Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SORE TERAKHIR BERSAMA LARAS


Oleh : Hilwah Tsaniyah 

Entah sudah berapa kali aku dan Laras menerjang hujan saat pulang sekolah. Bel pulang sekolah pukul 4 sore, dan hari ini adalah hari ekstrakulikler anak pramuka. Karena Laras mengikuti ekstrakulikuler pramuka, jadi aku menunggunya selesai berkegiatan. Langit sudah mendung sejak tadi, tapi Laras belum juga selesai. “yah, nanti hujan di jalan lagi nih.” Batinku. Aku menunggunya di kantin bu Wati sambil minum es teh bersama beberapa temanku yang juga masih berada di kantin. Sampai tetes terkahir es tehku yang ada di gelas, sepertinya belum juga ada tanda-tanda Laras mengirim pesan kepadaku sebagai tanda bahwa ia telah selesai. 

Bel ke 2 setelah bel pulang sekolah pun berbunyi. Tanda bahwa seluruh siswa harus segera meninggalkan sekolah karena sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tak lama setelah bel berbunyi, pesan masuk dari Laras bahwa ia telah selesai dan menungguku di depan gerbang sekolah. Aku dan teman-temanku yang lain segera bergegas dari kantin menuju parkiran.

Laras memberikan kunci motornya kepadaku. Aku, dengan cepat mengambil motornya dan menancap gas dengan cepat agar tidak lagi basah kuyup di jalan. 

‘Yasmin, lu bawa jas hujan ga? Langit udah gelap banget nih’ Kata Laras kencang dengan kepala agak miring ke kiri.

Engga bawa ras, gua lupa. Kalo lu bawa dan mau minggir pake jas hujan bilang aja ya’ kataku.

‘Gua juga lupa bawa yas, paling minggir dulu buat pakein jas hujan tas gua nih.’

Akupun segera berhenti di pinggir jalan untuk memakaikan jas hujan tas yang berada di bagian bawah tas, begitu juga aku.

Hujan deras, angin kencang, dan suara petir yang bergemuruh menemani kami saat perjalanan pulang kerumah. Kami tak menyempatkan waktu untuk berteduh karena jarak dari sekolah kerumah tidak terlalu jauh. Namun tetap saja, sedekat apapun jaraknya kami akan tetap kebasahan karena hujan yang begitu lebat. Untungnya rumahku berada di depan gang, jadi Laras tak perlu repot-repot bolak-balik untuk mengantarku. 

***

Setelah lulus sekolah, Laras keterima di kampus impiannya di luar kota, sedangkan aku memilih untuk tetap berada di kotaku, di kampungku sendiri. Memang tak ada yang berubah dari pertemanan kami, hanya saja kegiatan perkuliahan yang begitu sibuk membuat kami jarang berkomunikasi. 

Karena kecintaannya dengan alam, Laras ikut salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) pecinta alam di kampusnya. Sebelumnya Laras memang senang mendaki gunung, bahkan setauku ia sudah mendaki beberapa gunung di Pulau Jawa. 

Sampai pada akhirnya kabar duka itu datang lansung dari pesan whatsapp adiknya Laras. Ia, Laras hilang saat sedang mendaki gunung karena ia berusaha lebih cepat dari teman-temannya yang lain. Padahal menuju puncak gunung bersama-sama itu adalah suatu kepuasan dan pasti sangat berkesan. Tim pencarian sudah mencari dengan sekuat tenaga, namun akhirnya mereka berhenti karena tidak ada tanda-tanda keberadaan Laras.

Rupanya sore itu menjadi sore terakhir kami dan masih begitu banyak lagi kenangan-kenangan yang kami lalui saat bersekolah dulu.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar