Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RELIGIUSITAS MENGAMBIL PERAN DI SETIAP SENDI KEHIDUPAN (REVIEW NOVEL "KEMBARA RINDU" KARYA HABIBURRAHMAN EL-SHIRAZY)

https://www.goodreads.com/book/show/51627096-kembara-rindu-buku-1

Oleh: Nety Novita Hariyani

Keterangan Novel

Judul               : Kembara Rindu (Dwilogi Pembangun Jiwa)

Pengarang      : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit         : Republika Penerbit, Jakarta

Terbit             : September 2019 (Edisi Pertama)

Halaman         : 266

Ukuran           : 13.5 x 20.5 cm

Harga              : Rp. 60.000 (Pulau Jawa)

ISBN                : 9786237458098

Pendahuluan

Novel berjudul “Kembara Rindu” karya Habiburrahman El-Shirazy identik dengan religiusitas tokoh utama yang digambarkan pengarang dalam novel ini. Berlatar di desa Sidawangi tempat dimana Ridho mengenyam pendidikan pesantren dan juga Way Meranti Lampung yang menjadi ranah kelahiran sekaligus pelabuhan Ridho dalam merealisasikan kemampuan yang ia miliki selama belajar di pesantren. Keteguhan ridho dalam membangun usaha mulai dari nol telah mengantarkannya pada gerbang kesuksesan. Diarahkan seorang kyai, pahit getirnya kehidupan yang ia alami setelah pulang ke desanya dapat terlewati hingga ia menemukan kunci dalam menjemput rezekinya yaitu dengan ‘memakmurkan masjid’ di desa yang merupakan peninggalan buyutnya itu.

Novel-novel karyaHabiburrahman El-Shirazy atau kerap disapa “kang abik”yang merupakan alumni Al-Azhar University Cairo memang tidak diragukan lagi, terbukti dengan difilmkannya novel karyanya yang berjudul “Ayat-Ayat Cinta 1” dan “Ayat-Ayat Cinta 2” yang sukses dalam perfilman Indonesia. Tidak hanya mendapatkan banyak penghargaan nasional, Sastrawan sekaligus cendekiawan ini juga mendapatkan penghargaan di kancah internasional.

Membaca dan memahami novel berjudul “kembara rindu” ini mengingatkan pereview pada novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata yang diterbitkan tahun 2006.Meskipun alurcerita yang terjadi di kedua novel ini berbeda namun temanya selaras yakni pengarang seolah menunjukkan pengembaraan kehidupan disertai perjuangan tokoh utama yang didominasi dengan religiusitas sang tokoh hingga akhirnya mereka menuai sukses menurut definisi mereka masing-masing.

Dengan membandingkan kedua novel tersebut, penulis menemukan kelebihan dan kekurangan dalam novel “kembara rindu”. Kelebihan pada novel initerletak pada penggambaran pengarang terhadap karakter tokoh dan latar tempat yang spesifik dibalut dengan gaya penulisan yang begitu apik sehingga pembaca dapat memahami bagaimana karakter tokoh dan keadaan tempat yang dimaksud, berbeda dengan novel “Sang Pemimpi” yang lebih menitikberatkan pada penggambaran tokoh dalam cerita. Hampir tidak ditemukan kekurangan dalam novel “Kembara Rindu”, hanya saja pada bagian penyelesaian cerita terkesan menggantung karena mungkin akan dilanjutkan di sekuel buku sehingga seakan-akan ceritanya disandarkan pada buku kedua. Berbeda dengan novel “Sang Pemimpi” yang merupakan sekuel dari Laskar Pelangi, namun cerita dalam novel tersebut berdiri sendiri.

Sinopsis Novel

Syifa yang sejak pagi menjual pisang goreng di serambi masjid tak kunjung mendapat pembeli. Batinnya dilanda kegalauan, ia berharap surat yang ia kirim ke kakak sepupunyaRidho telah sampai sehingga ia dapat segera pulanguntuk menggantikannya sebagai tulang punggung keluarga. Di sisi lain, Ridho yang menjadi khadim di salah satu Pesantren Sidawangi tiba-tiba diajak makan bersama kyainya. Dalam pertemuan itu, ia diminta sang kyai untuk mengakhiri kewajibannya di pesantren dan kembali ke kampung halamannya.

Tiba di kampung halaman setelah menahan rindu kepada keluarganya selama 3 setengah tahun, ridho langsungmenyiapkan strategi untuk memenuhi kebutuhan dan membayar hutang keluarganya termasuk pengobatan kakek Jirun. Ia memulai usahanya dengan berjualan ayam goreng. Namun usahanya itu tidak menghasilkan keuntungan.

Hari demi hari semakin sulit dijalani Ridho, namun ia harus tetap ikhtiar. Hingga suatu ketika ia diminta Kyai Shobron, Putra Kyai Nawir untuk sowan ke Kyai Harun Tenggamus. Di sana ia menemukan jawaban dari persoalan yang ia hadapi. Kyai harun berpesan pada ridho untuk memakmurkan masjid peninggalan buyutnya terlebih dahulu, maka pintu rezeki baginya akan terbuka. Ia mulai menata niat semata-mata ikhtiarnya karena Allah.

Isi Review

Secara garis besar novel berjudul “Kembara Rindu” karya Habiburrahman El Shirazy bercerita tentang kesungguhan tokoh utama dalam memperdalam ilmu keagamaan di Pesantren, kemudian ia harus pulang ke kampung halaman untuk membantu perekonomian keluarganya. Hidup sebagai yatim piatu, tokoh ridho tidak kehilangan harapan untuk terus membahagiakan kakek, nenek, adik sepupunya Syifa, dan Lukman.

Di bagian isi novel terdapat subjudul “Kembara Rindu” yang sama dengan judul novelnya. dalam bab ini dikisahkan perjalanan tokoh ridho dari Sidawangi menuju kampung halamannya. Dirinya sedih karena harus berpisah dengan kyai dan kerabatnya di Pesantren, namun di sisi lain ia bahagia karena akan bertemu keluarganya. Kang Abik seolah menunjukkan bahwa center dari judul novel ini berada di subjudul “Kembara Rindu”, kembara rindu diartikan sebagai perjalanan ridho untuk mengakhiri kerinduan pada keluarganya karena akan segera bertemu dan mulai merindukan kerabatnya di Pesantren karena perpisahan.

Novel ini berisi 266 halaman dengan 13 subjudul di dalamnya. Menurut pereview part yang paling menyentuhterletak pada subjudul ketiga yakni ‘Tangis Haru’ di halaman 47saat dimana Kyai Nawir meminta Ridho untuk mengakhiri kegiatannya di Pesantren dan pulang ke Lampung. Ketika itu air mata yang keluar dari pelipis Ridho tak dapat lagi dibendung karena ia masih ingin menetap dan mengaji di Pesantren. Di bagian ini, kang Abik seakan menunjukkan kecintaan tokoh Ridho terhadap pesantren dan kyainya sampai berat untuk meninggalkannya.

Kang abik begitu piawai dalam mengolah kata dan menggambarkan realitas situasi maupun kondisi dalam novel-novelnya. Dalam novel “kembara rindu” ini, penggambaran karakter tokoh dan latar tempat yang spesifik disertai gaya bahasa yang mensastra namun dapat dipahami oleh pembaca telah menyita perhatian. Kang Abik menggambarkan watak setiap tokoh secara jelas dengan gaya penulisan sastranya sehingga pembaca memahami setiap karakter tokoh dengan baik. Ia juga menggambarkan berbagai latardi Sidawangi dan Lampung secara eksplisit, kemudian dituangkannya dengan bahasa yang indah sehingga pembaca dapat turut membayangkan latar tempat yang dimaksud.

Dalam novel ini, Kang Abik menyiratkan berbagai nilai yang terkandung dalam isi novel baik nilai moral, nilai sosial, dan nilai religiusitas. Nilai moral yang tersirat dalam novel ini ketika tokoh utama tidak menghiraukan ejekan masyarakat setempat mengenai lulusan pesantren namun ia buktikan dengan keberhasilan yang ia peroleh lewat kesabarannya. Nilai moral lainnya yang juga kita temukan dalam novel ini yakni saat dimana tokoh Syifa mengamankan handphone yang ia temukan dan menitipkan pada penjaga masjid untuk dikembalikan pada pemiliknya jika sewaktu-waktu orang yang kehilangan tersebut kembali ke masjid.

Nilai sosial yang kita jumpai dalam novel ini ketika tokoh utama membenahi mesinmobil pengendara yang mogok tanpa meminta imbalan. Dari kejadian itu pembaca disuguhkan pembelajaran tentang pentingnya saling bahu membahu tanpa pamrih meskipun tidak saling mengenal. Nilai sosial lainnya ketika Kyai Shobron dan keluarganya menemui Ridho untuk menjalin silaturahmi sekaligus membantu meringankan persoalannya.

Adapun nilai religiusitas dalam novel ini bertujuan menggugah pembaca untuk menerapkan syari’at Islam di kehidupan sehari-hari. Mulai dari kehidupan tokoh utama selama di Pesantren, kang Abik menghadirkan kegiatan dan seluk beluk kehidupan pesantrenterutama bagaimana tokoh Ridho menjalani kehidupannya berdasarkan nilai-nilai Islam. Dilanjutkan di Way Meranti Lampung, pembaca disuguhkan kesabaran tokoh Ridho dalam menjalani usahanya dan juga perjuangannya terhadap hak waris anak yatim sehingga dapat dipahami bahwa pengarang memiliki tujuan untuk membangkitkan nilai-nilai luhur Islam lewat novelnya.

Penutup

Hal paling dominan yang ingin disampaikan pengarang dalam Novel berjudul “Kembara Rindu” adalah nilai religiusitas guna membangkitkan semangat menegakkan nilai-nilai luhur Agama Islam. Setelah menelusuri unsur-unsur yang terkandung dalam novel tersebut, pereview merasa takjub dengan alur cerita yang jelas dengan gaya penulisan yang begitu apik. Meskipun tema yang diangkat pengarang terkesan sederhana terkait permasalahan yang sering timbul di lingkungan masyarakat, namun pengarang mampu menyihir pembaca dengan kemampuannya mengolah kata dan pengetahuannya yang luas tentang khazanah keislaman.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar