Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GADIS DI UJUNG SANA


Oleh: Nurmiati Habib

Membahas tentang wanita pasti tak ada ujungnya. Banyak sekali pembahasan yang unik untuk dikritisi. Pembahasan gender misalnya yang sedang ramai diperbincangkan, atau emansipasi yang sedari dulu memang menjadi momentum para wanita untuk bangkit. Gagasan tentang pendidikan tinggi seorang wanita yang sering dianalogikan sebagai hal percuma karena Akan berujung pada hakikatnya menjadi seorang istri dan ibu, saat ini secara perlahan hal itu mulai terkikis. Bukan tanpa alasan hal ini terjadi, seiring perkembangan zaman perempuan juga sangat penting memiliki pengetahuan yang luas, pemikiran yang panjang dan pengalaman yang menjadikannya bijak. Jangan berpikir tentang profesi A atau B atau malah C, melainkan peran apa yang sudah di torehkan untuk dirimu sendiri ataupun orang di sekitar. Kita perlu memantaskan diri terlebih dahulu, sebelum memberikan manfaat untuk orang lain. Memang hal ini tidaklah mudah, Akan banyak sekali tantangan yang mungkin membuatmu bimbang dalam mengambil sebuah keputusan. Seperti berbagai pertanyaan yang sangat familiar sekali di telinga masyarakat.

 "Ndo udah lulus S1, belum ada calon"

“Ndo temen-temenmu udah pada nikah dan punya anak, kamu gak kepengen

"Aku punya kenalan loh, orangnya gini gitu, kamu gak mau deket dulu? " 

Mungkin itu beberapa pertanyaan yang sering disinggung oleh keluarga dekat maupun tetangga sekitar. Tidak salah memang, karena kita memang hidup dilingkungan yang harus siap menerima pertanyaan, perkataan bahkan kritikan yang terkadang kita sendiri tak mengindahkan akan hal itu.

Beberapa waktu lalu yang menyaksikan live streaming salah satu Ning (sebutan anak kyai pondok di Jawa) salah satu pondok terkenal di Jawa Timur. Beliau mengatakan “saya nikah itu umur delapan belas tahun begitu pun suami saya, karena memang dilingkungan saya yang notabene di Pondok umur segitu sudah waktunya untuk menikah, dan saya memang sudah diberi tahu sedari kecil bahwa jika sudah mencapai umurnya maka akan di jodohkan, alhamdulillah sekarang sudah menemukan teman hidup yang halal”. Bahkan di akhir live nya ia berpesan “Saya tidak mendukung kalian untuk nikah muda, karena memang lingkungan saya yang seperti ini jadi ya saya harus menerimanya, jikalau temen-temen di luar sana yang masih bisa melukis indahnya masa muda nggih monggo, sah-sah saja karena memang hidup itu pilihan dan yang menurutmu baik monggo dilanjutkan sampai di mana temen-temen akan menemukan momen oh mungkin sudah waktunya”.

Jangan beranggapan semua akan menjadi bebanmu. Sering kali kita dengan anak perempuan pertama akan harus lebih tangguh dalam segala hal dan anak bungsu akan lebih manja. Mungkin pernyataan ini sering banget di dengar ataupun dibaca di media-media sosial. Ya memang tidak menutup kemungkinan anak pertama perempuan  harus bisa mandiri, terlebih jika memiliki seorang adik. Anggapan yang sebenarnya harus sedikit direvisi, terkadang kita lihat bersama anak perempuan pertama  dari golongan orang yang berkecukupan yang di sedari kecil memang sudah dibiasakan dengan mendapatkan sesuatu dengan mudah apa pun terfasilitasi dan segala akses orang tua yang akan menanggung. Beda halnya dengan keluarga yang sederhana bahkan bisa tergolong menengah ke bawah yang memiliki anak banyak bahkan untuk makan sehari-hari pun susah apalagi untuk mengenyam pendidikan tinggi sepertinya mustahil, kecuali memang anak tersebut memiliki keinginan yang kuat untuk melanjutkan hidup yang lebih, tidak jarang mereka harus bekerja sembari kuliah, membantu orang tua walaupun sedikit dan banyak hal lainnya yang mengasah pengalaman hidup.

Terpenting saat ini bukan hanya tentang anak perempuan anak pertama ataupun terakhir. -Biarkan pernyataan-pernyataan tersebut hanya menjadi sebuah anggapan. Kita memang tidak bisa memilih dari orangtua mana kita dilahirkan. Tapi kita bisa memilih tujuan hidup seperti apa yang kita inginkan. Isi hidup seperti apa yang kita usahakan.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar