Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

EKSISTENSI MBAH SHOLEH DARAT DALAM MENYULUT SEMANGAT LITERASI PASANTREN NUSANTARA


Oleh: Muhammad Anis Fuadi

       Salah satu langkah penting dalam mensyiarkan Agama Islam adalah dengan digiatkannya budaya literasi di kalangan umat muslim itu sendiri. Maka Mbah Sholeh Darat adalah salah seorang pelopor dalam memberikan suntikan semangat berliterasi khususnya dalam kalangan pesantren di Indonesia. Lahir di sebuah desa di Kabupaten Jepara, KH. Sholeh Darat menghabiskan hidupnya dengan terus belajar dan berdakwah mulai dari tempat tinggalnya di daerah yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang hingga seluruh Jawa. Ulama' yang lahir pada 1820 Masehi ini memiliki jasa yang amat besar di dunia pesantren Indonesia khususnya pesantren di tanah jawa, dimana kebanyakan ulama'-ulama' Jawa sesudah beliau adalah muridnya. 
        Sosok bernama lengkap Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani al-Jawi ini terkenal dengan rumus yang disusunnya untuk mempermudah santri dalam belajar membaca kitab. Beliau membuat sebuah rumus:

والمبتداء بالأتوي إكو خبر # أفا لفاعل إيغ لمفعول ظهر

Dengan adanya rumus tersebut, seorang santri yang belajar membaca kitab dengan metode ini akan langsung paham ketika kyai membaca "utawi" maka kata tersebut berkudukan sebagai Mubtada. "Iku" adalah Khobar. "Opo" berarti Fail. Dan sudah jelas bahwa "Ing" merupakan Maf'ul. Metodologi seperti ini jelas tidaklah bisa disusun oleh seseorang yang biasa. Hanya seseorang dengan ilmu tinggilah yang bisa menyusun rumus sehebat ini dan bisa bermanfaat hingga kini. 
        Adapun metode yang akrab disebut dengan metode "Utawi Iki Iku" ini sedikit banyak telah memberikan sumbangsih yang cukup besar dalam dunia literasi pesantren. Dengan eksisnya metode ini hingga saat ini, membuktikan bahwa metode ini memang efektif untuk membantu santri mempelajari kitab. Hampir seluruh pesantren terutama pesanten dengan latar belakang salaf di tanah jawa menggunakan metode ini dalam mempelajari kitab.
 hanya di Jawa, beberapa santri dari daerah ataupun suku lainpun juga merasakan kemudahan membaca kitab dengan metode susunan Mbah Sholeh Darat. Siapapun yang telah terbiasa membaca kitab dengan metode ini, akan merasa janggal ketika dia maupun seseorang membaca kitab tanpa menggunakan metode ini.
       Ketika santri kesulitan memahami susunan kata (tarakib) dalam suatu kitab, maka metode utawi iki iku digadang-gadang menjadi solusi yang ampuh menyelesaikan masalah ini. Dengan begitu para santri akan semakin semangat mempelajari metode ini sehingga semangat membaca kitab oleh para santri juga akan semakin meningkat. Begitu pula dalam meminimalisir generasi yang leterlek, metode ini mempunyai andil cukup penting. Paling tidak dengan memahami metode ini, memahami kedudukan per kata dari suatu kitab, maka pemahaman santri terkait suatu bacaan akan lebih mendalam. Salah satu masalah utama dari beberapa oknum yang salah dalam memahami kitab, baik yang bersumber dari Al-Qur'an, Hadits ataupun sumber lainnya adalah mereka memahaminya secara tekstual. Kehadiran Mbah Sholeh Darat dan menyusun rumus "utawi iki iku", tidak lain juga untuk menumpas generasi leterlek yang amat membahayakan pemahaman orang awam. Rumus "utawi iki iku" ibarat sebuah cangkir dan bermacam literatur ibarat satu termos berisi air yang panas. Maka untuk menikmati air tersebut, dibutuhkan sebuah cangkir untuk menunggu air beranjak hangat kemudian pas ketika diseruput melalui mulut penikmat. Tidak dengan langsung meminum air panas dari termosnya, sehingga akan kepanasan dan melepuh lidah orang yang menikmati air itu. Sebagaimana para oknum leterlek, mereka mengonsumsi secara langsung berbagai literatur secara tekstual tanpa memahami makna yang sebenarnya terkandung didalamnya. 
        Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwasanya sebenarnya sayang sekali jika di saat ini masih ada beberapa santri yang meninggalkan metode "utawi iki iku"nya dan beralih dengan menerjemah kitab secara langsung. Maka urgensi dari metode yang disusun KH. Sholeh Darat dalam mempelajari berbagai literatur begitu nyata. Selain itu, hal ini juga merupakan cerminan bahwasanya KH. Sholeh Darat memilki jasa yang amat besar dengan metode "utawi iki iku" nya, beliau berhasil menyulut semangat literasi pesantren di Nusantara.
        Semoga Allah SWT merahmati beliau, Al-'Alim Al-'Allamah Asy-Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani al-Jawi.
Wallahu A'lam bi Shawab

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar