Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENGENAL HAFIDZ IBRAHIM, PENYAIR NASIONALIS DARI MESIR

id.m.wikipedia.org

Oleh: Nety Novita Hariyani

Berbicara mengenai sejarah perkembangan kesusastraan Arab sekitar abad ke-19, kita akan menemukan berbagai literatur sastra yang membahas penyair-penyair Arab yang memiliki peran krusial dalam kebangkitan bangsa Arab melalui karya mereka. Salah satunya ialah Muhammad Hafidz Ibrahim, mashyur dengan julukan “Penyair Sungal Nil”, berperan besar dalam perkembangan kesusastraan Arab di Mesir abad ke-19. Berkat syi’irnya yang banyak mengangkat tema sosial masyarakat dan politik, beliau mampu membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kolonialisme Barat. 

Hafidz Ibrahim adalah seorang pembaharu, bukan memperbaharui bahar, wazan, uslub, maupun bayan seperti penyair lainnya. Pembaharuannya pada tema dan kandungan dalam puisi. Puisinya adalah gambaran keadaan rakyat dan catatan peristiwa pada masanya. Ketika rakyat biasa tidak mendapatkan hak-haknya, beliau dengan semangat kebangsaanya berupaya membela dan menyesali keadaan yang terjadi pada mereka. Seperti saat melihat situasi Mesir yang terus berada dalam cengkeraman kolonialisme Inggris, beliau menyulut semangat pemuda untuk berjuang dalam membebaskan Mesir dari penjajahan, kolonialisme, dan ketidakadilan. Semangat kebangsaan yang tertanam dalam jiwanya tercermin dalam puisinya berikut:

مضى زمن التنويم يا نيل وانقضى
ففي مصر أيقاظ على مصر تسهر
إذا الله أحيا أمة لن يردها
إلى الموت قهار ولا متجبر
فكونوا رجالا عاملين أعزة
وصونوا حمى أوطانكم فتحرروا
Telah berakhir dan berlalu waktu tidur, Nil.
Saatnya bagi Mesir untuk bangun agar terjaga.
Jika Allah menghidupkan kembali suatu bangsa,
(Allah) tidak akan mengembalikannya pada kematian dengan kuasa-Nya
dan tidak pula perbuatan sewenang-wenang.
Maka jadilah pemuda yang mengerjakan kebajikan
dan pertahankan tanah air kalian, lalu bebaslah!

Hafidz sangat memperhatikan masa depan bangsanya. Beliau menganggap bahwa penyebaran pengetahuan adalah cara yang tepat untuk kebangkitan di Mesir. Salah satu usahanya adalah membuka donasi untuk mendukung pembangunan sekolah dan Universitas di Mesir. Rasa nasionalisme Hafidz terhadap Mesir semakin kuat dengan adanya pengaruh dari Syaikh Muhammad Abduh. Bahkan setelah Syaikh Muhammad Abduh wafat di tahun 1905, puisi-puisi Hafidz menjadi lebih nasionalis lagi. Dengan mengikuti jalan Syekh Muhammad Abduh, beliau berupaya untuk terus semangat dalam mengeluarkan penderitaan bangsa Mesir dari penguasaan Turki dan kolonialisme Inggris melalui karya puisinya.

Rujukan: 
Fakhury, Hana. (1986). Al-Jaami’ fi Tarikh Al-Adab Al-‘Araby: Al-Adab Al-Hadits. Beirut: Daar Al-Jayli

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar