Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ISOMAN KITA BEDA



Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah

       Hari ke-sekian selama masa pengasingan diri dari tidak apa-apa nya kondisi bumi. Di Pondok Pesantren An-niswah dengan cat tembok berwarna putih, berpagar hijau, halaman yang dihiasi pohon cemara besar menjulang tinggi sekitar lima meter dan pohon mangga yang jarang sekali berbuah, sekalinya berbuah hanya dua sampai lima biji dan itu pun tak sampai matang sudah di petik. Huh memang dasar santri tak kuat melihat buah itu matang. Tidak. Itu bukan Pondok Pesantren mewah besar seperti yang kalian bayangkan, dengan ribuan santri, sederet bangunan tinggi, lorong-lorong di setiap bangunan A B C D yang bisa untuk kejar-kejaran.
Ponpes An-niswah ini tidak ada jamuan dengan gapura besar bertuliskan “AHLAN WA SAHLAN DI PONDOK PESANTREN AN-NISWAH PUTRI”. Bangunannya sederhana. Hanya ada tempat parkiran untuk enam motor batas maksimal dan tempat jemuran 1 x 4 meter bila menjemur pakaian harus bergantian dulu dengan yang lain,  ukuran kamar tak lebih dari 2 x 3 meter cukup untuk dua kasur tak bertulang ukuran 90 x 200 cm dengan kapasitas empat anak satu kamarnya. Santri ini rata-rata orangtuanya mampu. Ada yang orangtuanya karyawan, PNS, dosen, dan menteri. Keluarga mereka memiliki mobil di rumah, berkecukupan. Tapi entah apa yang membuat hati mereka yakin dan menancapkan niat “Bismillah, kerasan di pondok ini". Seberapa pun kekurangannya bangunan ini, tetap ini adalah pelabuhan ter-istimewa mereka untuk beristirahat dan menimba ilmu.
Detik demi detik merangkai menit yang menjadi jam mengenyam hari. Tidak disangka bahu membahu warga sekitar Ponpes sangat terasa. Uluran tangan yang luar biasa tanpa memimpikan balasan itu, menjadi salah satu energi para santri untuk bertahan dan terus ber-ikhtiar melawan infeksi virus yang mewabah sampai saat ini.   
Setiap hari kami tak kenal sepi dengan sautan “Assalamu’alaikum, mba ini makanannya di cantolin di pagar ya”. Iya benar. Itu suara warga mengirim makanan. Sebenarnya bahan pangan yang kemarin pun masih ada. Tidak hanya makanan. Kebutuhan sehari-hari pun begitu, seperti sabun, shampo, masker, dll. Sampai-sampai ada grup whatsApp dengan Bu RT, sebagai perantara agar mudah saling memberi kabar.

Bu RT: “bagaimana kabarnya hari ini? sarapan hari ini nasi bakar ya. Nanti makan siang dan malamnya opor ayam. Harus dimakan ya sayang. Hari ini panas, jangan lupa berjemur”
Santri: “makasih bu”
            “nggeh bu siap”
            “terimakasih banyak buu”

Grup itu selalu ramai dengan perhatian Bu RT setiap harinya. Membuat anak-anak merasa sangat dipedulikan selama beberapa hari isolasi, ditambah mereka yang merantau jauh dari orangtua di seberang pulau sana. 
*-*

       Menjelang maghrib, ruang tengah yang biasa digunakan santri berkumpul terlihat ramai. Dari delapan belas anak itu ada yang berselancar di dunia maya, yang dibuka, apalagi selain medsos tik-tok, instragam, dll . kepo. Padahal tau isi medsos itu-itu saja.  Ada juga yang sedang membahas betapa baiknya warga sekitar selama isolasi. 

“Ya Allah, Ibu-ibu itu baik banget. Barusan kita dapet kiriman beras tiga puluh kilo” seru Dian Menyusuri Langit mengawali topik. Panggil saja dia Dian, dari hari pertama isolasi dia yang sangat histeris dengan kepedulian warga. 

“Tau gak? Sampai-sampai uang donasi itu banyak banget” timpal Tulip, ketua pondok putri yang gabung grup WhatsApp bersama seluruh warga.
“Semoga kebaikan mereka di balas lebih oleh Allah SWT”
“Aamiin”
Indun yang sedang menyiapkan makanan untuk buka puasa menyahut.
“Rek, ini bakwannya asin gapapa ya?” dia bertanya sambil menertawai masakannya sendiri. 
“Suantuuuuy” Teman-temannya sudah pasrah saja. Yang penting ketika berbuka puasa ada makanan untuk mengganjel perut sebelum makan nasi. “Mau makanan se-asin apapun abis aja klo lagi laper apalagi makannya bareng-bareng” itu slogan santri. Apapun masakannya, entah siapa yang masaknya, saat makanan sudah matang tepat di waktu berbuka mereka menyantap lahap seakan makanan itu lebih lezat dari menu restoran terkenal. 

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!?” 

Saat santri yang berada di ruang tengah sedang khusu’ dengan layarnya gadgetnya masing-masing, suara terikan yang sangat histeris terdengar jelas dari dalam kamar mandi. Selama 10 menit.
“Ya Allah, itu siapa yang teriak?”
“kayaknya si Minceu deh”
“dia kesurupan di kamar mandi atau gimana?”
Salah satu temannya sedang memastikan bertanya langsung kepada Minceu tepat di depan pintu kamar mandi.
“Ceu, ada apa?”
“Itu ada mba Itis nongol-nongol di saluran air” Minceu menjawab dengan suara ketakutan hampir menagis.

       Sejak mereka menyadari di pondok itu banyak tikus yang sudah berani menampakkan diri tak kenal gelap ataupun terang, dari situ julukan Mba Itis muncul untuk tikus-tikus di pondok. Sebenarnya terlalu terhormat tikut-tikus itu dinamai Mba Itis, mengapa tidak Minten, Jedar, Jedir?. Yasudahlah, mungkin itu kelebihan sifat menghormati sesama makhluk pada diri santri. 
“Ya Allah, Cuma tikus tok yo cerak-cerik e dowo men rek rek” celetus Hyungay menyusul.
“turun level reputasi pondok kita ini, hanya gara-gara tikus di kamar mandi dia menjerit kenceng banget sampai terdengar tetangga” sahut yang lain.
“Yaudah pindah ke kamar mandi luar aja”
“iya, semoga gaada Mba Itis lagi di kamar mandi luar” jawab Minceu yang masih terdengar trauma dengan kejutan tikus di kamar mandi dalam tadi. 
Malam beranjak naik, mereka pun sudah menikmati takjil buka puasa. Kemudian sholat maghrib berjamaah. Dilanjut dengan sholat Isya berjamaah di ruang tengah. Seperti biasa, setelah itu sebagian dari mereka ada yang nugas, sibuk dengan layar hp nya. Tidak jauh dari scroll Tek Tek dengan isu hot Nisa Sabyan, instragam, dan nonton drakor. 
*-*

       Esok harinya, setelah kejadian si Minceu yang teriak karena Mba Itis. Ada salah satu warga, sebut saja namanya Bu Aye menghubungi Tulip melalui via WhatsApp.

Bu aye: “Assalamu’alaikum mba, semalem itu saya dengar ada yang teriak ya di pondok?”
Tulip: “wa’alaikumussalam, nggeh bu ngapunten mengganggu, hehe”
Bu Aye: “karena apa teriaknya mba?”
Tulip: “Niku bu, hmmm ada tikus di kamar mandi”
Bu Aye spontan mejawab. “sudah saya duga gara-gara tikus”
Tulip: “hehe”
Percakapan Tulip dan Bu Aye berakhir begitu saya tanpa salam penutup. Itu sudah menjadi budaya masyarakat +62, jangan heran. 
Hari isolasi penuh hiburan dengan teman yang itu-itu saja. 

Selesai-


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar