Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DENTUMAN DARI LAUT

Sumber: tripadvisor.fr


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana 

      Sabtu sore aku dan Rama berencana ikut Paman pergi ke keramba. Bukan baru pertama bagi kami ikut bersama Paman, akan tetapi hampir setiap Sabtu sore kami kerap memutuskan untuk ikut kesana, karena besok sekolah libur. Biasanya kami bertiga bersama Yusuf, namun kali ini ia sedang tidak sehat badan katanya. Paman dan Mang Ujang adalah dua diantara banyak nelayan yang menggantungkan hidup pada laut ini. Hampir setiap sore para nelayan membawa sampannya ke tengah, lalu saat fajar mereka pulang dengan memasang raut sumringah, terkadang kecewa. Demikian rutinitas tetap masyarakat pesisir saban harinya. 

“Fis, kau bawalah jaket kulit yang tebal. Malam ini nampaknya suhu udara akan sangat dingin, terlebih setelah hujan turun”. Aku memeriksa sekali lagi isi tasku untuk beberapa kali, sebab aku sudah pernah merasakan bagaimana pilunya diterpa angin laut di awal bulan. Semenjak saat itu, Ibu selalu menyiapkan kebutuhan melautku sebelum berangkat, terutama jaket.

“Sudah mang. Kau adakah Ram?”

“Ada Fis"

       Rama adalah teman yang bisa dibilang bernasib kurang beruntung sepertiku. Usia kami berdua masih berpaut muda, yaitu usia anak sekolah menengah. Sayangnya dunia terlalu kejam dalam mendewasakan kami berdua. Hingga pada akhirnya kami terkapar menjadi nelayan desa yang berteman ombak dan keramba.

    Matahari telah terbenam bersamaan dengan semburatnya yang mulai menguning, senja akan hilang. Aku sudah duduk di atas sampan dan kami harus sampai di keramba sebelum hari benar-benar telah gelap. Butuh sekitar tiga puluh menit agar sampan benar-benar tertambat dengan tiang keramba.

“Mari kita baca do'a terlebih dahulu” seru Paman seraya menundukan kepala. Merapalkan do'a sebelum pergi melaut merupakan suatu keharusan yang perlu dilakukan. Melalui do'a ini para nelayan percaya bahwa Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi mereka selama berada di tengah laut, mengingat laut adalah tempat yang penuh misteri. Bisa saja di darat cuaca membaik, namun di tengah laut nun jauh disana ombak mengamuk sebesar-besarnya.

      Badan sampan perlahan terjilat oleh deburan ombak. Sebenarnya sampan Paman terlalu kecil untuk disebut sampan, akan tetapi juga terlalu besar untuk disebut sebagai kapal. Ada banyak ukuran sampan di kampung ini. Mulai dari sampan kecil hingga besar seperti milik paman ini. Lebih besar dari milik paman maka sudah disebut sebagai kapal. Hanya golongan masyarakat kelas atas yang mempunyai kapal di sini.

    Aku memakai jaketku sebelum tiba di keramba. Udara benar-benar lima kali lebih dingin di sini. Seperti biasa, aku dan Rama bergegas memberi makan ikan-ikan di keramba. Ada banyak jenis ikan yang dipelihara juragan muda kampung di keramba ini. Jadi Paman hanya bertugas merawat keramba ini setiap harinya sebelum melanjutkan melautnya. 

“Fis, kau dan Rama ikut melaut ke tengah?”
 
“Kami di sini saja Paman, sepertinya ombak juga mulai membesar. Iya kan Fis?” Aku kaget dengan jawaban Rama. Tidak biasanya ia memilih untuk menjaga keramba daripada melaut ke tengah. Aku hanya membalasnya dengan anggukan.

       Seusai Paman dan Mang Ujang tidak terlihat batang hidungnya dan kami berdua juga telah selesai memberi makan ikan dengan udang kecil. Aku dan Rama memilih duduk di dalam saung keramba.  

“Kau tadi kenapa Ram, ada apa kau tiba-tiba tidak ingin ikut ke tengah?” Rama seperti tidak menghiraukanku. Ia terus saja menyeduh bubuk jahe yang dibawanya dari rumah. Lantas diteguknya dengan asap yang masih mengepul panas. 

“Maaf Fis kau tanya apa tadi?”

“Sudahlah lupakan” 

“Lahh kau kenapa Fis, aku benar-benar tidak dengar tadi. Janganlah masam wajah kayak gitu, nambah jelek entar"
 
“Kau pura-pura tak dengar tadi, aku sudah tahu. Sengaja kan?” ujarku dengan memasang wajah marah. 

“Sini kasih bubuk jahenya!” lanjutku.

“Eitss enak saja” 

“Duarrrrr!!” Di tengah hangatnya aku dan Rama bercanda, tiba-tiba dentuman besar meraba telingaku dengan keras. Kami berdua saling tatap lantas berlari keluar saung keramba. 

“Apakah itu suara mesin sampan Paman, Ram?” wajahku memucat pasi, menaruh kecemasan besar akan keselamatan Paman dan Mang Ujang. Tenggorokanku kering oleh air ludah. 

“Sepertinya bukan Fis, mesin sampan terlalu kecil untuk dentuman dahsyat ini”. Jawaban Rama sedikit menghiburku, namun tidak bisa melipur ketakutanku. Lantas suara apa itu??

“Itu Paman Fis!” teriak Rama sembari menunjuk sampan dengan mesin yang masih hidup, tidak meledak seperti yang ku khawatirkan. Wajahku menaruh senyum yang sempurna. Kendati melihat Paman dan Mang Ujang baik-baik saja.

“Apakah kalian tadi mendengar dentuman besar?” bahkan Paman sebelum naik ke keramba pun melontarkan pertanyaan yang sebetulnya ingin aku tanyakan kepadanya. 

“Iya Paman” aku dan Rama hampir bersamaan.

“Mari kita kemasi barang kita lalu pulang”

“Tapi Paman, itu suara apa?” 

“Entahlah, Paman juga tidak tahu”.
 
    Tidak lama berselang, saat sampan kami lima meteran meninggalkan keramba. Kapal-kapal besar melintas berpapasan dengan kami. Ada apa gerangan malam-malam pergi ke laut dengan jumlah yang besar ?
“Itu kapal-kapal milik TNI AL, sepertinya ada pesawat jatuh”. Ujar Mang Ujang menyimpulkan.

“Apakah dentuman tadi berasal dari pesawat jatuh, Mang?” 

“Iyaa...kau benar Fis”


      Saat sampan kami berlabuh di bibir pantai, alangkah terkejutnya aku tatkala penuh dengan orang di sana. 

“Hafissss!!” ibu berlari memelukku. Dekapannya kuat dan aku mendengar ibu terisak.

Ada apa bu?” tanyaku.

“Ada pesawat jatuh nak, ibu takut kau kenapa-kenapa di sana. Tapi syukurlah, Tuhan masih melindungimu nak” kembali ibu memelukku pun Rama yang diperlakukan sama oleh ibunya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar