Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KETABAHAN SANG IMAM SYAFI’I MENGHADAPI UJIAN DAN FITNAH (1)

https://kajiansyariah.com/2020/12/30/imam-al-buwaithy-memilih-mati-dalam-belenggu-rantai-besi/

Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Seperti halnya manusia normal yang telah mencapai batas kematangan usia, pasti mengharapkan adanya sosok wanita sebagai pendamping hidup, penghibur di kala duka melanda, atau berbagi cerita kebahagiaan. Hal ini pun turut dirasakan oleh sang Imam Syafi’I di mana beliau merasa kesepian dan tidak ada gairah hidup tanpa kehadiran seorang yang menjadi belahan jiwanya. Saat itu juga bertepatan ketika beliau telah ditinggal wafat oleh sosok guru yang sangat dihormati bahkan sudah seperti orang tua sendiri bagi Imam Syafi’i. Oleh karena itu, Imam Syafi’I berinisiatif untuk menikahi seorang gadis cucu khalifah Utsman bin Affan , yaitu Hamidah binti Nafi’.

Imam Syafi’I berharap setelah menikah mendapatkan anugerah dari Allah SWT berupa kekayaan lahir dan batin. Jika dalam peribahasa “Pucuk di cinta, ulam pun tiba”, setelah itu Imam Syafi’i pun kedatangan tamu Gubernur dari Yaman yang menawari beliau sebuah pekerjaan yang layak di Yaman. Beliaupun menerima tawaran tersebut dengan senang hati, kemudian beliau berangkat ke Yaman untuk bekerja disana.
Tidak heran jika Imam Syafi’I ini merupakan tipe manusia yang tidak bisa hidup kecuali dalam alam ilmu pengetahuan. Sehingga di samping bekerja pada gubernur Yaman, beliau juga menimba ilmu kepada ilmuwan disana, khususnya ilmu perbintangan. Di antara guru Imam Syafi’I di Yaman adalah: Mithrof bin Mazin, Hisyam bin Yusuf hakim daerah Shon’a, Amar bin Abi Salamah dan Yahya bin Hisan.

Ketekunan Imam Syafi’I dalam bekerja dan belajar itulah yang membuat semua orang mengagumi serta menyukai perangainya yang berbudi luhur. Terlebih Gubernur Yaman sebagai atasan beliau juga sangat mencintai dan menghormatinya. Namun, di sisi lain Allah SWT menciptakan sesuatu berpasang-pasangan, ada cinta ada benci, ada teman ada musuh, dan sesuatu yang dipuji pasti ada yang hasud/iri hati. Inilah yang dialami sang Imam Syafi’I ketika masih baru berada di Yaman dan beliau sudah punya pengaruh besar disana. 

Keberhasilan karir Imam Syafi’I membuat sebagian orang dengki kepada beliau, dan berusaha memfitnahnya di hadapan khalifah Harun Ar-rasyid. Para pendengki itu membisikkan kepada raja bahwa Imam Syafi’I adalah pemimpin pemberontak dari kelompok lawan Bani Alawy (keturunan Ali) di Yaman.  

Raja Harun Ar-rasyid yang mendengar laporan dari Yaman tentang keberadaan pemberontakan, langsung mengirimkan salah satu panglimanya untuk menangkap orang-orang yang dituduh sebagai pemberontak di Yaman. Imam Syafi’I yang hanya beberapa bulan di Yaman, kemudian terpaksa harus keluar karena fitnahan dengan tangan dan kakinya yang dibelenggu rantai. Meskipun demikian Imam Syafi’I tabah menghadapi ujian dari Allah SWT, dan beliau senantiasa berdo’a kepada-Nya agar diberi keselamatann dalam mengarungi kejamnya kehidupan.

Rombongan panglima yang membawa tahanan dari Yaman tiba di Baghdad malam hari. Pada saat itu juga, para tawanan itu langsung dihadapkan kepada raja satu persatu untuk dieksekusi sendiri olehnya. Tibalah giliran Imam Syafi’I dihadapkan pada raja Harun.

Tepat di hadapan raja, Imam Syafi’I berkata “Assalamu’alaikum wabarkatuh” beliau tidak menyebut kata “rahmat” “wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh” jawab raja Harun Ar-rasid, “kamu melakukan kesunahan yang tidak wajib, sedang aku wajib menjawabnya. Aneh! di depanku kamu masih punya keberanian berkata tanpa aku perintah” kata raja Harun.
Sesungguhnya Allah berfirman: 

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ.... الآية

“…..dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa," (QS. An-Nur:55).

Dialah dzat yang bila berjanji akan menepatinya, Dialah penganugerah kepada baginda dan memberi ketenangan pada saat aku ketakutan. Karena baginda telah sudi menjawab salamku dan menambahi rahmat Allah, ini hanya berkat anugerah baginda” puji Imam Syafi’I pada Harun Ar-rasyid. 
Cerita bersambung….

Sumber Rujukan: Abu An'im. 2012. _Rahasia Sukses  Imam Syafi'i dalam Maqolah dan Sya'irnya_. Jawa Barat: Mu'jizat Group (Manivestasi Santri Jawa Barat)




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar