Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

IDEOLOGI PANCASILA DAN TANTANGAN MENGHADAPI ERA 4.0


Oleh: Dihyat Haniful Fawad


Pancasila adalah ideologi negara Indonesia yang merupakan sebuah elemen terpenting dalam negara Indonesia. Pancasila lahir dengan adanya proses-proses perumusan untuk merumuskan dasar negara pada saat sidang BPUPKI yang berlangsung pada 28 Mei 1945 s.d. 1 Juni 1945. Tokoh-tokoh perumus Pancasila berjumlah 5 orang, yaitu Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Soepomo, Moh. Yamin, dan K.H. Abdul Wachid Hasyim. Penegasan tentang Pancasila sebagai dasar serta ideologi negara telah disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4. Sudah jelas, bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam poin-poin Pancasila, dan menjunjung tinggi Pancasila sebagai pedoman dalam berprilaku sehari-hari. Pancasila pun sebagai acuan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak hanya sebagai simbol Kenegaraan dan Kebangsaan.
Pengamalan Pancasila tidak hanya untuk para pejabat negara, tidak hanya untuk aparat negara, tidak hanya untuk Presiden. Tetapi, untuk seluruh bangsa Indonesia agar tercermin nilai-nilai luhur Pancasila. Jika seluruh masyarakat mengamalkan Pancasila, Indonesia akan menjadi Negara yang satu. Tidak ada deskriminasi, korupsi,dll. Jika bangsa Indonesia paham dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, maka Indonesia akan menjadi negara yang makmur. Tetapi, berbalik dengan keinginan warga negara yang menginginkan tidak adanya korupsi atau ingin korupsi dimusnahkan dengan semusnah-musnahnya. Bayangkan, saat ini Indonesia berada di peringkat 107 paling bersih dari korupsi. Di peringkat ini Indonesia mendapatkan nilai 34 dengan negara sangat korup. Apakah ini yang dimaksud dengan pengamalan Ideologi Pancasila?
Kembali kepada Pancasila, di era globalisasi ini peran Pancasila tentulah sangat penting untuk  tetap menjaga eksistensi kepribadian bagi bangsa Indonesia, karena dengan adanya globalisasi batasan-batasan diantara negara seakan tak terlihat, sehingga berbagai kebudaya an asing atau dari luar Indonesia dengan mudah masuk ke masyarakat dan dapat mempengaruhinya. Dan bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Sebagai warga yang baik, sebaiknya kita memfilter terlebih dahulu segala perubahan-perubahan yang timbul di kalangan masyarakat dengan datangnya kebudayaan baru dari luar Indonesia. Hal ini dapat memberikan dampak positif bagi bangsa Indonesia, jika kita dapat memfilter dengan baik dan seksama berbagai hal yang timbul dari dampak globalisasi tentunya globalisasi itu akan menjadi hal yang positif karena dapat menambah wawasan dan mempererat hubungan antarnegara di seluruh dunia. Pancasila akan mampu memfilter atau menyaring segala pengaruh yang datang dari luar negeri sebagai akibat dari globalisasi, kemudian tinggal kita yang memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak semua pengaruh yang datang dari luar negeri itu buruk, pasti ada baiknya. Dan tidak semua pengaruh yang datang dari luar negeri itu baik, pasti ada buruknya.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu fleksibel atau lentur, Pancasila dapat menyesuaikan perannya dengan perkembangan masyarakat. Artinya, segala nilai yang terkandung dalam Pancasila itu tidak operasional. Dan juga, Pancasila adalah sebagai Ideologi Terbuka, mengapa dinamakan dengan Ideologi terbuka? Karena, Pancasila memperkenankan masyarakat Indonesia untuk berdemokrasi, memberi pandangan dan masukan, dan sebagainya. Jika kita menemukan hal yang tidak sesuai dengan nilai Pancasila atau perundang-undangan dalam pemerintahan atau rakyat, kita dapat mengungkapkannya dengan berbagai cara seperti orasi atau demokrasi, dll. 
Mari kita bahas 5 nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pertama, nilai ketuhanan artinya adanya pengakuan bahwa Tuhan itu hanya satu pencipta alam semesta beserta isinya. Kedua, nilai kemanusiaan artinya kita harus bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntunan hati nurani dengan memperlakukan suatu hal dengan semestinya. Ketiga, nilai persatuan artinya kita harus bersatu untuk kemajuan Negara Indonesia, membina rasa nasionalisme yang membela Negara Kesatuan Republik Indonesia dan juga menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang ada di Indonesia. Keempat, nilai kerakyatan memiliki makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Kelima, nilai keadilan mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah atauun batiniah.  Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. Karena sifatnya abstrak dan normatif, isinya belum dapat dioperasionalkan. Agar dapat bersifat operasional dan tidak berbelit-belit, perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya.
       Sebagai nilai dasar, nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. Artinya, dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia. Orang yang seleweng dengan 5 nilai dasar diatas, maka sudah pasti dia tidak mengetahui baik apa itu Pancasila, apa tujuan adanya pembentukan Pancasila, dsb. Akan tetapi, mengapa juga orang yang cerdas, berilmu, bahkan mempunyai pikiran yang bisa disebut kritis dan intelektualis tersebut ada yang melanggar kelima nilai dasar tersebut? Seperti contohnya koruptor yang sudah dijelaskan sebelumnya yang sangat tega sekali memakan hak rakyat, tidak memiliki Iman dan Taqwa kepada Allah swt. Tidak sepatutnya kita mengikuti jejak para koruptor tersebut yang hanya bahagia di dunia tetapi tidak untuk akhirat. Tapi, ada juga para dewan dan senat pemerintah yang mengerjakan kewajibannya sesuai dengan Pancasila, tidak ingin disogok dengan material, dan memang niatnya hanya Lillahi Ta’ala dan menegakkan keadilan. Tidak hanya hablun min Allah saja, akan tetapi hablun min an-nas dan ‘alam.
       Maka dari itu, kita sebagai generasi muda tidak salahnya memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, agar dapat membawa negara Indonesia ini menjadi negara yang adil dan makmur rakyatnya. Karena, negara bukanlah sebuah wadah yang dapat memberi perubahan kepada rakyatnya, tapi justru negara butuh generasi yang dapat mengubahnya menjadi negara yang maju.

Source image: jurnalmediaindonesia.com

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar