Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BAKSO

https://id.pinterest.com/pin/157203843212911178/


Alvian Izzul Fikri

Hujan yang meninggalkan gerimis dan tetesan air diatas dedaunan yang membuat area perumahan semakin segar dan sejuk dibuatnya. “Tok tik tok tik tok…. Bakso.. bakso..” teriak Pak Iman, dengan mengenakan topi koboi dan senyuman lebar yang khas terlukis diwajahnya. Membuat diriku bangkit dari rebahanku sore ini, bangun, memakai baju dan mengambil uang di lemari. Lekas aku keluar dari rumah untuk membeli bakso milik Pak Iman yang rasanya begitu kuat dan khas yang membuat siapapun yang pernah membelinya akan Kembali untuk membelinya lagi, catet itu.

Seperti biasa dan di tempat yang sama rombong bakso milik Pak Iman sudah dikerumuni banyak orang yang ingin membelinya, tepat di depan rumah Pak Rt, Pak Iman menjual baksonya, seakan sudah menjadi pangkalannya ketika jualan bakso di komplek kami. Melihat dagangan milik Pak Iman yang begitu ramai, aku memutuskan untuk menunggu di depan rumah Diki, tetanggaku yang mempunyai usaha ternak lele di belakan rumahnya.

“Firman,..” panggil Diki yang mengagetkanku ketika aku duduk di teras rumahnya. “Mau beli bakso juga kau?”tanyaku. “Iya nih, dingin-dingin gini enaknya makan bakso he he..”jawabnya. Karena antrian pembeli bakso yang tak kunjung berkurang, akhirnya saya menunggunya di teras, sambal ngobrol santai sama Diki. Tak tau kenapa, dan ketika kami membicarakan tetangga kita yang sakit, dan kita menganggapnya hidupnya itu tidak barokah, karena semasa dia sehat dia adalah warga yang acuh dengan tetangganya.

“Pak de..”, kataku terkejut melihat ayah Diki yang sudah duduk disampingnya, dan ternyata bukan hanya aku yang terkejut dengan kedatangannya, Diki pun juga. “Nak, aku barusan dengerin apa yang kau bicarakan, dan sekrang saya minta waktunya untuk ngobrol juga.” pinta Pak Wahyu dengan melemparkan senyumannya kepada kita, rasa malu yang terpancar dari wajah Diki begitu jelas, “Boleh bapak bertanya kepada kalian apa itu barakah?” tanya Pak Wahyu, beliau adalah salah satu Ustadz di Pondok Pesantren.

“Barakah adalah ziyadatul khoir, yaitu kebaikan yang tambah dari apa yang kita miliki” Jawab Diki, “Benar sekali nak.., kalo menurutmu Firman?” tanya Pak Wahyu kepadaku, sontak aku malu karna aku tak bisa mendefinisikannya, “ ya, seperti itu pak, kurang lebih sama, dengan apa yang diucapkan Diki tadi..” kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku. Terlihat jelas dari pakaian yang dikenakan Pak Wahyu, bahwa beliau sebenarnya ingin mengajar di Pondok. Akan tetapi dia memutuskan untuk mengajarkan kita ilmu terlebih dahulu.

Beliau menjelaskan kepada kita bahwasanya barakah itu selalu berupa kebaikan, tetapi tidak selalu berbentuk sebuah kenikmatan. Beliau menambahkan bahwa barakah adalah kullu ma tudziidukum fi toah “segala kondisi apapun yang membuat kamu bertambah taat kepada Allah SWT”. Kita hanya bisa mengatakan sesorang itu mendapatkan berkah itu karena dia muslim, kalau dia tidak beragama islam maka tidak bisa dikatakan bahwa dia mendapatkan keberkahan di dalam hidupnya. Lalu beliau melanjutkan bahwasanya ketika kita dalam keadaan sedih, bahagia, sehat, sakit itu bisa kita katakan barakah. Karena dalam kondisi tersebut takwa kita bertambah kepada Allah SWT. 

Lalu beliau melanjutkan dengan berkata “Jadi janganlah kita mudah berkata bahwa hidup seseorang itu tidak barakah, hanya karena orang itu selalu mendapatkan kesulitan di dalam hidupnya, tetaplah selalu berprasangka baik kepada orang lain”, ”Owh nggih pak ..” Jawab kami. Pak Wahyu lalu pamit untuk pergi ke Pondok Pesantren buat ngajar. Dan kita pun akhirnya melanjutkan dan mencoba memahami apa yang telah dikatakan beliau.

Suara yang ramai dari rumah pak RT mulai menghilang, Diki mencoba untuk memastikan bahwa gerombong bakso milik Pak Iman udah mulai sepi dari kerumunan, dan ternyata gerombong tersebut sudah sepi dari pembeli, tanpa banyak basa-basi, karena takut kehabisan bakso, lantas kita beranjak dari obrolan kami untuk membeli bakso milik Pak Iman.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

2 komentar: