Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENGUNGKAP KEBERADAAN KAUM ZINDIQ DI MASA ABBASIYAH


Oleh: Nety Novita Hariyani

Di Masa Abbasiyah, masyarakat hidup dengan damai tanpa membedakan agama, suku maupun ras. Namun seiring berjalannya waktu masyarakat terpecah menjadi beberapa golongan, setelah kehadiran pendatang dari luar kawasan Arab yang memiliki kepercayaan dan budaya yang jauh berbeda dengan Arab yang mayoritasnya adalah muslim. Diantara golongan tersebut ada satu golongan yang sangat meresahkan dan merugikan Islam yaitu kaum zindiq. 

Kata zindiq bukanlah berasal dari bahasa Arab murni, melainkan arabisasi dari istilah Iran yang digunakan untuk menyebut orang-orang Persia. Istilah zindiq pada awalnya merujuk pada kaum yang membuat penafsiran atau ta’wil terhadap kitab suci ajaran zoroasterisme yang sangat bertentangan dengan maksud teks aslinya. Makna zindiq mulai berkembang di era Abbasiyah yang mengarah kepada majusi, kemudian berkembang lagi sebagai kaum ateis. Mereka adalah orang-orang Persia yang menyatakan keislamannya untuk mendapatkan kemerdekaan dan persamaan hak dengan orang muslim namun enggan melaksanakan syariat islam sebagaimana mestinya.

Kaum zindiq memiliki misi yang terselubung. Mereka menunjukkan keislaman mereka namun menyembunyikan ateisme dan kekafiran mereka dengan tujuan merusak kepercayaan, adat istiadat, dan kebudayaan Islam. Ibn Qayyim al-Jawziyyah mengatakan “Para zindiq berusaha melenyapkan syari’at Islam, mereka memasukkan hadits-hadit palsu dan mengklaim bahwa mereka benar”. Abdul Karim bin Abi Al-Auja, seorang zindiq ketika hendak dibunuh mengaku bahwa ia telah membuat 4000 hadits palsu. Kaum zindiq juga berusaha menggulingkan kekhalifahan Islam untuk merebut kembali Kekuasaan Persia dan agama Majusi.

Banyak pemimpin kaum zindiq dibunuh pada masa Abbasiyah, mulai dari Ibn al-Muqaffa yang dibunuh di masa al-Mansur dan sebagian besar dalam sebagian riwayat dibunuh di masa al-Mahdi seperti Sholih bin Abdul Quddus. Di masa pemerintahan al-Ma’mun, didirikan lembaga mihnah yang merupakan lembaga peradilan pertama sistematis guna menghukum para zindiq.

Meskipun sangat merugikan Islam, kaum zindiq memiliki kontribusi terhadap perkembangan penerjemahan Arab. Kalilah wa Dimnah merupakan karya terjemahan dari bahasa Persia yang diterjemahkan kedalam Bahasa Arab oleh Ibn al-Muqaffa, seorang zindiq. Terjemahan Arab ini memiliki kedudukan penting karena menjadi landasan penerjemahan kedalam 40 bahasa lain karena versi bahasa aslinya yakni bahasa Persia telah hilang. Kalilah wa Dimnah berisi panduan bagi para raja mengenai hukum pemerintahan yang disampaikan melalui kisah-kisah hewan.

Rujukan: 
Dhoif, Syauqi. (1960). Al-‘Asrul Jaahiliyyi. Kairo: Daarul Ma’arif.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar