Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERJALANAN IMAM SYAFI'I DALAM BERTHOLABUL ILMI

Sumber : Muslimahdaily.com


Siti Khoirun Niswah

Perjalanan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu bermula di negeri moyangnya yang merupakan tempat turunnya wahyu, yakni Mekkah. Mulai dari usia belia ia sudah mengukuhkan posisinya untuk menuntut ilmu di tengah para ulama dan orang-orang terhormat. Hal itu bermula dari ibunya yang cerdik membawannya kepada seorang guru untuk belajar al-Quran dan menulis sebagaimana anak-anak pada umumnya yang mulai belajar. Sayangnya Imam Syafi’i ini terlahir sebagai anak yatim, sehingga sang ibu tidak memiliki apapun untuk biaya pendidikan dan tidak dapat memberikan sesuatu sebagai upah dari jerih payahnya mengajar Imam Syafi’i. 

Dalam hal belajar, Imam Syafi’i tergolong anak yang matang dan cerdas. Ketika guru Imam Syafi’i terlambat datang, ia mampu menggantikan gurunya mengajar. Dari situlah sang guru mengetahui bahwa bahwa Imam Syafi’i anak yang luar biasa. Mengetahui hal tersebut, guru Imam Syafi’i membebaskannya dari segala biaya pendidikan.

Metode Belajar Imam Syafi’i Kecil

Cara Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu berbeda dengan teman-temannya. Saat membaca atau mendengar gurunya mengajar tentang al-Qur’an ia pun sekaligus menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an yg diajarkan tersebut. Setelah guru itu menyelesaikan penjelaannya kepada murid-muridnya, imam syafii pun sudah menghafal terlebih dahulu, padahal ia masih menginjak usia tujuh tahun. 

Semasa muda Imam Syafi’i mulai berkumpul dengan para ulama. Ia menggali ilmu dengan banyak mendengarkan pelajaran dari mereka dengan kemampuan otak dan semangatnya. Tak berhenti dalam menghafal al-Qur’an, setelah selesai menghafal al-Quran semasa mudanya ia juga tertarik menghafal hadits. Banyaknya hadits yang ia dengar dari para muhaddits dalam menyampaikan hadits, ia juga berhasil menghafal banyak hadits. Selain itu ia juga menuliskan hadits-hadits di atas tembikar atau kulit. Imam Syafi’i juga biasa pergi ke perpustakaan tempat catatan dan juga manuskrip disimpan. Pada fase muda ini ia juga berhasil menghafal al-Muwaththa’ yang merupakan karya besar Imam Malik.  

Kebiasaan menulis yang dilakukan oleh Imam Syafi’i terukir dalam sebuah syair yang menjelaskan bahwa nilai manusia terletak pada tingkatan ilmu yang dimiliki, bukan pada penampilan atau pakaian yang ia kenakan. Ia berkata:

Aku mengenakan pakaian yang jika semuanya kujual, niscaya menghasilkan uang yang banyak
Dalam pakaian itu ada satu nafas jika dibandingkan dengan nafas-nafas orang yang berpenyakit paru-paru maka ia lebih besar
Merusak sarung pedang takkan merusak ketajaman pedang
Meski pedang itu patah sepanjang sarungnya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan keutamaan ilmu melalui syairnya :

Belajarlah ! seseorang tidak dilahirkan sebagai seorang alim
Pemilik ilmu tidak seperti seorang bodoh
Pemimpin satu kaum yang tak memiliki ilmu
Terlihat kecildi tengah satu kaum
Jika berilmu, ia terlihat besar di tengah masyarakat. 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar