Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AKU DAN KETIGA ASMA


Oleh: Syifaul Fajriyah

       
       Sudah satu minggu aku sendiri di Asrama Putri. Para Asma (Panggilan untuk mereka yang tinggal di Asrama Putri ini) telah pulang entah ke rumah orangtua atau ke rumah saudari, karena cuti hari raya idul fitri. Rumahku berada jauh di pulau sebrang dan aku tidak punya biaya untuk pulang. Hitung-hitung tahun ini aku ingin merasakan keheningan asrama, sebab asrama ini tidak pernah ada yang namanya kata sepi. Bahkan setiap malam pun senandung tidur atau yang biasanya disebut mendengkur selalu terdengar.
       Malam itu aku melakukan aktivitas biasa. Entah kenapa aku ingin pergi ke atap jemuran. Pikirku mungkin ingin lihat bintang untuk melepas rindu kepada keluarga. Sesampainya, aku bingung kenapa masih ada baju yang tergantung di jemuran? Padahal siapapun asma yang akan pulang diwajibkan untuk membersihkan kamar dan jemurannya. Aku pikir mungkin ada asma yang lupa dengan peraturan tersebut karena sudah tak sabar ingin pulang ke rumah. Akhirnya, aku amankan baju putih itu.

“Kembalikan!!” Suara lirih entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul saat aku akan pergi ke kamar. Namun tak ku hiraukan suara itu dan aku terus menuruni tangga.

“Kembalikan!!” Tiba-tiba sekilas nampak sosok samar-samar seperti asap menggumpal menghadang jalanku. 

“Astaghfirullah.” Sontak ku jatuhkan baju tersebut dan ku lari terbirit-birit mengunci pintu kamar.

“Asap apa tadi? Baru kali ini aku melihat asap berbentuk manusia. Ini masih pukul 9 malam, masak iya mau tidur jam segini? Membaca komik mungkin bisa menetralisir ketakutanku.” Ucapku dengan meyakinkan diri agar tetap tenang.

       Aku membaca komik sampai lupa dengan kejadian itu. Aku tertawa, menangis dan marah seperti merasakan emosi dari pemeran utama dalam komik “True Beauty”. Saat sampai dipanel dimana si cewek memanggil nama teman cowoknya yang bernama Suho. Tiba-tiba saja...

“SUHO!!!” Terdengar suara sangat jelas yang berasal dari sampingku. Suara itu seperti mengikuti ucapan dari tokoh wanita dalam komik tersebut. Sambil gemetar tanganku melanjutkan ke panel selanjutnya.

“Aku kembali... hihihi” Suara halus dengan tawa yang khas tersebut membuatku yakin siapa sosok itu. Ku tutup komik tersebut, ku lari ke ranjang dan tarik selimut. Saat ku baca ayat kursi tiba-tiba telingaku berdengung dan suasana kembali sunyi. Tawa yang semula ku dengar pun menghilang. Tak lama kemudian aku pun tertidur, dan ku harap segera pagi.

“Srekkk...Srekk...Srekk...” Terdengar suara seperti orang menyapu yang membangunkan tidurku.

“Akhirnya sudah pagi. Eh, siapa yang menyapu? Oh, mungkin ibu asrama membantuku membersihkan halaman.” 
Saat terbangun, aku pun mengambil handphone ku untuk melihat jam dan bersiap-siap untuk Sholat Subuh. Saat ku lihat jam, waktu menunjukkan pukul 11 malam.

Apa? Masih jam 11 malam? Hah mungkin jam nya salah.” Hentakku sambil ku mengarah ke tirai jendela untu memastikan secara langsung. Saat ku buka tirainya, langit masih sama dengan sebelumnya, hanya posisi bulan yang berbeda. Namun ada yang janggal, di tengah-tengah halaman asrama terdapat tiga buah sapu lidi yang berdiri sendiri, seakan ada yang menggunakannya tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Akupun bergegas pergi ke ranjang untuk lanjutkan mimpi tapi sulit. Akhirnya aku menonton video untuk menutupi suara-suara tidak jelas itu. Sambil ku yakinkan diriku untuk menganggap suara itu sebagai ibu pemilik asrama yang sedang berkunjung untuk menyapu. 
Video yang ku pilih adalah kartun. Sepanjang video di putar aku mengisinya dengan tawaku untuk mencairkan suasana. Awalnya masih terdengar suara menyapu tapi lama kelamaan menghilang. Ku anggap mungkin ibu asrama sudah selesai menyapunya dan pulang ke rumah. 

“Dug...Dug...Dug...” Suara seperti gaduh dari bilik sebelah. Namun suara tersebut tak ku hiraukan.

Dug...Dug...Dug...” Suara tersebut kembali terdengar. Aku pun menaikkan volume agar tidak terdengar kembali.

Brak...Brak...Dug...Dug...” Suara gaduh itu sangat kencang terdengar hingga melebihi volume video yang sedang ku putar. Sontakku menoleh ke arah bilik tersebut dari atas ranjang dan  tepat di depan mataku sosok gadis muda yang berwajah melepuh teriakkan sesuatu kepadaku

“DIAM!!! Ini waktunya kami!!!” Telingaku kembali berdengung, bahkan aku tidak mendengar nafas pendekku karena shock.  Setelah itu aku pingsan di atas tempat tidur dengan laptop masih terbuka dan keadaan mati.
Keesokan harinya ibu asrama membangunkanku, ia pun masuk menggunakan kunci cadangan. Sesegera mungkin ibu membawaku ke rumahnya.

Sari... tenang nak, kamu di rumah ibu.” Ibu asrama menenangkanku yang masih menjerit ketakutan.
Ibu asrama meminta maaf karena lupa memberi tau peraturan di asrama ini kepadaku yang satu-satunya penghuni baru di asrama. Ia memintaku untuk tinggal bersamanya dulu sampai semua santri datang. Dan ia pun menjelaskan alasan adanya peraturan tersebut. Sontak aku yang mendengar langsung tidak menyangka bahwa hal ini terjadi di rumah ke duaku. Ia berkata bahwa asrama ini pernah terbakar pada saat liburan Idul Fitri 3 tahun yang lalu dan hanya ada tiga asma yang tidak pulang, ketiga asma itu tidak selamat. 

Source image: pinterest.com


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar