Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ULAMA' USHUL FIQIH YANG KAYA RAYA

Oleh: Muhammad Hadiyan el Ihkam



       Imam Syafi’i mempunyai banyak guru, di antaranya Sufyan as Sauri, Imam Malik, dan Muhammad bin Hasan as Saibani. Dari ketiga guru tersebut Imam Syafi’i belajar banyak hal. Bukan hanya belajar ilmu-ilmu syariat melainkan juga mendapat ilmu hikmah yang dicontohkan oleh para guru beliau. 
       Ketika ikut kajian ilmu kepada Imam Malik, Imam Syafi’i merasa janggal. Karena tempat kajian tersebut sangat mewah. Bau semerbak buhur memenuhi tempat kajian, Imam Malik duduk di atas kursi agak tinggi. Bagi Imam Syafi’i tempat kajian tersebut sangat mewah dan beliau kurang begitu menyukai guru yang kaya raya. Sebelum berguru kepada Imam Malik, beliau berguru kepada Imam Sufyan as Sauri dengan kesederhanaan yang luar biasa. 

“Wahai muridku besok aku ingin kamu pergi ke Iraq untuk mencari guru di sana”
“Jika Anda memerintahkan saya demikian Pasti akan saya lakukan”

       Keesokan harinya Imam Malik bersama Imam Syafi’i pergi ke Baqi, tempat persewaan kendaraan untuk pergi ke suatu kota. Imam Malik mencukupi semua kebutuhan Imam Syafi’i untuk pergi ke Iraq. 
Setelah sampai di Iraq Imam Syafi’i bertanya kepada penduduk setempat, mengenai rumah Imam Syaibani (Muhammad bin Hasan asy Syaibani). Kemudian Imam Syafi’i bertamu kepada Imam Syaibani. Imam Syaibani merupakan murid dari Imam Abu Hanifah dan juga pakar ushul fiqih yang cukup terkenal. Ketika Imam Syafi’i di depan rumah Imam Syaibani, beliau melihat ada orang yang menghitung emas di ruang tamu.  Beliau izin masuk ke dalam rumah tersebut. Tak disangka, ternyata orang yang menghitung emas di ruang tamu tersebut adalah Imam Syaibani. Imam Syafi’i melihat ke arah Imam Syaibana dengan penuh keheranan. 
“Mengapa Anda melihat seperti itu? Apakah Anda merasa aneh dengan kebiasaanku seperti ini? ” tanya Imam Syaibani.
“Maaf syeikh, dari sekian guru-guru saya, banyak  yang menampakkan kesederhaan tanpa memperlihatkan harta sedikit pun kepada orang lain dan juga saya merasa janggal, Anda seorang Syeikh yang cukup terkenal dalam ushul fiqih namun mengapa Anda mengumpulkan harta sebanyak ini?.” jawab Imam Syafi’i dengan sikap rendah hatinya.
“Baiklah kalau begitu, emas ini akan aku bagikan kepada orang-orang di luar sana”
Imam Syafi’i berfikir sejenak, mencerna maksud Imam Syaibani yang sebenarnya.
Maaf Syeikh, saya rasa harta ini akan aman dari kemaksiatan jika engkau yang membelanjakan. Andai harta ini dipegang oleh orang-orang fasiq maka besar kemungkinannya akan dipakai maksiat ” ucap Imam Syafi’i kepada Imam Syaibani.
Imam Syaibani tidak menggapi sama sekali namun hanya tersenyum kepada Imam Syafi’i.

       Dari cerita singkat ini banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Harta benda yang banyak sekalipun jika dikelola oleh orang sholih akan aman dari kemaksiatan. Oleh karena itu janganlah berprasangka buruk kepada orang-orang yang mempunyai harta berlimpah. Jika ada seorang sholeh kaya raya namun rumahnya keliatan seperti orang miskin, maka baginya sangat dianjurkan untuk memperbaiki rumahnya. 
Jika ada orang sholih mampu untuk menjabat dalam politik maka dianjurkan baginya untuk masuk ke dalam ranah politik. Apakah kita rela jika dipimpin oleh orang fasiq? Apakah kita rela jika orang faqis berkuasa? Pangkat, kekayaan, dan kekuasaan asalkan dipegang oleh orang sholih maka akan menjadi energi positif dalam menegakkan syariat.

(Disarikan dari pengajian Gus Baha’)


Malang, 3 November 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: