Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BATIK RUMAHAN ALA BU TITIK SUSDIYAH


Oleh : Meisya Eva Natasya

        Bu Titik susdiyah merupakan  salah satu  masyarakat yang masih melestarikan batik tulis di dusun Kekep, desa Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu. Beliau termasuk pengrajin batik yang sangat telaten . Pada tanggal 28 Desember 2020, perwakilan KKM UIN Malang berkesempatan  untuk berbicang-bincang dengan beliau. Beliau menceritakan awal mula memulai batik sampai sekarang beliau sudah memiliki banyak karya batik hasil tangannya sendiri dan juga  sudah banyak yang terjual. 
        Pada tahun 2017, di desa Tulungrejo mengadakan kegiatan pelatihan membatik untuk ibu-ibu rumah tangga yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan kota batu. Beliau sangat antusias dengan kegiatan pelatihan membatik tersebut karena beliau sangat suka dengan seni  salah satunya seni menggambar. Dengan diakadakannya pelatihan membantik, beliau sangat tertantang  dengan mengikuti kegiatan membatik dan dari situlah beliau mendapatkan banyak ilmu yaitu seni membatik. Setelah mendengar cerita beliau, saya sangat tertarik untuk membahas kerajinan batik tulis secara mendalam karena kebetulan saya juga sangat senang dengan seni menggambar.
        Membatik tidak semudah yang dibayangkan, akan tetapi sangat banyak orang yang penasaran dengan car pembuatan batik tulis. Hal ini dikarenakan membatik merupakan salah satu kegiatan yang saat ini harus dilestarikan. Karena batik merupakan salah satu ciri khas orang Indonesia. Ibu Titik Susdiyah membeberkatn beberapa bahan dan tahapan dalam membuat batik tulis. Alat dan bahan yang dibutuhkan seperti wajan dan kompor kecil, canting, kain mori, lilin, kertas hvs, dan juga pewarna. Sedangkan proses pembuatan terdiri dari beberapa tahap.
        Tahap pertama, diawali dengan menggambar  pola diatas kertas  hvs. Kemudian dilanjutkan dengan menggambar pola diatas kain dengan cara meletakkan kertas berpola dibawah kain mori kemudian mulai menggambar pola menggunakan pensil 5B.
        Tahap kedua, setelah kain selesai diberi pola selanjutnya  adalah proses pencantingan , yaitu proses pemberian lilin dengan cating pada motif yang telah dibuat yang bertujuan untuk menutup permukaan kain yang tidak ingin diwarnai. Nah, proses inilah asal dari nama batik tulis. 
        Tahap ketiga,  pemberian warna pada kain. Kain dicelupkan kedalam air yang sudah dicampur pewarna secara merata. Kain yang telah berwarna dibilas dengan air bersih kemudian dijemur sampai kering. 
        Tahap keempat, setelah kain berwarna kering kemudian dicantingi kembali agar mempertahankann warna yang telah diinginkan dengan cara menutupnya dengan lilin.
        Tahap terakhir, proses penglorotan. Penglorotan ini merupakan  tahap penghilangan lilin pada kain dengan cara memasukkan kain kedalam air rebusan yang sudah mendidih selama kurang lebih lima menit. Kain sesekali diaduk dan diangkat menggunakan kayu panjang lilin. Jika merasa lilin sudah hilang, kain batik dicuc menggunakan air dingin sampai bersih untuk menghilangkan sisa-sisa warna maupun kotoran. Tahap terakhir adalah menjemur batik tulis. 
         Itulah beberapa tahap pembuatan batik yang telah diajarkan oleh ibu Titik Susdiyah. Karena prosesnya yang sangat lama dan sulit, tak heran harga harga batik tulis sedikit lebih mahal dari pada batik cap dan batik-batik lainnya. 
         Batik merupakan salah satu bentuk seni kerajinan yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Yang membedakan adalah ketekunan dan kesabaran ketika membuat motif batik tersebut. Batik sudah sangat terkenal di Indonesia khususnya di Jawa. Beliau ingin sekali melestarikan batik khususnya di dusun kekep dan beliau masih mencari hala-hal menarik yang ada di dusun Kekep Tulungrejo.  

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar