Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PESAN UNTUK PEREMPUAN DALAM NOVEL “JANDA-JANDA KOSMOPOLITAN”



Nur Sholikhah

                Tiga hari ini saya berusaha untuk menyelesaikan membaca novel dengan judul “Janda-Janda Kosmopolitan” karya Andrei Aksana. Novel tersebut tidak berbentuk buku fisik melainkan e-book yang dapat saya pinjam di ipusnas, sebuah aplikasi perpustakaan nasional. Alhasil, mata harus berjam-jam menatap layar smartphone untuk melahap habis novel 469 halaman tersebut.

            Tema yang diangkat dalam novel ini membuat saya tertarik dan ingin segera menamatkannya. Tema tentang perempuan, janda dan pembantu khususnya. Cerita yang diangkat mengandung banyak pesan dan memberikan sudut pandang yang berbeda yang mendobrak kemapanan pikiran masyarakat kebanyakan.
          Tokoh utamanya adalah Rossa dan Nunung. Diambil dari latar belakang yang berbeda dan berkebalikan. Rossa seorang janda dari kota metropolitan sedangkan Nunung seorang janda yang berasal dari sudut kampung. Rossa ditinggal suaminya ketika anaknya masih bayi, sedangkan nunung memilih meminta cerai karena suaminya ketahuan selingkuh dengan wanita lain. 
        Meskipun Rossa menjadi janda namun ia mampu memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan buah hatinya. Menjadi wanita yang mandiri, membangun bisnis. Nunung yang menjadi pembantu tidak kalah menariknya. Ia sudah melalang buana di berbagai negara, melayani dan meringankan pekerjaan rumah tangga orang-orang kaya.

      Rossa mempunyai prinsip untuk tidak menyakiti sesama perempuan. Ia tidak akan menjadi janda yang merebut dan bertingkah genit pada suami orang. Begitupun dengan Nunung, menjadi janda sekaligus pembantu yang bermartabat. Pembantu yang berwawasan karena baginya menjadi pembantu juga ikut mempersiapkan para generasi bangsa, yaitu anak majikan yang waktunya lebih banyak dihabiskan dengan pembantu daripada dengan orang tuanya sendiri. 
      Kisah cinta mereka setelah menjadi janda juga berliku. Ditinggalkan, dikhianati, dikecewakan. Rasa takut kehilangan, sedih, lucu, haru. Semua yang menjadi beban hidup telah menempa mereka menjadi wanita yang tangguh, yang saling menguatkan sesama perempuan. 
Emosi saya teraduk-aduk mengikuti alur jalannya cerita. Terkadang saya tertawa, mengerutkan dahi, menerawang, bahkan menitikkan air mata karena begitu larut dengan kisah mereka. Bagi saya membaca novel tidak untuk sekadar menikmati cerita. Ada pemikiran baru yang harus saya ambil dari pesan di dalamnya. Ada yang harus saya gelisahkan di sana. Dan pada akhirnya akan menyadarkan saya bahwa ada tugas besar yang menunggu yaitu mendobrak kemapanan berpikir masyarakat. 
     Tentang janda yang identik dengan citra buruk, meletakkan posisi janda yang tidak nyaman. Janda menarik untuk digoda, menjadi sasaran empuk untuk dicerca, dicurigai menggoda para lelaki karena dianggap haus kasih sayang dan pelukan. Tentang pembantu yang dianggap rendahan, tak berpendidikan, kolot, kumal dan tak ada kebebasan untuk menuntut hak pada majikan. Pembantu yang harus bodoh, penurut, yang hanya bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan tak tahu teknologi. 
Pola pikir yang seperti itu harus dikikis secara perlahan agar stigma buruk tentang janda bisa dihilangkan, agar status janda tidak lagi ditakuti dan ditutupi. Begitupun dengan pembantu, agar pembantu tidak lagi dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Pembantu juga ikut andil menyiapkan generasi penerus bangsa. Oleh karenanya mereka juga harus berwawasan. 
             Setidaknya itulah yang bisa saya ambil dari cerita panjang Rossa dan Nunung. Dua perempuan dengan lika-likunya menjadi janda yang mempertahankan martabat dirinya. Mereka yang berusaha melawan stigma tentang janda dan pembantu. Perempuan-perempuan tangguh yang mendekap erat kesepian agar tak berkelana mencari pelampiasan di jalan yang salah.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar