Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Mengenal Sang penyair dari Mesir



Oleh: Inayatul Maghfiroh

Ahmad syauqi  bin Ali bin Ahmad Syauqi,  merupakan nama lengkap dari sosok pengarang kitab syi’ir yang sangat popular  yang berjudul Diwan Asy Syauqiyah. Beliau mengabdikan seluru h hidupnya pada syair, selain itu beliau terkenal dengan julukan Amir Syu’ara yang artinya  pemimpin para pujangga. Beliau lahir di Kairo pada tahun 1868 dan wafat di Kairo juga. Seiring bertambah usianya tumbuh menjadi penyair di Kairo. Sejak kecil, tepatnya usia empat tahun beliau sudah dikenal sebagai siswa berprestasi karena kecerdasannya, setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, beliau melanjutkan pendidikannya ke Prancis untuk mendalami bidang keilmuan hukum dan sastra, dan memasuki jurusan terjemah selama   dua tahun.

Kemampuannya dalam melantukan berbagai macam puisi menjadi daya tarik Muhammad Rajab Al-Bayumi seorang penyair terkenal pada masa itu sekaligus guru bahasa Arab Ahmad Syauqi sendiri. Sehingga hal tersebut menjadikan guru beliau sangat mantap untuk mengkadernya dalam bidang kesusastraan, yang pada akhirnya beliau sering diajak untuk menghadiri pertemuan- pertemuan sastra dan budaya. Hingga keberhasilan beliau sampai pada pemerintah Mesir yaitu pada masa Taufiq Pasya tepatnya pada tahun 1879-1892, setelah menyelesaikan pendidikan di jurusan terjemah, beliau dikirim ke Perancis  oleh Taufiq Pasya untuk lebih mendalami bidang keilmuan hukum dan kesusastraan, dan pendidikannya di Perancis diselesaikan dalam kurun waktu 4 tahun, tepatnya 2 tahun di Montepelier, dan 2 tahun lainnya di Paris.

Setelah menggeluti dunia pendidikan, baik teori ataupun pengembangan bakat dan minat, beliau kembali ke Mesir dan mengarahkan kegemaran membaca puisinya pada karya-karya sastra Arab, seperti karya Abu Nuwas, Abu Tammam, dan Al Mutanabbi, selain itu kembalinya belia ke Mesir juga mendapatkan sambutan hangat dari pihak pemerintahan, hingga pada tahun 1892-1814 beliau diangkat menjadi kepala kantor penerjemah, dan jabatan itu dipegangnya selama 20 tahun, yang artinya selama itu pula beliau mengembangkan bakat puisinya, hingga menjadi perwakilan negara Mesir pada tahun 1894 untuk menghadiri suatu kongres di Swiss.

Tepat ketika Inggris berhasil menduduki Mesir, yang artinya perang dunia 1 sedang berlangsung, beliau merupakan orang yang dianggap berbahaya dan harus diasingkan dari Mesir. Beliau diasingkan ke Spanyol hinggan berakhirnya perang dunia, dalam pengasingannya beliau menyempatkan berkunjung ke kota- kota di Spanyol untuk menyaksikan peninggalan bangsa Arab dahulu, diantara beberapa kota yang dikunjungi yaitu Cordoba, Granada, dan Seville.

 Setelah mengalami pengasingan, beliau bergabung bersama tokoh-tokoh pergerakan, beliau melakukan pembelaan nasib negara-negara terjajah melalui puisi-puisinya yang dikirim ke berbagai surat kabar dan majalah mingguan, dimana dalam tulisan-tulisannya beliau menyerukan agar umat Islam di seluruh dunia bersatu dalam satu barisan untuk berusaha bersama-sama merebut kembali kejayaan umat Islam di masa silam. Beliau menyerukan puisi-puisinya yang selalu membangkitkan perasaan nasionalisme, melahirkan gairah kebangsaan juga jiwa patriotik. Selain itu, beliau juga dipilih menjadi anggota Majelis Perwakilan Rakyat Mesir, hal ini terjadi setelah beliau menyampaikan gagasan dalam tulisan-tulisannya dalam majlis tersebut.

Tepat pada tahun 1927 beliau menerbitkan antologi puisinya yang berjudul “Asy Syauqiyyat”, yang terus bertambah jilidnya seiring semakin banyaknya puisi yang beliau gubah.  Secara umum, gagasan yang terkandung dalam puisi beliau yaitu tentang hal hal yang berkaitan dengan kebangkitan bangsa-bangsa Arab juga nasionalisme dalam berbangsa, yang mana karya beliau masih bisa kita nikmati hingga saat ini, semoga beliau mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah swt. Aamiin


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar