Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kegigihan Asma Menjadi Perempuan Beradab

https://images.app.goo.gl/rEMS8vfPsLmx281o9


Oleh: Siti Khoirun Niswah

Setiap anak perempuan selalu mengingatkan manusia pada takdir bahwa mereka akan menjadi seorang ibu. Namun sosok Asma sangat berbeda dari kebanyakan perempuan. Dia sudah seperti memiliki jiwa keibuan sebelum menjadi ibu. Dia diciptakan seolah-olah jiwa keibuan sebagai seni yang diberikan Allah kepadanya. Seperti layaknya anak rumahan, Aisyah dan juga Asma mendapat perlakuan yang ketat dalam hal adab, akhlak dan moral. Meskipun tak pernah mendapatkan pandidikan yang keras dari keluarganya, Asma sudah memiliki benih kedewasaan dalam dirinya. Hal itulah yang dirasakan oleh Aisyah sebagai adiknya. Ia selalu mengingatnya sebagai symbol kewibaan, kelembutan, dan juga kesempurnaan. Aisyah mengibaratkan “meski berada dalam tungku dengan api terpanas di dunia, dia akan keluar tanpa luka satu goresan pun dari kobaran-kobaran api itu.” Ia adalah koin mas yang berharga tinggi, meski pendiam namun penuh semangat.

Asma selalu melakukan semuanya secara diam-diam, bagaikan sumur yang tak tampak dasarnya. Dia mengikat apa yang perllu diikat, melepaskan apa yang perlu dilepaskan dan menyelimuti apa yang perlu diselimuti semua itu dia lakukan dengan penuh kelembutan namun secara diam-diam tanpa diketahui oleh adik-adiknya. Asma lebih mewarisi sifat ibunya, yang sabar namun juga pantang menyerah. Sehingga Aisyah merasakan memiliki dua ibu. Bahkan ketika sang ayah memiliki anak angkat yang bernama Abdullah, dia menganggap itu saudara kandungnya dan tidak ada istilah saudara angkat. Mendapat didikan ketat dari seorang ibu,disertai kelembutan dari seorang kakak, menjadikan Aisyah sebagai sosok yang dipenuhi dengan keberuntungan. 

Sosok Asma mampu melindungi sejumlah rintangan yang tak mudah dilewati oleh seorang perempuan. Disaat Aisyah harus menghadapi takdir yang akan ditempuh di usia yang masih kecil untuk menghadapi persiapan menjadi lawan bicara tujuan-tujuan Rasulullah. Asma pun tokoh yang mampu menemukan kata-kata yang pantas untuk menjawab pertanyaan Rasulullah. Aisyah seperti seorang pemburu yang dididik untuk menjadi mampu mendengar serta melihat kenyataan baik apa yang dihadapinya. Ada sebuah cerita dalam adat Arab dalam buku yang dituliskan, bahwa keuntungan paling besar menjadi seorang peremuan adalah yang mendapat pendidikan dari keluarga yang menyadari akan sebuah pengetahuan yang terperinci. Sehingga lebih mudah membangun masa depan yang baik ketika melewati masa itu. Seperti halnya sosok Asma, dia selalu mengamati secara detail kemudian menanamkannya baik-baik dalam ingatan. 

Asma merupakan kakak perempuan, teman, sekaligus sahabat rahasia bagi Aisyah. Suatu hari, mereka berdua pergi ke pasar Ukaz yang ada di Makkah, di tengah perjalanan mereka melihat banyak orang perempuan berpakaian aneh, dan menceritakan dongeng berjam-jam. Lalu para lelaki memberinya imbalan sekedarnya. Mereka pun bukan asli penduduk Mekkah, namun mereka berasal dari Afrika dan pergi ke Mekkah untuk menjadi budak. Asma menggenggam erat tangan Aisyah meski adiknya tersebut tak mengerti apa maksud dari perbuatan itu. Asma terus menggenggam erat tangan Aisyah karena dalam benakknya wanita yang paling dijaga adalah kehormatannya. Sikap polos Aisyah tidak boleh sampai lepas dari tangannya karena dalam perjalanan tersebut berbahaya bagi seorang perempuan terutama Aisyah sang Humaira. Disinilah Asma yang selalu menjadi seorang yang tangguh dan pemberani. Meski itu juga membahayakan dirinya, ia mampu melewatinya. 
Referensi buku: Aisyah (RA) Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah novel dari Sibel Eraslan, bab “lima waktu Aisyah di waktu subuh”.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar