Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

POHON MANGGA



https://images.app.goo.gl/eHeeDgnKfb2E8GDm9

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Mungkin sudah mengayu dahan dan reranting pohon Mangga di samping rumahku. Sampingnya lagi ada sawah, yang menghampar hijau menawan mata. Dahulu aku sering menghabiskan siangku di bawah pohon Mangga. Angin sawah yang mengurai sopan rambut panjangku, seolah mengajakku untuk tetap berteduh bersama teman-temanku di sana. Pohon Mangga sudah ku anggap sebagai rumahku sendiri, terlebih saat bapakku membangunkan rumah pohon berdinding kayu yang bertengger di salah satu dahan besarnya. Alangkah gembiranya hatiku kala itu, bercanda ria bersama hingga langit siang perlahan merona jingga.

Pohon Mangga sudah tua, begitupun dengan diriku yang semakin tumbuh dewasa. Kini yang membekas hanya kenangan belaka. Banyak sekali yang hilang dan berubah dari pohon Manggaku. Seperti letaknya, dulu jarak antara sawah warga dengan pohon Mangga berjauhan, namun perlahan kini menyempit, sekitar tiga meteran kiranya. Dahulu pula lahan sekitar pohon Mangga longgar tiada tanaman, namun kini sangat rindang dengan semak belukarnya. 

Benar saja, seperginya aku dari kampung ke kota, pohon Mangga samping rumahku tidak seramai dulu. Hanya suara Ngengat dan hewan kecil saja yang terdengar. Bapak juga bilang kalau pemilik sawah itu bukan lagi Bapak kepala desaku, tapi orang lain yang kini pergi dari kampungku. Tidak ada yang orang kampung yang berani merawat sawah dan lahan pohon mangga itu, akibatnya rumput liar merambat panjang dimana-mana. 

Lama meninggalkan kampung kelahiran, aku merasa tertinggal dengan banyak informasi kampungku. Salah satunya seperti ujaran Emak siang ini,

“Kau jangan datang apalagi bermain di pohon Mangga itu lagi, marr!”

“Kenapa mak?” dahiku terangkat sedikit usai mendengar larangan Emak

Sedikit lama Emak menjawab, namun akhirnya setelah menghela nafas panjang beliau berujar “Bahaya!”. Mulutku terbuka lebar mendengarnya. Bagaimana bisa pohon Mangga yang hanya tumbuhan biasa kini dianggap berbahaya. “Dimana letak bahayanya, mak??”, Emak berjalan ke dapur untuk membersihkan sayuran- aku membuntutinya di belakang dengan cepat, seakan penasaran dengan jawaban darinya.

“Pohon Mangga itu berhantu" jawabnya singkat seraya terus menyirami sayurnya.

“Bagaimana Emak bisa tahu? Mana buktinya mak? Mak?” 

Kali ini suara Emak melirih pelan, dengan sedikit mendekatkan mulutnya ke arahku.

“Pemilik sawah itu adalah orang tidak baik, ia sengaja membeli tanah di kampung kita untuk membuang dedemit peliharaannya" Empat tahun tinggal di kota, sekalinya kembali ke rumah lalu disuguhkan hal yang sulit dipercaya, semacam ini. Padahal dulu-dulu kampungku tentram sejahtera tanpa ada campur tangan ha-hal kemistisan seperti angker, dedemit atau bahkan tumbal- Aku tak percaya. Seolah-olah mendengarkan hasrat hatiku, Emak kembali mengulang larangannya, namun kali ini ia lebih tegas, “Kau jangan kesana marrr!”

Aku tidak memperdulikan omongan Emak. Di samping tempramenku yang pemberani, aku juga tidak amat percaya dengan sebuah kemistisan. Bagiku itu semua hanyalah cara orang dulu agar anak gadisnya tidak keluar rumah- Aku tidak percaya.

Saat Emak keluar untuk mengirim makanan Bapak di sawah, aku berjalan mengendap ke samping rumahku, sekitar sepuluh meteran untuk bisa sampai ke sawah pohon Mangga. Rumah pohonku hilang, yang ada hanya sebuah gubuk tak terawat yang entah siapa pembuatnya, keempat sisinya tertutup papan kayu dengan satu pintu di bagian satu sisinya. Kecurigaanku mulai menguap tatkala kudapati pintu itu terkunci. Tak ada cela yang bisa tembus ke dalam, sekalipun untuk mata. Aku mencoba menepi dari gubuk reot itu untuk medekati pohon Mangga. Batangnya besar, seperti menyimpan banyak kenangan masa kecilku. 

“Kresss"

Kakiku menginjak tulang berbungkus kain putih yang kumal menghitam. Saat aku menariknya terdapat tali kecil menjulur panjang ke dalam tanah. Hingga tepat di ujungnya, tali itu melilit sebuah foto yang terbungkus plastik. Pikiranku tidak kemana-mana. Karena memang sawah ini dulunya milik bapak Jono selaku kepala desa, jadi mungkin fotonya dulu sempat tertinggal di sawah. 
Setelah cukup lama bernostalgia dengan pohon Mangga teman kecilku, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum ibu kembali bersama ayah dari sawah. 

“Kau dari mana Mar??” 

“Dari rumahnya Ica mak" 

“Yaudah sana mandi habis itu makan" Hatiku lega melihat Emak tidak mencurigai kedatanganku. Namun hatiku sedikit gundah saat Emak membawa tulungan yang biasa diperuntukkan untuk orang yang meninggal.

“Mak kenapa bawa tulungan? Siapa yang meninggal?”

“Pak Jono, Kepala desamu itu"

Jleb :/



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar