Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

POSITIF


Nur Sholikhah

Kepanikan dimulai ketika salah seorang dari kami menunjukkan sebuah foto hasil tes tadi pagi. Kata “positif” menjadi sorotan utama yang tak henti-hentinya mengundang banyak tanya. Gelisah, khawatir tentu saja mendera hati kami yang sore harinya langsung menyemprot cairan bening dengan bau khasnya ke seluruh penjuru ruangan. 

 “Semuanya jangan panik ya! Kita hadapi semua dengan hati yang tenang,” kata salah satu dari kami yang mengetahui berita itu lebih dulu. Aku tahu wajahnya juga menyimpan rasa yang sama dengan kami, khawatir. Tapi ia memberanikan diri menutupinya demi menguatkan orang-orang di sekelilingnya. 

 Kata “positif” berkali-kali diulang, akibatnya kata itu menjadi amat menakutkan. Bayangan memakai masker medis, racikan jamu dan berbagai macam obat-obatan langsung berkeliaran. Kebebasan beraktivitas dan berbicara dengan orang luar akan ada pembatasan. Bagaimana hari-hari kami tanpa sinar matahari? Bagaimana aktivitas kami tanpa keluar dari rumah mungil ini? Bagaimana jika ini? Bagaimana dan bagaimana menjadi kata tanya yang aktif muncul di kepala.

Bayangan itu akhirnya menjelma. Apa yang kemarin terlintas di kepala kini ada dan nyata di depan mata. Masker, racikan jamu, obat-obatan, lemon, madu dan bahan-bahan kebutuhan lainnya berserakan di ruang tengah. Sungguh kami tak menduga harus menjadi pelaku utama dalam cerita yang sering kami bahas sebelumnya. Menjadi bagian dari orang-orang yang terdampak oleh kata “positif” yang harus membatasi diri dari dunia luar, yang harus terkurung dalam jangka waktu tertentu agar tidak semakin menebalkan kata “menular”.
 Hari pertama, kedua, ketiga terlewati masih dengan rasa tidak menyangka. Beradaptasi dengan kondisi baru, berjibaku dengan prasangka ini dan itu, menata pikiran agar risau tak lama bercengkrama dengan rindu. Hari keempat, rasa bosan mulai bertandang. Kami mencoba saling menghibur diri, tertawa di sela-sela pagi, mulai lupa dengan tumpukan vitamin juga racikan jamu yang tak menarik lagi.

Ada yang mulai berangan-angan pergi ke suatu tempat rekreasi, membayangkan makan makanan yang disukai, bermimpi bisa beraktivitas seperti hari normal lagi, juga ada yang menginginkan pulang ke kampung halaman menjemput rasa aman. Semua cerita itu bergantian diungkapkan di sela-sela obrolan atau candaan ringan. Kami memaklumi, tak ada salahnya menghibur diri dengan berbagi kegelisahan pada orang-orang dekat yang terkasih.

Setiap orang menghitung hari. “Sudah hari ke berapa hari ini?” Pertanyaan itu hampir setiap pagi terdengar menguar. Seolah menjadi pertanyaan wajib yang harus diajukan. Ada rasa senang ketika hitungan hari memasuki angka sepuluh. Kami mulai merencanakan kegiatan apa yang akan dilakukan di hari pertama kami mendapatkan lagi kebebasan.

Dan hari ini adalah hari terakhir kami berisolasi. Rasa senang pasti menghinggapi. Empat belas hari yang terlewati semakin mendekatkan hubungan kami. Entah sudah berapa banyak tawa yang tercipta, sudah berapa banyak kekhawatiran yang perlahan enyah. Tuhan maha baik, sangat baik. Caranya sangat unik membuat hamba-Nya menyadari rasa saling memiliki, menguji cinta kasih juga ketulusan yang sudah jarang ditemui. Empat belas hari sungguh menyadarkan kami bahwa kebebasan dan kesibukan beraktivitas adalah salah satu nikmat Tuhan yang biasanya malah kita keluhi.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar