Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KOTAKU DI BULAN DESEMBER


Nur Sholikhah
Langit siang hari di bulan Desember cepat sekali berubah. Terkadang kota ini tampak cerah, gunung-gunung hijau dipandang mata, matahari tak malu lagi bertengger menyinari bumi dan seisinya, gumpalan awan-awan putih menyembul seperti kapas putih yang saling memeluk mesra. Lalu suatu ketika langit tiba-tiba menjadi muram. Warna abu-abu mengusir warna biru. Angin berhembus menggoyangkan dahan-dahan, menjatuhkan daun-daun yang layu dan menerbangkan apa-apa saja yang terasa ringan. Kotaku menjadi abu-abu, kotaku terasa mencekam.
Hujan menetes, dimulai dari rintik-rintik yang menjadi gerimis. Gerimis yang menjelma menjadi guyuran besar dan deras. Orang-orang yang berkeliaran di jalanan dengan segera menepi. Wajah mereka ada yang biasa saja, ada yang berseri, ada yang tampak sepi. Mata mereka ada yang sibuk memandangi setiap tetesan hujan, ada yang menyapu langit abu-abu, ada juga yang menerawang jauh untuk mengingat kisah-kisah gembira atau mungkin yang mengundang haru. Mulut mereka ada yang hanya menggumam, menahan keluh atau yang paling buruk adalah mencaci hujan karena menghambat kelancaran kegiatan.

Sementara yang tidak menepi dan memilih untuk tetap menerjang hujan masih berkeliaran di jalanan. Ada yang tampak santai mengendarai kendaraannya, tapi banyak juga yang tampak terburu-buru. Roda semakin cepat melesat, melewati aspal yang semakin hitam diguyur hujan. Tubuh tak ingin basah, tubuh tak ingin mendekap dingin dan mereka memilih memakai jas hujan yang beraneka ragam rupa dan warna. Jalan raya menjadi seperti arena tontonan bagi para penepi yang memilih berhenti dan menikmati hujan di bawah naungan atap yang bukan milik sendiri.

Kalau tidak hujan kota ini ditemani angin kencang. Jalan raya menjadi ramai oleh dedaunan hijau yang dipaksa jatuh, ranting-ranting yang kalah tenaga dan batang-batang pohon yang kapan saja bisa patah. Suara deru angin kadang terdengar mencekam. Tangannya seolah-olah ingin menerbangkan apa-apa yang dilewatinya. Mengurai debu-debu jalan raya, menerbangkan atap rumah, dan memercikkan sedikit rasa khawatir pada hati manusia.
 
Desember tahun ini di kota ini dan masih di tengah pandemi, kotaku masih tetap sibuk dengan pengembangannya meskipun cuaca cepat berubah. Orang-orang masih sibuk dengan tugas-tugas kantor, tanggungan lembaga, rengkuhan amanah. Jalan raya tetap saja padat, klakson sekali-kali berbunyi, dan sirine ambulans yang terdengar meracau setiap hari.
 
Desember tahun ini di kota ini dengan segala macam perubahan dan kenangan. Hujan yang membawa dingin, terik yang meradang panas, angin yang menghembus sepi dan malam-malam yang terasa panjang. Akhir tahun ini sudah berbeda dengan tahun yang lalu. Banyak yang pergi, banyak yang korupsi, banyak yang menebar janji. Desember menjadi bulan penutup di tahun yang berkesan ini. Semoga tahun depan tak lagi sama, atau setidaknya rasa aman kembali bermuara. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar