Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KALAM KELAM


Oleh : Ilman Mahbubillah

       Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, penuh dengan marabahaya, yang takut menjadi ajang untuk diplomasi rasa, dan akhirnya diwajarkan dimana-mana, entah bagaiamana bisa, meski jika ternyata ini hanya karena sifat keras kepala, ataupun karena sudah kepalang dalam mencinta. Kumulai hari ini dengan rasa gelisah nan khawatir yang menjadi satu topik utama dari sebuah naluri, terlebih pada yang paling dicintai dan katanya adalah suatu yang paling berharga di bumi.

        Kemudian kutarik secarik kertas, ku tuliskan beberapa garis derita yang hasilnya terbentuk satu wajah yang tak mampu menarik keputusan, keputusan kompleks dan rumit bernama kepastian. Kuberikan mata dengan pandangan serupa sia-sianya melupakan, semula berkendak untuk pindah haluan, namun gagal karena selalu dipertemukan. Mata ini juga dibuat dengan ujung tangis yang menetes dari kelam tragis seorang vokalis yang kehilangan seorang gadis, kemudian memilih untuk beradu nada dengan intonasi lain yang lebih manis.

        Kupendam rasa kecewa sembari menghidupkan televisi, sampai semua acara serta agenda di dalamnya telah selesai, masih tak mampu hilangkan yang sudah pergi dengan membawa segala kenangan dan sepi. Akhirnya, kucoba membakar halaman-halaman kosong tanpa satu huruf dan rumus matematika yang menghiasi. Api yang menyala dari kobaran pucuk korek yang kukeluarkan dari baju berwarna putih ini menjadi saksi bahwa aku sudah berusaha me-rontokkan sunyi, walaupun wangi badanmu selalu menyeruak dari sela-sela lemari.

       Ku ambil gitar, mulailah aku bernyanyi dengan lagu yang berisi segala tuntutan untuk diri agar segera berbahagia dan senang kembali. Muak, bukannya menemui bahagia, malah kutemui segala ejaan kata-kata manis yang kau katakan saat itu, tepat di malam pukul tujuh. Akhirnya, ku putuskan semua senar-senar pada gitar yang saat itu menyanyikan senandung nada-nada indah di pinggir kota bersamamu. 

        Kugambarkan semua isi dalam hati, ku susun dan ku rangkai apa yang sudah terjadi, kemudian kubuang dengan harapan tak pernah mengingatnya kembali, namun naas, kelam ini selalu muncul di kemudian hari. Tak kuasanya diri untuk membendung kontradiksi antara otak dan hati yang menerjemahkan rasional dan naluri, Oh tuhan, tolong, jangan sampai aku bunuh diri.

Pada hati dia berkata;
“Jangan kamu berbuat seenaknya!” 

Dengan penuh elegi, membalas gertakan otak;
“Dia sudah mengakar, tertanam kuat dalam sanubari... lantas mau bagaimana lagi? Semakin kesini, justru kau lah yang seenaknya padaku”

Dengan angkuh, otak mengelak;
“Jika semuanya hancur hanya karena kau tidak bisa menghapusnya, lalu apakah masih bisa kau hitung aku seenaknya?”

“Harusnya bukan aku saja kambing hitamnya, kau juga ikut andil dalam hal ini. Tidak bisa melupakan semua kenangan yang sudah dijalani”

“Kau seharusnya bisa membantuku dan mencabutnya, tapi kau tak mau lakukan itu!”

“Tolong beri aku sejenak waktu, tak mudah untukku melakukan itu sebelum kuhabiskan sisa-sisa pilu”

Selalu begitu.

       Gerimis dan tangis malam seperti terkubur hidup-hidup oleh detik waktu yang terus berputar, pun nyanyian sunyi yang selalu menemani. Begitulah akhir dari hari-hari orang yang terpuruk dengan badan yang sudah setengah ambruk. Ku tengok cermin disudut kamar, lalu ia buram. Kulihat bintang malam, tapi menghilang. Ku pandang cantik rembulan, namun kemudian kelam. Kuteguk segelas air, rasanya kian masam. Ku raih gawai, belum ku hidupkan, terlihat wajah yang masam.

       Buruk, selama ini, kukira aku adalah bagian dari sekian banyak part dalam kebahagiaan. Ternyata tidak begitu, puan. Saat kebahagiaan datang dan membuat tubuh sampai sempoyongan, menjarah seluruh sudut dalam badan, merobohkan seluruh pertahanan, kemudian dia pergi dengan perlahan dengan dalih pentingnya pertemanan.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar