Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

USIA DAN DEWASA


Oleh: Binti Rohmatin Fahimatul Y.


Usia, hitungan waktu yang terukur sejak kita terlahir di dunia (Wikipedia). Kita juga sering menyebutnya umur. Terkadang saya merasakan suatu kejanggalan setiap mendengarkan lagu ulang tahun yang di dalamnya terdapat kalimat: "Panjang umurnya". Menurut saya, kalimat tersebut ialah suatu doa-doa atau harapan. Dan dalam contoh lain, ketika kita berdoa "Semoga aku berhasil" Apakah keberhasilan sudah kita raih? Ya, harapan bersifat terjadi di masa depan. Jadi, makna umur dalam lagu ulang tahun lebih tepatnya ialah bermakna sisa waktu hidup. Dan menurut saya, usia memiliki makna hitungan waktu yang diukur sejak lahir. Walaupun nyatanya kita sering menyamakan makna keduanya. Dari kebingungan pribadi ini, saya memilih kata usia untuk dimaknai hitungan waktu sejak lahir.

Kembali ke tema, jika kita membahas tentang kedewasaan, bisakah kita mengukur kedewasaan seseorang berdasarkan usia? Ya, Tidak bisa dipastikan. Usia bisa saja dewasa, akan tetapi sikap seseorang dengan usia dewasa belum tentu menunjukkan kedewasaan. Lantas bagaimana kita tahu seseorang itu dewasa?

Kunci simpelnya hanya dua: Sabar dan syukur. Dalam menghadapi segala permasalahan dan ekspektasi yang tidak sesuai realita, jika seseorang tetap memegang sabar dan syukur, bisa dikatakan ia dewasa, yaitu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, tidak terlalu memaksakan kehendak, letting go, selalu berprasangka baik atas apa pun yang terjadi (tentu saja dalam ranah kebaikan).

Apakah kita bisa menyamakan orang lain yang "kekanak-kanakan" dengan anak kecil? Ya jangan! Jauh beda, anak kecil itu suci, kreatif, menyenangkan, cerdas. Jadi, menjadi dewasa itu merupakan praktik wajib. Kita bisa mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya menata sikap saat berinteraksi dengan orang lain, saat terjadi perbedaan pendapat, tetaplah menghargai. Hitung-hitung menambah kosakata dalam kamus besar belajar kita. Biar kita nggak stagnan.

 

"لن نتعلم أبدا من شخص يوافقنا الرأي"

 

"Kita tak akan pernah bisa belajar dari pribadi yang selalu menyetujui pandangan kita" (Robert A. Heinlein).

Apakah ada korelasi antara usia dan kedewasaan? Sebenarnya ada. Orang bisa disebut benar-benar dewasa ketika mencapai usia 30-an. Saya jadi teringat pertanyaan ustadz madin saya saat saya kelas 5 SD. Ketika itu saya ditanya, dewasa itu usia berapa?. Belum sempat mencari tahu sih, tetapi beliau sempat menyuruh saya mencari kata أشد dan menemukan jawabannya sendiri. Di Alquran dalam QS Al-Ahqaf: 15, makna kata أشد jika dilihat dari tafsir Qurtubi, ada bermacam-macam. Ada pendapat yang mengatakan makna kata tersebut ialah usia 18 tahun (Ibnu Abbas). Ada yang menyebutkan 38 (Atho'). Dan ada yang menyebutkan 40 (Hasan). Adapun dari sebuah artikel, dikatakan bahwa seseorang menjadi dewasa saat usianya 30-an tahun.

Walau bagaimanapun, kedewasaan bisa lebih cepat, tergantung pada latar belakang yang mencakup pendidikannya, kesehatan, dan lingkungan.

Perlukah kita mulai belajar 'dewasa'?. Tentunya. Banyak hal yang membutuhkan keputusan kita secara dewasa, selain itu, kita tidak bisa selalu seperti robot yang harus dikontrol (baca: disuruh baru melakukan sesuatu), dan secara kesehatan mental, banyak keuntungan yang bisa kita raih dari menjadi dewasa.

Jadi bagaimana menurut pembaca? Kapan harus menjadi dewasa?

 

Source:

Ayat.

https://zonamahasiswa.id/ciri-ciri-mahasiswa/

https://www.idntimes.com/life/inspiration/suci-wu-1/bersikap-dewasa-di-usia-20-c1c2/5

https://www.suara.com/lifestyle/2019/03/22/160447/usia-berapa-seseorang-bisa-disebut-dewasa

 

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar