Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CANDU DEWA MIMPI



Oleh: Syifaul Fajriyah

Gemerlap cahaya terpancar dari lorong sunyi itu. Tiada kehidupan di dalamnya, hanya ada tikus yang mengendap-endap menyantap secuil apel. Hanya aku dan Tuhan yang tau aksinya. Ku telusuri jalanan yang sempit itu, oh sungguh menyengat bau busuk yang terendus. Tumpukan sampah menjadi penyambut langkah demi langkahku. Enggan rasanya harus melangkahkan kaki, namun ada sesuatu yang harus ku dapatkan. Berdosa jika ku memiliki sebetulnya, namun nafsu birahiku telah meluap-luap. Hingga dosa telah ku anggap uang seratus rupiah. Tuhan memang marah padaku, tapi aku juga marah sampai-sampai jadi gila jika tak mendapatkannya. Ya, kerakusan akan duniawi sudah mandarah daging dalam diri.

Siluet seorang dengan rambut panjang tampak dibawah lentera kekuning-kuningan. Mata ini pun membelalak ke arahnya dan ku rogoh saku yang sudah menggembung dengan uang. Sedikit demi sedikit, siluet itu menunjukkan rupanya. Aku tau dia sejenis denganku, tapi ku tetap memanggilnya lady. Ah, masa bodo dengan jati diri waria itu. Uluran tangannya yang berotot tertuju padaku. Ku ambil objek yang menjadi alasan kita bertemu. Dan ku kasih gulungan uang yang menggunung padanya. Ya, objek itu telah menjadi hak milikku. Sebungkus bubuk etep putih telah masuk dalam saku hitam ini. 

Pagi yang cerah, namun usang bagiku. Aku terbangun di atas awan. Namun saat ku lihat, lantai ini masih sama seperti dulu. Ketukan dari sebatang kayu yang membangunkan. Berisik batinku. Sosok wanita anggun nan paras tampak dari balik pintu. Amarah yang semula meluap pun mereda. Ku sanjung kecantikannya, hingga mentari pun tersaingi. Suaranya yang lembut bak seorang permaisuri meluluhkan kebodohan yang telah ku buat. Lontaran kata maaf dariku membuatnya bertanya-tanya akan hal apa. Senyuman dan gelengan kepala, ku berikan untuk melunturkan rasa penasarannya. 

Tasya namanya, wanita periang nan kuat yang memilih suami mantan pengguna narkoba. Ia tau dengan status ini, tapi tetap menerima dengan senang hati. Dengan syarat dan janji menjauhi narkotika dan bersedia di rehabilitasi. Namun sayangnya, kini ku mengingkari janji. Bukan mantan lagi, karena ku gagal Move On untuk yang kedua kali. Rasa bersalah memang menghantui, tapi nafsu birahi tidak ada yang dapat menandingi. Mungkin sudah enam bulan setelah pernikahan, kumulai berteman lagi dengan bubuk candu ini. Kabar ini tertutup rapat, tiada seorang pun tau bahkan janin yang dikandung oleh Tasya. Sekali lagi ku katakan, biarlah aku dan Tuhan yang tau aksi kotor ini. Tinggal tunggu, Tuhan mengingatkan karena masih sayang, atau membiarkan hingga tulang belulang. Ku harap Tuhan masih sayang dan menghadirkan solusi untukku menyudahi.

Purnama datang kembali dan stok dewa mimpi sudah semakin menipis. Ku layangkan aksi, namun berbeda lokasi. Gedung terbengkalai dengan ilalang-ilalang yang memujanya menjadi perkumpulan kami. Pengunjung dengan berbagai profesi datang tak diundang. Bahkan anak bau kencur pun ikut menikmati. Gemerlapnya bintang menjadi saksi, akan aksi yang entah kapan berhenti. Ah, lelah rasanya harus seperti ini hidup yang bergantung dengan benda mati tapi nikmat rasanya, mau gimana lagi sudah jadi kebutuhan primer. Tanpa ku sadari tubuh ini terkikis hari demi hari. Pikirku karena empat sehat lima sempurna tak ku dapat dari sajian yang dihidangkan tiap harinya. Aish... malu rasanya, seorang direktur perusahaan otomotif tidak mendapatkan makanan bergizi. 

Bersambung.....
  


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar