Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MOMO GUARDIAN OF DORMITORY Dormitory


Penulis: Ainu Habibi

Kata orang hidup ini hanya sekedar mampir tidur dan makan, dunia ini tempat singgah saja, hanya sebentar seperti mengedipkan mata kepada wanita. Rasanya sangat disayangkan jika mengabadikan sesuatu yang fana dalam dunia yang kejam. Karena dari itu bangun dan jadilah hidup untuk hidup. 

Dalam kehidupan banyak pelajaran yang harus disaring dan dibuang. Sebagai manusia yang berilmu yang senantiasa mengikuti dan mengamalkan apa yang telah disamapaikan Nabi Muhammad SAW, dikisahkan seseorang yang menjadi cahaya atas cahaya dari kegelapan dunia ini sangat mencintai tumbuhan dan makhluknya Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Disaat yang bersama’an ketika Nabi hendak mengambil jubahnya, terlihat Mueeza sedang menikmati tidurnya dengan santai di atas jubah Nabi Muhammad SAW. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada tuannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak tiga kali.

Dalam aktivitas-aktivitas yang lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, Nabi selalu menggendong Mueeza dan di taruh di pahanya. Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai adalah Mueeza selalu mengeong disaat mendengar adzan, yang seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri.

Meneladani atas perintah Nabi sebagai umatnya yang haus akan syafaatnya, santri meniru hal ini dengan menyangai seekor kucing yang berada di pondok. Dalam setiap momen ketika para santri membuka pintu keberadaan kucing sudah ada di depan pintu, layaknya penjaga kucing yang diberi nama Momo senantiasa menunggu pondok baik ketika santri sedang bermukim di pondok atau disaat santri tiada. Para santri yang notabennya memiliki etika dan berakhul karimah menyanggupi makan serta minumnya Momo (kucing).
Kriteria yang ada pada Momo mempunyai badan besar layaknya seperti ukuran anjing pada umumnya, hal ini tidak wajar dikarenakan pada umumnya kucing hanya memiliki badan seukuran ayam. Menurut cerita yang mempunyai (majikan) Momo merupakan persilangan antara kucing biasa dengan kucing Anggora. Giginya yang tajam serta bulunya yang tebal membuat para santri sangat menyayangi Momo ditambah ekornya yang sangat panjang kira-kira sepanjang 50 cm.

Dengan badanya yang besar Momo kini sudah tidak muda lagi umurnya sudah berjalan 11 tahun sejak ia dilahirkan oleh sepasang kekasih yang menyayangi. Dengan umur yang sudah sangat tua bagi seekor kucing, hari-hari Momo dihabiskan dengan berburu makan. Ketika kenyang Momo menghabiskan waktunya dengan bersantai bahkan tertidur pulas. Uniknya Momo hanya bisa di bangunkan dengan suara makanan yang biasa diberikan santri untuk Momo. 

Sedikit cerita yang mungkin manfaatnya tak terlihat oleh kasat mata. Namun, sebagai sesama makhluknya hendaknya kita saling sayang menyangi apakah hanya sampai di sesama manusia? Nabi berkata kepada para sahabatnya, “Apakah kalian mengira bahwa ibu itu sampai hati melemparkan anaknya ke api neraka? Mereka menjawab, “tidak-tidak, tidak mungkin dia melemparkan anaknya ke api neraka”. Nabi bersabda. “Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya walaupun dibandingkan dengan kasih sayang ibu kandung kepada putranya ini.” (HR. Bukhari)

Jika seekor kucing dengan caranya cukup dengan makan dan tidur bisa mendapat rahmat Allah. Kita sebagai manusia seharusnya bisa lebih atas apa yang dilakukan seekor kucing. Jangan jadi manusia makhluk yang tidak bermakhluk buka kedua mata, mata untuk melihat dan mata hati untuk merasa sampai dimana kita yakin dimana bumi berpijak langit dijunjung. Wallahu A’lam bisshoab.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar