Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

IMPLEMENTASI KANDUNGAN AL-QURAN DALAM SURAH AL-ALAQ

id.wikipedia.org

Oleh: Astri Liyana Nurmalasari

Menjadi seorang ‘alim atau berilmu pengetahuan, bisa dimulai dari kegiatan yang sederhana, membaca contohnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca merupakan kegiatan melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, baik dengan melisankan maupun hanya dalam hati. 

Berbicara perihal membaca mungkin sudah menjadi hal yang lumrah, bahkan menjadi hal yang membosankan untuk diperdengarkan. Sehingga, tidak sedikit dari kita yang menyepelekan kegiatan tersebut. Padahal, membaca merupakan kegiatan yang sangat penting untuk dibudayakan dan dipupuk oleh setiap individu. Mengapa?

Karena begitu banyak manfaat yang bisa kita ambil dari membaca. Selain untuk menambah wawasan, membaca juga merupakan kebutuhan ‘gizi’ untuk otak kita. Sebab, seseorang menjadi pintar ataupun cerdas, bukan semata-mata faktor genetik, melainkan karena adanya asupan ‘nutrisi’ yang menambah ilmu pengetahuan, baik dari membaca ataupun yang lainnya. 

Satu hal penting yang harus kita ketahui, bahwa membaca ialah salah satu cara mengimplementasikan kandungan al-Qur’an, tepatnya pada QS. al-Alaq ayat 1-5. Surat ini menjadi wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW. berupa perintah Allah kepada umatnya, salah satunya ialah membaca. Adapun lafalnya sebagai berikut:

إقرأ باسم ربك الذي خلق  (1)  خلق الإنسان من علق (2) اقرأ وربك الأكرم 
(3) الذي علم بالقلم (4) علم الإنسان ما لم يعلم (5)
“Bacalah dengan (menyebut) Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Kata Iqra (bacalah) dalam surah tersebut diulang sebanyak dua kali, dan merupakan kalimat fi’il Amr atau kalimat perintah. Allah memerintahkan kita untuk membaca, mengingat betapa pentingnya kegiatan tersebut. Pertanyaanya, apa yang dibaca dan mengapa harus membaca? Allahu a’lam. Hanya Allah yang mengetahui itu. Kita hanya bisa menebak-nebak saja apa sebenarnya hikmah di balik membaca.

Ayat tersebut telah mengundang rasa penasaran para cendekiawan untuk menupas maksud dari ayat tersebut. Banyak para ahli yang mencurahkan kemampuannya untuk melakukan riset tentang membaca, mulai dari teori, teknik membaca, serta bagaimana cara menumbuhkan minat membaca pada seseorang. Lebih dari itu, tidak sedikit para cendekiawan juga menemukan temuan-temuan baru hingga akhirnya melahirkan disiplin ilmu baru.

Dengan demikian, kita dapat menyebut surat ini sebagai tonggak perubahan peradaban dunia. Tepatnya, betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia. Betapa besar pengaruh ilmu pengetahuan dalam peradaban dunia. Perubahan tersebut berangkat dari hal yang sederhana, namun memiliki pengaruh yang besar, yaitu membaca. Melalui kegiatan ini, kita dapat mempelajari, mengajarkan, mencari, menggali untuk menemukan kebenaran ataupun solusi dari suatu permasalahan, kemudian menyampaikan kebenaran tersebut kepada orang lain. 

Dalam buku karangan Mohammad Fauzi Adhim, menyatakan bahwa membaca ialah proses yang complicated. Bisa dikatakan bahwa membaca ialah sebuah proses yang rumit. Tidak hanya itu, setiap proses yang berlangsung ketika membaca bekerja secara kompleks.  Mengapa? Ada delapan aspek yang bekerja secara bersamaan ketika kita membaca, yaitu aspek sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi dan afeksi (perasaan/emosi).

Karena aspek kejiwaan kita bekerja bersamaan secara aktif, Sehingga, ketika seseorang membaca, ia tidak hanya mengasah kemampuan berpikirnya saja. Tetapi, dalam waktu yang bersamaan, secara tidak sadar perasaan atau pikiran seseorang akan terlibat di dalamnya, dan hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan intelektual serta kecakapan mentalnya. 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar