Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LEGALNYA PERBUDAKAN PADA MASA DINASTI ABBASIYAH


Oleh: Muhammad Hadiyan el Ihkam


       Salah satu kebiasaan yang dilakukan pada masa Dinasti Abbasiyah adalah jual beli budak. Budak yang diperjualbelikan berasal dari suku dan bangsa yang berbeda. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari tawanan perang atau dibeli dari seseorang. Budak yang diperjualbelikan laki-laki dan perempuan yang kebanyakan digunakan untuk hawa nafsu mereka atau digunakan untuk nyanyian serta tarian. Budak perempuan banyak yang dia menggoda laki-laki lain dengan kerdipan mata atau senyumnya yang menawan ditambah lagi penampilannya yang cenderung menarik bagi siapa saja yang melihatnya. 
        Al-Jahid menjelaskan keadaan mereka. Satu budak perempuan berkumpul dengan tiga atau empat orang yang jatuh cinta padanya. Mereka melakukan kesenangan hawa nafsu dan melakukan kemaksiatan. Ketika selesai melakukan kesenangan, si budak perempuan memberi mereka tulisan dengan satu salinan, yang menjadi pengingat bagi masing-masing mereka. Tulisan tersebut menjadi pengikat dan mendorong mereka untuk berkhalwat. Andai bukan iblis yang bersama mereka, membunuhnya, bukan ilmu yang mengajak mereka, atau hawa nafsu yang yang menarik kecuali para budak-budak itu, maka itu sudah cukup.
       Kerusakan moral yang banyak dilakukan oleh para budak laki-laki atau perempuan pada masa itu telah sampai pada perilaku bermesraan secara terbuka. Perilaku buruk tersebut jelas-jelas telah menghilangkan kemuliaan laki-laki dan perempuan. Para perempuan menggunakan kebebasan sebagai pakaian sehari-hari. Mereka menggunakan pakaian sesuka hati mereka tanpa ada aturan yang mengikat. Kehidupan berkembang dan bangsa Arab tidak kembali menjadi bangsa yang menekankan pada syair yang menggambarkan harga diri mereka dan mengangkat derajat perempuan dari kehinaan. Bahkan para penyair Persia-lah yang melakukannya, karena pada saat itu kebanyakan penyair dari persia. Mereka tidak tahu cara mengangkat derajat perempuan dari kejahatan. Bahkan menyerahkannya dengan apa yang mereka susun dengan jelas dalam syair-syair mereka, seperti Muthi' ibn Iyas dan kawan-kawannya di Kufah, Basyar ibn Burd dan kawan-kawannya di Bashrah. Menjadi mustahil syair-syair Basyar mengajak untuk membenahi tabiat cara berpakaian. Pada masa itu juga terdapat ulama besar seperti Wasil bin Atha’ dan Malik bin Dinar menyeru untuk berhenti berbuat kerusakan dan segera bertaubat.
       Al Mahdi pada saat itu menjabat sebagai khalifah mendukung seruan  Wasil bin Atha’ dan Malik bin Dinar untuk berhenti berbuat maksiat dan segera bertaubat. Bagi penyair dan para budak yang tidak mengikuti seruan Wasil bin Atha’ dan Malik bin Dinar akan dikenai hukuman. Karena hal ini sebagian para penyair menangis, bertaubat karena telah bermaksiat. Meskipun begitu kemaksiatan tersebut telah meluas keseluruh daerah. 
       Kehidupan di Baghdad tidak semuanya rusak. Karena Islam menghalalkan budak dan poligami dan inilah yang dilakukan masyarakat Baghdad yang pada akhirya tidak berbuat maksiat sebagaimana masyarakat pada daerah lain. Alasan inilah yang membuat Syauqi Dhaid mengajak pembaca untuk berprasangka baik bahwa penduduk Baghdad berakhlaq mulia dan taat pada syariat Islam. Mungkin hanya kota Karh tempat para penjual budak dan masyarakatnya yang gemar minum-minuman alkohol, dan bermaksiat terang-terangan dan tanpa malu.
       Kemaksiatan yang terjadi semakin lama semakin memburuk meskipun tidak semua daerah. Masyarakat mulai mengenal Ghazal atau cumbu rayu. Orang yang pertama kali melakukan cumbu rayu tanpa malu-malu adalah Walibab bin al Habab. Disebutkan bahwa dialah yang bertanggung jawab atas dosa kebejatan masyarakat yang melakukan cumbu rayu. Namun ada juga yang menyebutkan penyebab tersebarnya cumbu rayu adalah banyaknya anak muda yang dikebiri di Baghdad dan lainnya dari kota-kota di Irak. Di antara mereka ada yang hilang ke-lelakian-nya, lalu memakai pakaian perempuan. Di antara budak-budak perempuan itu ada yang memakai pakaian anak-anak untuk menarik perhatian para pemuda dan orang-orang dewasa.
       Diriwayatkan bahwa saat Al-Amin menjabat khalifah, diusulkan tentang pengebirian budak. Hal ini memicu masyarakat untuk melakukan hal yang sama. Kemudian muncul istilah ghulamiyat atau waria dalam literatur lain disebut ghilman. Mereka biasanya menjadi penyanyi dan pemukul rebana. Mereka menyerupai para perempuan dalam kebiasaan, pakaian, semir rambut dan kuku padahal sejatinya mereka laki-laki yang dikebiri.


Sumber: 
Hitti, K. Phillip. (2002).  History of Arabs; From the Earliest Times to the Present.
Dhoif, Syauqy. (1966). Tarikh Adab Al-Araby: Tarikh al Abasi al Awwal. Kairo: Darul Ma’arif.
Sumber image: https://www.eramuslim.com/peradaban/pemikiran-islam/budak-budak-zaman-kini.htm#.X84FrbNS_IU


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar