Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BERSEDEKAH SEBAGAI INVESTASI DUNIA DAN AKHIRAT


Oleh: Izzat Imaniya

لينفق ذو سعة من سعته ومن قدر عليه رزقه فلينفق ممآ اته الله لا يكلف الله نفسا إلآمآ اتها سيجعل الله بعد عسر يسرا (الطلاق 7)
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan  memberi nafkah menurut kemamppuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan" (At-Talaq ayat 7).

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) sedekah memiliki arti pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, diluar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi. Bersedekah merupakan salah satu dari sekian banyaknya perbuatan terpuji yang diperintahkan Allah kepada hambanya, perintah untuk bersedekah sangat banyak dalam Al-Qur’an ataupun hadis Rasulullah. Sedekah dilakukan bukan hanya dalam bentuk pemberian berupa harta atau benda saja, melainkan perbuatan dalam bentuk membantu orang lain, meminggirkan duri ditengah jalan sampai senyumpun yang merupakan perbuatan sangat sederhana juga termasuk sedekah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Thabrani “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah”. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bersedekah, karena sedekah dapat kita lakukan dengan berbagai macam cara dan keutamaannya sangat banyak.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda “Apabila anak cucu Adam itu mati, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: shadaqoh jariyah, anak soleh yang memohon ampunan untuk orang tuanya dan Ilmu yang bermanfaat setelahnya”. Sadaqoh jariyah merupakan amal kebaikan yang pahalanya terus mengalir sekalipun yang bersedekah sudah meninggal dunia. Berdasarkan hadis tersebut, sadaqoh jariyah merupakan salah satu dari amalan kebaikan yang pahalanya terus menerus mengalir. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bersadaqoh jariyah agar menjadi ladang pahala sebagai investasi untuk di akhirat kelak. Salah satu contohnya adalah seorang pemuda yang memberikan mushaf Al-Qur’an kepada penghafal Al-Qur’an. Penghafal Al-Qur’an tersebut kebanyakan waktunya bersama Al-Qur’an, kemudian ia membacanya secara berulang-ulang untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Setiap huruf yang ia ucapkan terdapat sepuluh kebaikan, dalam riwayat at-Tirmidzi no 2910 Rasulullah SAW bersabda “siapa yang membacakan satu huruf saja dari kitabullah (Al-Qur’an) dia mendapatkan sepuluh kebaikan. Saya tidak katakana alif lam mim satu huruf, akan tetapi alif itu satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf dan setiap hurufnya sepuluh kebaikan”. Berita baik berdasarkan hadis ini untuk pemberi mushaf Al-Qur’an tersebut adalah ia akan mendapatkan pahala seperti penghafal Al-Qur’an tanpa dikurangi sedikitpun. Sebagaimana hadis Muslim no 1893 yang berbunyi “Barang siapa yang memfasilitasi dalam kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya”.

Selain ganjaran berupa pahala, sedekah juga memilki manfaat dalam hubungan sesama manusia yang sebagai makhluk sosial. Dengan membantu tetangga atau orang sekitar dapat menguatkan hubungan persaudaraan serta menumbuhkan rasa kasih sayang. Pada zaman dahulu terdapat seorang ahli ibadah yang bernama Abu bin Hasyim, ia tidak pernah putus dalam mendirikan sholat malam. Suatu malam ketika hendak mengambil air wudhu untuk mendirikan sholat tahajjud, ia dikejutkan oleh sosok makhluk yang duduk dipinggir sumurnya. Kemudian ia bertanya kepada makhluk tersebut “ wahai makhluk Allah, siapakah dirimu?” makhluk Allah tersebut membalasnya dengan senyuman seraya berkata “Aku malaikat utusan Allah” seketika Abu bin Hasyim terkejud dengan ucapan malaikat tersebut, hal tidak disangka-sangka sedang ia alami, kedatangan malaikat makhluk Allah yang mulia. Kemudian Abu bin Hasyim bertanya kepada malaikat tersebut apa tujuan kedatangannya, malaikat tersebut menjawab “Aku diperintahkan untuk mencari hamba pecinta Allah” malaikat tersebut hadir dengan membawa kitab tebal yang berisi kumpulan nama-nama hamba pecinta Allah. Kemudian Abu bin Hasyim bertanya kepada malaikat “Wahai malaikat, adakah namaku dalam kitab itu?” akan tetapi malaikat tersebut tidak menemukan nama Abu bin Hasyim. Hal ini membuatnya tidak percaya karena ia selalu bermunajat kepada Allah dan mendirikan sholat tahajjud setiap malam, kemudian Abu bin Hasyim meminta kepada malaikat tersebut untuk memeriksa namanya kembali. Akan tetapi setelah memeriksa kembali nama Abu bin Hasyim masih tidak ditemukan dalam kitab kumpulan nama-nama hamba pecinta Allah tersebut. Ia pun terjatuh menangis dihadapan malaikat seraya meratap “Rugi sekali diriku yang selalu mendirikan tahajjud dan bermunajat kepada Allah akan tetapi namaku tidak terdapat dalam kitab kumpulan nama-nama hamba pecinta Allah”. Melihat tangisan dan rintihan Abu bin Hasyim, malaikat berkata kepadanya “Wahai Abu bin Hasyim, bukannya aku tidak melihatmu setiap malam kedinginan mengambil wudhu untuk mendirikan sholat tahajjud, akan tetapi Allah melarang tanganku untuk menulis namamu”. “Apakah penyebabnya?” Tanya Abu bin Hasyim. Malaikat menjawab “Engkau bermunajat kepada Allah akan tetapi engkau pamerkan kemana-mana dengan rasa bangga. Engkau mendirikan ibadah dan hanya memikirkan diri sendiri sedangkan disekitarmu terdapat orang sakit, terdapat orang yang kelaparan, terdapat orang yang sedang bersedih dan engkau tidak memperdulikannya. Bagaiman bisa engkau menjadi hamba pecinta Allah jika dirimu saja tidak pernah mencintai hamba-hamba Allah”. Dari kisah tersebut kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga bahwasanya sangatlah penting bagi kita untuk menjaga hablu minallah dan hablu minannas. Dengan bersedekah, kita bisa membantu sesama manusia serta bisa membuatnya bahagia dan dengan bersedekah pula, kita bisa melaksanakan perintah Allah dan ajaran Rasulullah. Maka sangatlah pantas jika kita jadikan sedekah sebagai amalan untuk investasi dunia dan akhirat. Semoga kita senantiasa terjaga dari godaan syetan dan Istiqomah dalam menjalankan perintah-perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar