Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MERAWAT DAYA DI ANTARA LUKA

 

Oleh: Astri Liyana

Semua orang pasti pernah merasa ada di titik terendah dalam hidupnya. Ketika kita hanya meringkuk di kamar, tapi merasa hari itu sangat melelahkan dan menguras tenaga. Ketika kita tidak melakukan kesalahan apapun, tapi merasa sangat bersalah yang entah bersalah karena apa. Ketika kita merenung, entah pikiran apa yang merasuki kita hingga tiba-tiba menangis. Apa kalian pernah merasakan itu? Lantas, apa yang kalian lakukan? Pura-pura baik-baik saja kah?

Ketika kita merasa hidup ini sulit, ketika kita merasa hidup ini berat dan penuh beban. ketika kegagalan dan putus asa melanda, ketika merasa tidak berharga, ketika bisikan kepala menggerayangi jiwa, bahkan ketika mimpi tak sesuai ekspektasi. Ingatlah, hidup ini sebuah pertarungan, bahkan tak jarang kita harus mempertaruhkan sesuatu dalam hidup. Selaras dengan pepatah yang menyatakan bahwa “Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak layak untuk dimenangkan”. Hidup itu nggak mudah. Kalau semisalnya hidup itu mudah dan selalu seperti yang kita inginkan, tidak akan ada orang-orang yang bunuh diri karena persoalan kehidupan.

Setiap kejadian yang menimpa kita adalah pengalaman yang berharga. Ketika kita sedang rapuh, tidak akan ada yang tahu, selain kita sendiri. Tidak akan ada yang benar-benar memahami kita selain diri kita sendiri. Tidak akan ada orang yang baik, sebaik diri kita kepada kita sendiri. Tidak akan ada orang yang benar-benar peduli tentang apa yang kita alami. Dunia tidak mau tahu dan tidak akan peduli tentang kehidupan kita.

Maka dari itu, kita harus lebih baik lagi kepada diri kita. Kenapa? Karena dia hebat. Dia bisa bertahan di tengah pertempuran kehidupan yang menyebalkan ini. Dia bisa bertahan ketika dunia menghakiminya. Hanya saja, kita terkadang jahat pada diri sendiri. Tidak hanya secara fisik, tapi juga psikis. Sering kali kita menyakiti diri kita, hanya untuk mencapai ambisi kita. Bener nggak? Hayoo ngaku.

Hari demi hari pengalaman hidup kita akan terus bertambah. Luka yang kita alami akan lebih banyak dan beragam bentuknya. Maka dari itu, kita harus pandai merawat daya di antara luka-luka yang muncul tiada henti dalam kehidupan ini. Kenapa? Sadar atau tidak, bahwa kita ini hidup dikelilingi oleh orang-orang yang mudah menghakimi. Oleh sebab itu, diri kita butuh kita yang teguh dan tak mudah runtuh. Karena akan datang badai yang entah kapan dan bagaimana bentuknya  menghampiri untuk mengguncang kita, namun kita harus siap untuk menerima dan mengatasinya.

Di balik itu semua, kita harus sadar akan hikmah kehidupan dari kejadian yang kita alami dan menjadikannya pelajaran. Kehidupan yang kita jalani adalah sebuah perjalanan panjang. Maka dari itu, jangan pernah hidup dalam sebuah kekangan, keterpurukan, tersisolasi, oleh basa-basi para pecundang yang mencoba gagalkan hidupmu. Jangan pernah berharap akan pujian sampah yang tidak berharga sedikitpun. Ketika ambisi, arogansi, dan emosi akan kebodohan hidup yang terus menginginkan kesempurnaan, membuat kegagalan hanyalah sakit yang terhimpit dalam amarah. Setiap kita pasti memiliki keinginan, tapi ingat, dunia punya kenyataan. Dunia memiliki cara tersendiri untuk membuatmu paham akan makna kehidupan.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar