Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MARTAMIN

https://www.pinterest.ca/pin/649081365023091597/


Oleh : Siti Fathimatuz Zahro’

Lelaki sejati yang katanya kelahiran Magelang 19 Februari 1953. Seorang pekerja manol di pasar Rejowinangun dengan upah Rp. 7.500 sekali angkut. Peluh mengkilat di pelipisnya menambah kesan eksotis kulit legamnya. Perawakan tinggi kurus dengan rambut ikal serta gigi menguning gegara ngopi ngrokok setiap hari. Baru datang pesan kopi lalu kopi habis pesan lagi. Makan nasi jika ingin dan ngrokok tiada henti. Bau sengak ketiak hitamnya yang hanya basah oleh air hujan. Kemeja kaos kumal basah oleh keringat dan kering oleh panas matahari. Sungguh manol sejati. Namun setiap harinya tak pernah luput dari pandangan ibu-ibu yang mau dibantu menggotong karung-karung belanjaan. Segala macam hasil tani dari tengkulak hingga karung-karung berisi kebutuhan pokok manusia. 

Lelaki sejati yang beristrikan 3 orang wanita lemu ginuk-ginuk namun tak pernah lama menduduki jabatannya. Paling lama 9 tahun lamanya. Ada yang sakit lah, ada yang kecelakaan lah, ada yang diguna-guna orang lah. Pasti ada saja alasan maut menjemput. Soal kehilangan, Martamin sudah biasa. Hingga akhirnya ketika ditawari untuk menikah lagi dia selalu menjawab 'Nanti juga mati lagi'. Tapi Martamin tidak pernah menyalahkan Tuhan. Dia paham jika semua itu adalah sebuah ketetapan sifatnya sementara. Dia punya kuasa apa untuk memberontak. Jiwanya yang bebas tak membuatnya merasa kesepian sekali pun anak cucunya tidak tinggal serumah dengannya. Ia menempati rumah peninggalan istri pertamanya dulu. Rumah yang mereka bangun dengan pondasi sehidup semati tanpa pusing soal harta gono-gini. 

Istri pertamanya juga seorang buruh wanita di pabrik keripik slondok.Makanan khas Magelang yang bisa dijumpai di setiap sudut kota. Ia berdiam di pekerjaan menumbuk singkong sebelum nantinya dipipihkan dan dibentuk. Bertahun-tahun bekerja disana bahkan jauh sebelum mengenal Martamin yang juga buruh manol di pabrik itu. Mengangkut karung berisi singkong yang baru diborong dari petani Bandongan. Istrinya Martamin termasuk buruh wanita senior di pabrik itu. Hingga juragan pun mempercayainya mengawasi buruh yang lain ketika juragan pergi ke kota. Sudah sifat dasar manusia yang tak pernah merasa cukup membuatnya diguna-guna teman buruhnya. Berawal dari sakit panas dingin hingga akhirnya membuat perutnya membesar seperti orang hamil tua. Urat-uratnya mengular keluar nampak di permukaan kulit. Gombal kain tak luput dari muntahan darah yang selalu ia keluarkan. Makan tak sanggup berdiri pun jatuh ambruk. Bertahun-tahun ngembang amben hingga menemui ajalnya. Persaingan kerja sudah beranak pinak dari jaman tv kelir hingga sekarang. Eksistensinya masih patut diacungi jempol dan tak usang oleh waktu.

Pernah suatu ketika aku bertemu Martamin saat dia istirahat setelah mengangkut bawang putih yang akan dikirim ke Pulau Bali. Bawang Jawa lebih digemari oleh penduduk Bali untuk ramuan rempah kesehatan khususnya oleh orang-orang lanjut usia. Bawang putih ini direndam dengan air hangat kemudian dicampur dengan madu. Khasiatnya untuk mencegah resiko kanker dan influenza. Aku tidak sengaja untuk menemuinya. Hanya kebetulan ketika aku duduk menunggu oplet datang dan ia juga duduk disana. Tetiba ia menanyakan kesibukan ku dan lingkup keluarga ku. Ku jawab apa adanya jika masih gadis dan hidup bersama orang tua ku. Kakak ku seorang laki-laki dan sudah menikah dengan wanita dusun sebelah. Pernikahannya yang masih 2 tahun ini diberi momongan thole gendut mengikuti perawakan ibunya. Aku sehari-hari membuat jajanan puthu ayu yang ku titipkan di kios-kios pasar. Jajanan berwarna hijau dengan kelapa ditengahnya. Bau sesumbar daun pandan adalah ciri khas jajanan itu. Setidaknya setiap harinya ku buat lima puluh biji dan ku taruh di lima kios. 

“Perawakan mu kembang. Siapa pun didekat mu pasti terpikat tanpa kau katakan apa-apa. Hmmm... Apa lagi jika kau katakan apa-apa, sudah pasti orang-orang akan manggut-manggut. Pendapat mu akan selalu diterima tanpa disanggah. Saran mu akan dilakukan tanpa tahu itu benar atau tidak. Apa lagi mesem mu. Semanis puthu ayu yang kau buat. Mangkanya kue mu selalu habis di setiap kios. Betul kan nduk?”

Belum sempat aku tanyakan kembali soal perawakan kembang yang dikatakan Martamin. Oplet jurusan rumah ku sudah tiba dan aku pamit pulang dahulu. Martamin hanya membalas dengan anggukan sembari menyemburkan asap rokoknya. Sepanjang perjalanan pulang aku  terus terngiang perkataan Martamin. Hari-hari berikutnya tak pernah aku berbincang lagi dengannya. Setiap kali aku keluar dari pasar, dia selalu mengangkut karung-karung namun selalu ku tanggap dengan ekor mata ku jika dia selalu menatap ku hingga aku menaiki oplet dan hilang di tikungan.

Hingga sebulan kemudian aku menyandang status nyonya Martamin


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar