Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ROMAN PASARAN


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana 


       Hari liburku telah bertandang, sesuai janji Emak dulu aku akan diajaknya pergi ke pasar besar.

“Kau jangan ikut ! Nanti siapa yang jaga warung" kakak perempuanku memang terbilang sangat possesive dalam bersikap kepadaku. Namun aku tahu jika demikianlah caranya ia mendidikku.
“Emak sudah janji akan mengajakku ke pasar pekan ini” timpalku sambil terus menariki tangan Emak. Kakak dan Emak kerap ke pasar bersama, sedang aku ditinggalkannya karena harus berangkat ke sekolah. Aku hanya ikut Emak dan kakak sesekali ke pasar, itu pun hanya saat akhir pekan bertandang.
“Ya sudahlah, kita berangkat sama-sama. Biar Emak tutup warung dulu” sontak wajah kakak muram mendengar keputusan Emak- aku menang.

       Setiap kali hendak pergi ke pasar, kami harus menapaki jalan sekitar satu kilometer. Itu bukan jarak ke pasar, tapi untuk sampai ke tempat pemberhentian angkot. Lalu untuk tiba di pasar, kami harus menunggangi angkot sekitar sepuluh menit, bahkan sampai setengah jam lebih jika memang tidak ada satu pun angkot yang kebetulan berhenti. Kami menunggunya selama itu. 

       Beruntung kedatangan kami di tempat pemberhentian hampir bersamaan dengan angkot yang juga baru saja datang.
“Mak nanti kita belanja di warung Mbok Darmi saja yaa” Kakak membuka pertanyaan dengan berbisik kepada Emak. Namun tetap saja aku mendengarnya. Di dalam angkot itu hanya berisi empat penumpang saja, aku dan kakak Emakku serta satunya wanita seumuran Emak yan nampaknya juga akan pergi ke pasar, aku melihatnya membawa tas besar seperti milik Emak di bawahnya. “Lihat nanti saja nduk, kalo memang di Mang Shaleh rame, kita ke warung Mbok Darmi”

       Emak adalah seorang penjual nasi lengkap dengan lauk pauknya. Setiap minggu Emak selalu mendapat pesanan, entah untuk hajatan maupun acara tasyakuran. Ide Emak dalam membuat usaha ini berangkat dari kakak. Secara kakak pernah mengambil jurusan tata boga saat ia duduk di bangku SMA. Ada banyak makanan yang Emak tawarkan di warungnya. Namun di antara banyak makanan, nasi pecel menjadi menu andalan di warung Emak. Hari ini Emak pergi ke pasar karena mendapat pesanan nasi pecel sebanyak seratus bungkus. 

       Pukul tujuh kurang lima menit kami bertiga menginjakkan kaki di tanah merah pasar besar. Seolah telah mendarah daging bagi Emak dan kakak, mereka berdua nampak tanggap kemana yang akan dituju setelah sampai di pasar. 
“Kau ikut saja, jangan banyak nanya”
“Iya kak”

     Pasar besar benar-benar ramai di setiap hari. Hal ini dikarenakan pasar ini adalah satu-satunya pasar bagi tiga kecamatan. Dilihat dari namanya saja, pasar besar benar-benar besar. Ada lima blok di dalamnya, blok pertama khusus untuk menjual pakaian, kedua untuk penjual kebutuhan sehari-hari lengkap dengan peralatannya, ada juga mainan, ketiga khusus untuk pedagang buah dan sayur, keempat berisi deretan warung makanan siap saji dan terakhir pasar hewan. Saat aku masih kecil dulu, aku pernah hilang di dalam pasar ini. Sampai tengah hari aku baru bisa bertemu dengan kakakku kala itu. Atas dasar itulah kakak enggan mengajakku untuk pergi ke pasar besar.

“Wahh calon besanku datang” seorang lelaki berpostur gempal menyambut kami dengan ucapan.
“Emak kenapa ke warung Mang Shaleh? Malu mak” lagi-lagi kakak berbisik kepada Emak dengan ujaran yang sama. Siapa sebenarnya Mang Shaleh itu? Padahal selama Emak memanggil lelaki itu tidak pernah berkata “shal” atau “leh”, Emak terus-terusan mengekori ucapannya dengan kata “di” yang menurutku merujuk pada sebuah nama.

Shaleh kemana di?” aku melihat wajah kakak tersipu malu setelah Emak melontarkan pertanyaan.
“Sebentar lagi ia akan datang” 
“Sebentar lagi datang Ros, kau yang sabar” 
Sepertinya Emak sedang menggoda kakak
Benar saja, tidak lama kemudian seorang pria yang jauh lebih muda dibanding penjaga warung datang. Kulitnya putih langsat, hidungnya juga mancung, ia sekilas nampak seperti bintang iklan di televisi. Sangat menawan.

“Leh, kau dicariin gadis bik Ira tuh” kontrol wajah kakak semakin tidak terkendali, ia seperti ingin tersenyum namun ditahannya. Mungkin ini yang namanya Mang Shaleh, dan kakak seperti ada rasa dengannya. 
Apaan sih pak, kan besok keluarganya Ayu sudah janji akan datang ke rumah” 
“Oh benar, Bapak lupa leh. Ehehe”
“Emak belanja saja dulu, Ratna tunggu di angkot” kakak pergi, tepat setelah pria tampan itu melontarkan ujarannya. Seperti mengetahui isi hati Kakak, Emak tidak melanjutkan belanjanya. Emak membuntuti langkah kakak. 

       Kali ini wajah kakak sendu sedih, lalu ia berkata “Aku sudah bilang kan Mak, jangan belanja sayur di warung Mang Shaleh” 
“Iya nduk, Emak tidak tahu kalau Nak Shaleh akan dilamar sama seseorang, yang sabar nduk” 
Kakak hanya menutupi wajahnya dengan kerudung yang dikenakannya, sepertinya kakak sedang menitihkan air mata lantaran pria yang diidamkannya ternyata harus jatuh ke dalam hati bukan miliknya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar