Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BERJASALAH TAPI JANGAN MINTA JASA


Oleh : Daiyatul Choirot

Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 WIB, kubiarkan angin malam masuk kamar pondokku yang tepat di arah kakiku, tiupan angin yang menggelitik badan seakan memaksaku untuk bangun dari mimpi indahku, belum lagi suara alarm jam yang kian bersautan tapi tak ada satupun yang punya inisiatif untuk bangun. hmm ntahlah apa maksud mereka, husnudzon saja mungkin mereka terlalu kecapekan setelah seharian aktivitas pondok dan sekolah, ternyata tidak sampai itu saja runtutan pagiku yang menyeramkan, setelah itu selang sekitar 10 menitan terdengar suara umik yang sudah mulai keluar dari ndalem sambil membawa tongkat dan semprotan air yang dibuat memandikan burung-burung, “ayokk qumna qumna, mbak-mbak iku kudu sing sregep, ayok bangun tahajud persiapan sholat subuh, nduk dai ayok bangun, anak-anak kamarnya dibangunin, ketua kamar harus sigap”. Kurang lebih seperti itu suara umik ketika membangunkan kami, dengan diiringi suara tongkat yang di gedorkan ke pintu kamar-kamar, belum lagi semprotan air yang semakin meluncur dari jendela kamar jika tidak ada satupun dari santriwati yang menjawab “nggeh mik”. Sontak semua langsung bangun dan keluar kamar memakai kerudung seadanya yang penting kerudung ada diatas kepala, sambil mata kriyip-kriyip tapi tangan mulai menggapai tempat sabun yang berisikan seperangkat alat mandi, berjalan menuju midhoah untuk antri kamar mandi dan berwudhu. Sembari menunggu antrian kamar mandi dan wudhu kami mengambil gelas yang berisikan air embun yang kita taruh didepan kamar sebelum kita tidur, tentang rasanya, aahh mantap kali lah, itu ibaratkan air kulkasnya anak pondok, tapi itu bagiku aku hanya mengambil khasiat dari air tersebut diniati untuk kesehatan, tapi beda lagi jika temenku yang mengambil khasiat air tersebut untuk pernafasan suaranya. Wa allahu a’lam bishowab.
Bulan-bulan akhir yang membosankan ketika menjadi SAT (Santri Akhir Tahun), disamping kita yang tinggal menuju jenjang kelulusan UN UAMBN wa ala alihi, gemblengan Abah, amaliyah dll. Kita seperti seorang tahanan yang detik-detik akan keluar dari penjara suci, layaknya putri kecil yang sedang dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Semua serasa bebas, tapi beda lagi dengan sebagian dari kita yang mendapat amanah menjadi panitia pendaftaran, yang dari pagi sampai sore full jaga pendaftaran, nikmat-nikmat capek sih tapi bagaimana lagi namanya juga amanah, yang kita cari hanya barokah kyai. Tak terasa memang waktu itu tinggal 2 minggu masa-masa dipondok, setelah 6 tahun berada di penjara suci. Antara senang, sedih dan bingung. Senang karena kita merasa lepas dari peraturan pondok yang mencekam tiap detiknya, seperti burung yang lepas dari sangkarnya, tapi disamping rasa senang terselip rasa sedih, bagaimana gak sedih setelah sekian lama bersama, dari membuka mata sampai menutup mata hanya mereka-mereka yang mengisi kegiatan-kegiatan hidup, namanya juga setelah adanya pertemuan pastinya ada perpisahan, sedih karena kemungkinan besar kita bakalan sulit untuk mengatur jadwal buat ketemuan dikarenakan kesibukan pribadi mereka masing-masing, bingung karena setelah ini mau kemana, lanjut kuliah kah, ngabdi kah, lanjut mondok kah, mondok sambil kuliah kah, kerja kah, atau mungkin menikahkah, hmm sepertinya kita bosen dengan pertanyaan-pertanyaan itu ketika kelas 6 KMI. 

Detik-detik pembacaan pengabdian tiba, antara dag dig dug campur aduk, contohnya saja aku, yang sudah berhusnudzon dari awal jika tak mau yang namanya ngabdi, tapi rasa dag dig dug tetap aja gak hilang-hilang, ditambah ada teman kamar yang menjadi mata-mata dari ruang BAK, tahu nama-nama pasukan yang akan dikerahkan untuk mengabdi, tiap pulang dari ruang BAK dia selalu bilang “yang sabar ya da kalau tidak sesuai keinginanmu, yang ikhlas, kalau bisa PJ ya biar tambah barokah”, malah yang ada suudzon aja nih hati. Seangkatan sudah mulai berkumpul di dalam masjid guna menunggu detik-detik yang menegangkan ini, sudah kaya dilamar ajar rasanya kata asatidz deg-degannya. Dan 1 2 3 darr nama-nama mulai terpanggil satu persatu, dari nama anak-anak yang ngabdi, anak-anak yang keterima PTKIN dll, huuhh Alhamdulillah Ya Allah kata yang berulang-ulang kuucapkan ketika mendengar namaku yang termasuk golongan orang yang masuk PTKIN bukan yang Ngabdi, “silahkan yang ngabdi bisa menetap di masjid karena ada gemblengan dari Abah, yang masuk PTKIN bisa langsung ke kantor karena nanti juga ada gemblengan dari abah setelah dari masjid ini”, kurang lebih seperti itu kata-kata ustadzah BK, tak lama anak yang aku bilang mata-mata BAK menghampiriku sambil bilang “kok aku bingung ya, kok datanya ada yang berubah, kok kamu gak jadi ngabdi”. Dengan nada kesel aku menjawab “karna husnudzonmu kalah sama husnudzonku” kataku. Akhirnya setelah penantian panjang duduk dikantor, Abah datang setelah ada gemblengan dari masjid, “Bismillahirrahmanirrahim, anak-anak abah, disini kalian harus banyak-banyak bersyukur karna mungkin ini keinginan kalian yang kalian dambakan sejak dulu dan terkabulkan di Universitas-universitas yang kalian pilih sendiri, tapi sebenarnya ada diantara kalian yang namanya sudah dicalonkan menjadi ustadz ustadzah pondok tapi takdir berkata lain, gak papa Abah ridhoi nak, tapi harus diingat kalian keluar dari pondok membawa almamater pondok  dimanapun kalian berada, maka dari itu jaga sopan santun selalu, meskipun kalian gak ngabdi disini, tapi abah doakan setelah ini kalian ngabdi ditempat kalian masing-masing, yang kuliah kalian ngabdi disana ntah diamanahi jadi ketua atau apalah, itu namanya juga ngabdi nak, yang kuliah sambil mondok juga sama, kalian abah amanahi untuk selalu menyebarkan ilmu, jangan sampi ilmu kalian tidak bermanfaat, kalian mungkin merasa belum dapat apa-apa dari pondok, tapi ketahuilah ilmu sedikit kalian itu akan dicari-cari oleh orang-orang, ingat selalu kata-kata abah ini, Berjasalah tapi jangan minta jasa nak, jika ada orang lain minta bantuan dari kalian, bantu saja semampu kalian, ingat itu, itu yang harus digaris bawahi.” Ya Allah sebuah amanah yang tak terduga sebelumnya, ternyata kata-kata “berjasalah tapi jangan minta jasa” baru ditemukan ketika kita keluar dari pondok, ketika sudah menyandang kata alumni. Mungkin sebagian orang menganggap sepele tapi artinya Masya Allah.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar