Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PENULIS


Oleh: Hilmi Gholi Hibatulloh

        Suasana tampak tenang, terdengar kicau burung di atas pepohonan. Di depan teras rumah tampak serang pemuda berusia sekitar 22 tahun sedang duduk dengan santai sambil membaca buku. Di sebelahnya terdapat secangkir kopi yang tampak masih panas dengan asap yang masih mengepul. Diatas meja terdapat laptop yang masih menyala, terlihat pada layar laptop tersebut sebuah tulisan yang masih belum selesai dan di bagain atas tulisan tercantum sebuah nama Muhammad Fakhri.
        Dalam kamar pemuda tersebut terdapat baerbagai macam buku yang tersusun rapi pada rak yang terletak disudut. Sangat terlihat bahwasanya pemuda tersebut sangat suka sekali membaca. Pada setiap bukunya tampak stiker sebagai penanda kepemilikan bukunya agar tidak tertukar atau hilang ketika ada yang meminjam, karena memang tak bisa dipungkiri buku-bukunya sering sekali di pinjam oleh teman-temanya.
        Pemuda tersebut biasa dipanggil Fakhri oleh teman-temanya, siang hari ini dia sedikit bosan dan hanya menatap laptopnya yang berada di atas meja kecil sambil mengetik rangkaian-rangkaian kata. Fakhri menggaruk kepalnya yang tidak gatal dan terlihat raut wajahnya yang sedikit bingung karena kehabisan kata-kata untuk dirangkai menjadi sebuah tulisan. Dia berhenti mengetik sejenak dan merenung berusaha mencari kata-kata yang dapat di tuliskan. Dia mengalihkan pandanganya dari layar laptop dan terlihat di depannya sebuah rak buku yang cukup besar menempel di dinding berisikan berbagai macam buku-buku miliknya. Setelah cukup lama berfikir dan tidak menemukan kata-kata yang sesuai, dia menutup laptopnya dan berusaha menyegarkan pikiranya dengan keluar rumah.
        Fakhri mengambil jaket yang tergantung di sebalah bukunya lalu beranjak keluar dengan mengendarai motornya yang terparkir di depan rumah berusaha mencari sebuah ide atau inspirasi untuk melanjutkan tulisanya yang masih terhambat. Di sepanjang jalan yang dia lewati tampak pohon-pohon dan tanaman-tanaman hijau yang sangat memanjakan mata dan menjernihkan pikiran yang sedang penat. Namun setelah cukup lama berjalan-jalan tak satu ide pun yang dia dapatkan, dan akhirnya dia memutuskan kembali dan istirahat.
        Sore harinya, dia pergi kembali sambil membawa tas kecil untuk pergi mengajar. Ketika mengajar, Fakhri sedikit kehilangan fokusnya karena masih terbawa pikiran tulisanya yang belum selesai. Namun dia dengan cepat fokus kembali untuk menuntaskan kegiatan mengajar tersebut. Tidak disangka-sangka setelah beberapa waktu mengajar dia tiba-tiba mendapat sdikit ide dari perkataaan muridnya, langsung saja dia tuliskan ide yang baru dia dapat agar tidak hilang.
        Sesampai di rumahnya, Fakhri membaca buku-bukunya yang belum selesai di baca. Terlihat dia membaca didepan teras rumah dengan ditemani gelapnya langit malam hari, dan di terangi oleh lampu kuning yang berada di atap rumahnya. Selang beberapa waktu dia masuk ke kamar dan melanjutkan tulisanya melalui handphone miliknya sebelum tidur. Fakhri berprinsip dengan banyak membaca maka akan semakin banyak pengetahuan yang di dapat dan dengan banyaknya pengetahuan yang didapat maka bisa di tuangkan kedalam sebuah tulisan yang segar dan baru. Sebuah tulisan akan selalu ada tidak terpaut waktu yang telah berlalu, dia ada untuk memberitahukan pada generasi yang baru bahwasanya pernah ada kehadiran sesorang yang merangkainya, dan mengenalkan bahwasanya dia di rangkai oleh sesosok orang bernama Muhammad Fakhri dengan segala perjuanganya. Sebuah tulisan itu tidak akan langsung menjadi bagus dan terkenal akan tetapi membutuhkan sebuah proses untuk merangkainya menjadi yang terbaik. Layaknya sebuah pisau, jika dia dia asah maka akan tajamlah pisau tersebut dan sebaliknya jika dia di biarkan begitu saja maka akan menjadi tumpul. Untuk itu asahlah terus dan jangan berhenti walau berbagai hambatan menghadang. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar