Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

THE SECRET BUTTERFLY


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana 


       Bibi malam ini berencana pergi dan paman belum kunjung pulang dari proyeknya di danau Rose. Tinggallah aku dan adikku Ariana di kios yang terhubung dengan rumah sederhana ini. Hujan siang tadi cukup deras, sehingga menyisakan genangan-genangan kecil di sepanjang jalan hitam menuju ke kota Wonton. Arina berumur tiga tahun atau setahun lebih muda dari gadis Bibi yang meninggal di kebun binatang kota. Bukan karena diterkam beruang atau jatuh ke kandang buaya, tapi gadis malang itu keracunan permen kapas yang dibelinya. Saat itu aku merasakan kehancuran hati Bibi, bahkan saat prosesi pemakamnnya berulang kali ia tersungkur pingsan ke lantai. Terlebih Marcella adalah gadis tunggalnya. 

       Dengan mengenakan piyama merah tua, Bibi  berjalan menuruni anak tangga sembari menenteng tas mahal miliknya. 
"Malam ini Bibi ada acara di dekat balai kota, mungkin sekitar lima jam lagi tante kembali

" aku masih tenggelam dengan majalah harian Alkaline sedang Ariana bermain puzzle yang terkadang membuatnya kesal sendiri.
"Lyn kau dengar Bibi ??" Aku mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari majalah fantasi itu.
"Baiklah, mungkin tiga jam lagi pamanmu pulang, beri tahu dia dimana Bibi berada"
"Baik Bi"
 Sebelum keluar dari pintu, Bibi mengecup kening Arina dan aku tentunya. Sebuah syal sutra putih ku kalungkan di lehernya.
"Untuk Bibi cantikku agar tidak kedinginan di sana" Ia tersenyum kecil dan mengecupku untuk kedua kali sebelum berlalu.
       
       Malam yang dingin untuk dua gadis kecil di rumah. Setelah menuntaskan majalah, aku melihat Ariana telah tertidur pulas di tumpukan puzzlenya. Paman Rey yang belum juga kunjung pulang, memaksaku untuk mengangkat saudara perempuanku sendirian ke atas shofa. Tidak biasanya malam di Screm sedingin ini, ternyata saat aku membuka gorden hujan sedang turun di luar. Mungkin hujan sedang menanahan Paman Rey di sana.
 
       Ariana masih tertidur pulas, terlebih saat selimut tebal ku tutupkan tubuh kecilnya. Rumah ini sangat hening, meski hujan sedang deras di luar. Aku hanya duduk terdiam di samping Arina, tapi lama-lama hal itu membuatku bosan. Di tengah kebosananku, tiba-tiba suara musik nyaring terdengar dari kamar atas. Terdengar seperti musik dansa. Aku mengikutinya.

       Sampai di atas, seakan suara musik nyaring itu hilang ditelan derap kakiku. Ada tiga kamar, kamar pertama nampak terkunci pun dengan kamar kedua. Namun saat pandanganku mengarah ke kamar ketiga, aku melihat sebuah cahaya yang terpancar dari cahaya lampu dalamnya. Pintunya terbuka kecil, sehingga nampak membentuk bayangan jajargenjang di tengah kegelapan. Rasa penasaranku kian memuncak. Dugaanku salah, tiada seorang pun di atas ranjangnya. Aku juga tidak melihat kotak musik, hanya jepitan kupu-kupu tergeletak di atas ranjang.
"Brakkkk. . ." Sepertinya Ariana terjatuh dari Shofa. 
"Aku tidak suka main boneka" tunggu, siapa lawan bicara Ariana ?? Sepanjang menuruni anak tangga, sepanjang itu pula Ariana mengoceh di bawah. Betapa terkejutnya diriku, saat mendapati Ariana duduk sendiri di hadapan boneka dan tumpukan puzzle yang belum diselesaikannya. 
"Kamu jangan lari, di sini saja. Ayo bermain bersama" Ariana berjalan pelan seraya melambai-lambaikan arahnya ke arah dapur, seperti mengajak seseorang. Aku hanya mengikutinya dari belakang. Saat tiba di dapur, seperti dugaanku. Kosong. Namun saat berbalik badan, 
"Arghhh" 
Sepasang mata berdiri di samping adik perempuanku. Rambutnya indah, berhias jepit kupu-kupu yang sama dengan di kamar atas. Pipinya lesung, namun wajahnya agak pucat. Sepucat gaun yang dikenakannya. Gadis itu hanya terdiam, selama Ariana mengajaknya bicara. Jadi ia diperlakukan Ariana seperti halnya boneka, bertanya sekaligus menjawabnya sendiri. Sebenarnya aku ingin menjerit, karena gadis bergaun pucat itu adalah

"Tok, tok, tok" sepertinya Paman dan Bibi telah tiba di rumah. Saat aku membuka pintu, aku terbelalak dua kali lebih lama. 
"Kau kenapa Lyn ?" Ariana datang bersama Paman dan Bibi. Yang lebih mengejutkan lagi, ia mengenakan gaun pucat dan jepit kupu-kupu yang sama dengan gadis aneh itu. Lalu siapa mereka berdua tadi ?? Aku tidak akan lagi izin ibu untuk menginap di rumah Bibi lagi.

Source image: Paragram.id


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar