu memiliki hasrat untuk mengarungi luasnya samudera keilmuan.

“Semakin tinggi ilmu seseorang akan semakin besar rasa toleransinya”, begitulah petuah dari sosok Presiden ke-4 Republik Indonesia yang akrab di sapa Gus Dur. Dari nasihat beliau ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwasanya orang yang sering menyalah-nyalahkan orang lain yang tak sepaham dengannya, sebagaimana yang akhir-akhir ini sering kita lihat, mungkin karena memang ia masih minimnya keilmuannya, sehingga dengan ketidaktahuannya ia menyalahkan orang lain. Sebuah sikap yang jarang dilakukan oleh orang yang memiliki kelimuan yang tinggi. Karena sejatinya semakin luhur keilmuan seseorang, maka akan semakin jarang ia menyalahkan orang lain dengan sebab dalamnya ilmu yang ia telah gali. Maka penting untuk kita agar terus belajar dan belajar, meskipun usia sudah tak muda lagi. 

Kita tahu sosok Imam Syafi’i, beliau merupakan salah satu imam besar dari imam empat imam madzhab fikih. Beliau merupakan sosok ulama besar yang kealiman nya sudah tak diragukan lagi oleh umat Islam di seluruh dunia. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa kunci sukses beliau dalam menuntut ilmu sehingga bisa menjadi sosok yang ‘alim ‘allamah?. Salah satu kunci suksesnya adalah beliau sosok yang selalu ingin belajar, beliau selalu merasa haus akan ilmu pengetahuan, tak pernah puas dengan ilmu yang telah beliau raih. Ketika sudah menguasai satu bidang keilmuan, beliau selalu berpindah mengkaji bidang keilmuan yang lain. 

Ketika beliau telah selesai belajar ilmu Fikih di Makkah kepada guru beliau Imam Muslim bin Khalid az-Zanji dan juga kepada para ulama Makkah lainnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam mencari ilmu ke kota Madinah atas perintah guru-guru beliau di Makkah yang merasa bahwa ilmunya sudah habis, semuanya telah diajarkan kepada murid yang kecerdasannya di atas rata-rata, yaitu Imam Syafi’i. Di Madinah beliau berguru kepada Imam Malik bin Anas. Di sana Imam Syafi’i membuat kagun banyak orang di sekelilingnya, karena beliau hanya membutuhkan waktu sebentar dalam menyerap kelimuan yang diajarkan oleh Imam Malik. Padahal saat itu Imam Malik merupakan salah seorang ulama dengan tingkat ke’aliman yang tinggi di kota Madinah, hingga Imam Syafi’i pun menjadi santri kesayangan Imam Malik saat itu. Kemudian Imam Syafi’i melanjutkan pengembaraanya menuju Irak untuk kembali memenuhi hasratnya yang masih sangat haus akan ilmu. Di sana beliau berguru kepada murid-muridnya Imam Abu Hanifah. 

Sebuah pelajaran sangat berharga yang bisa kita petik dari kisah semangatnya Imam Syafi’i dalam menunut ilmu, beliau merupakan sosok yang tak pernah lelah dalam berjuang untuk belajar semasa hidupnya. Ada satu nasihat penting dari beliau yang patut kita renungi, “Barangsiapa tidak mau merasakan pahitnya belajar, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya”. Semoga kita selalu diberi keistiqomahan semangat dalam menimba ilmu oleh Allah SWT. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar