Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TETESAN KERINGAT YANG MENGANTARKAN PADA KEMATIAN



Nur Sholikhah

Adzan shubuh sudah berkumandang beberapa jam yang lalu. Pardi bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerjanya. Ia menyemprotkan parfum murahan ke seragam kerja miliknya. Baju itu pemberian pabrik setelah Pardi mengikuti pelatihan tiga bulan yang lalu. Sejak seragam itu dimilikinya, ia resmi menjadi karyawan di sebuah pabrik kayu terbesar di kabupaten tempat Pardi dilahirkan dan dibesarkan.
“Berangkatnya kok pagi sekali, Le?” tanya Mbok Sarem, ibu Pardi.
“Iya, Mak. Aku harus rajin kerja biar bisa naik pangkat kayak Pak De itu lho. Gajinya gede, biar Pardi bisa beli motor sendiri.”
“Yo wes. Jangan lupa sarapan ya! Di meja sudah ada kopi sama nasi goreng.”
“Nggeh, Mak.”
“Kopinya diminum dulu, keburu dingin.”
“Nggeh, sebentar Mak.”
Pardi menuju ruang tamu yang kursinya tampak sudah reot. Cat dindingnya tak lagi berwarna putih, melainkan sudah bercampur dengan warna coklat terang. Ia menghampiri sepeda kesayangannya, mengelusnya, dan memeriksa kedua rodanya. Tak ada masalah, batinnya. Pardi pun mengeluarkan sepeda itu dari rumahnya, menyandarkan pada sebuah pohon pisang di depan rumah. Pohon itu tampak pasrah saja menjadi tempat sandaran sepeda tua milik Pardi.
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Sinar mentari mulai terasa hangat mengenai punggung lelaki yang mengayuh sepeda menuju tempat kerjanya. Pardi menikmati rutinitasnya ini, pagi berangkat bekerja, pulang sore, malam nongkrong dengan teman-temannya, lalu pergi ke kamar memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya yang kaku. Pardi adalah karyawan yang rajin dan tak pernah membangkang dengan perintah atasan. Jika Pardi disuruh lembur, maka dengan senang hati ia tidak pulang sampai pukul sepuluh malam.
“Pardi, Pardi, hidupmu itu udah enak ya. Punya pekerjaan tetap, nggak kayak aku yang jadi buruh tani. Kerja kalau ada yang nyuruh, kalau nggak ada ya nganggur di rumah,” kata Wanto, teman nongkrong Pardi di warung kopi.
“Yo ngeneki, Cak. Sampeyan pikir bisa kerja di sana itu tanpa pengorbanan apa?”
“lha emang pengorbanan apa, Di?”
“Duit, Cak. Aku dulu ke sana Pak De yang masukkan. Asal aku bayar dulu dua juta.”
“Walah. Buat apa uang segitu, Di?”
“Katanya sih buat uang jaminan. Kan ijazahku SMP yang asli ditahan sama atasan.”
“Oalah. Lha kamu dapat uang segitu dari mana, Di?”
“Dari jual perhiasannya emak,” jawab Pardi dengan nada yang lirih. 
Perasaan sedih muncul tiba-tiba di lubuk hatinya. Pardi meratapi nasibnya yang miskin sejak lahir, perhiasan emak satu-satunya terpaksa ia jual demi mendapatkan pekerjaan di pabrik besar itu. Ijazah SMP memang susah sekali untuk dijadikan modal agar diterima bekerja di pabrik. Untung ia punya Pak De yang sudah lama bekerja pada pabrik kayu itu, sehingga ia punya kesempatan untuk bisa bekerja yang lain dari pada teman-temannya yang saat itu banyak bekerja sebagai petani atau kuli bangunan. 
Senyum kecil mengembang di wajah Pardi. Ia membayangkan pangkatnya naik, lalu ia bisa mengembalikan perhiasan emak. Ia bisa membeli motor meskipun dengan kredit, lalu ia bisa melepas masa lajangnya di usia yang sudah menginjak kepala tiga ini. 
“Wah, ada Pardi. Sekarang kamu kerja di mana ini?” sapa temannya, Tono, membuyarkan bayangan indah masa depan Pardi.
“Di pabrik kayu.” Senyum kecil itu kembali mengembang. Kini ada kebahagiaan tersendiri bagi Pardi saat mengucapkan kalimat itu.
“Wah, hebat kamu ya. Ijazah cuman SMP tapi bisa diterima kerja di sana. Berapa gajinya? Pasti besar ya?”
“Baru kerja di sana gajinya ya masih biasa saja. Besar gundulmu!”
“Lha dari pada aku. Kerja bangunan gajinya cuman lima puluh ribu perhari. Itu pun kalau ada kerjaan, kalau tidak ya aku nganggur di rumah.”
“Lha emang kamu pikir gajiku berapa? Wong nggak jauh beda dari kamu.”
“Seratus ribu perhari?”
“Yo nggak sampek, Ton. Seratus ribu itu kalau lembur sampai jam sepuluh. Kalau kerja normal ya cuman enam puluh ribu perhari.”
“Tapi kan kerjamu pasti, Di. Tiap hari kerja, berangkat pagi pulang sore. Kalau aku kan jarang. Makanya aku belum berani ngelamar Sri.”
Pardi tertawa, disambut dengan tawanya Wanto. Mereka bertiga pun tertawa bersama, menertawakan nasib sebagai lelaki yang sama-sama masih lajang. Dua cangkir kopi sudah tampak kosong di meja depan Pardi. Itu artinya sudah berjam-jam ia dan Wanto duduk melepas penat di warung kopi ini. Entah sudah berapa banyak keluhan dan caci maki terhadap hidup yang mereka jalani kini. Pardi lelah, setelah ia puas tertawa, ia bergegas pulang lebih dulu.
“Wan, Ton, aku pulang dulu. Besok harus lembur sampai jam sepuluh.”
“Lembur terus, kapan kamu ada waktu memikirkan perkawinan,” ejek Wanto.
“Nanti kalau pangkatku sudah naik.” Jawaban itu disusul dengan ledakan tawa mereka bertiga. Pardi berlalu, mengayuh sepeda menuju rumah di ujung gang. Rumah itu tampak redup, lampu ruang tamu sudah dimatikan oleh Mbok Sarem. Hemat listrik, itulah alasannya saat ditanya mengapa Mbok Sarem mematikan lampu lebih dulu sebelum Pardi pulang dari warung kopi. 
Beberapa hari hidung Pardi tak tampak di warung kopi. Ia sibuk lembur kerja, katanya pabriknya sedang menambah jumlah produksi. Para karyawan harus memeras keringatnya lebih banyak demi memenuhi target sang pemilik pabrik. Bahkan tak ada karyawan yang boleh izin kerja kecuali sakit. Jika tidak masuk kerja tanpa ada alasan, gajinya akan dipotong dua kali lipat dari gaji harian. Pardi terpaksa mengikuti perintah atasan, empat hari berturut-turut ia lembur sampai pukul sepuluh malam.
“Hey Pardi, sudah empat hari kamu nggak ke sini. Lembur terus ya?” tanya Wanto.
“Iya, Wan. Badanku rasanya capek. Tulang-tulangku linu semua.”
“Kok kamu mau sih disuruh lembur terus? Penyiksaan itu namanya.”
“Lha mau gimana lagi, Wan. Kalau nggak nurut nanti aku kena PHK. Lha wong tiap minggu selalu ada desas-desus tentang pencarian karyawan baru. Siapa coba yang nggak takut kehilangan pekerjaannya!” Pardi memegang pundaknya yang terasa ngilu. Energinya benar-benar terkuras habis selama empat hari tanpa henti. 
“Kamu opo nggak takut sakit kalau badanmu dipaksa kerja terus?”
“Kalau sakit ya berobatlah, Wan. Tukang pijet yo jek akeh, puskesmas yo jek buka.”
“Kamu diiming-imingi apa sih sama perusahaan kok mau kerja keras gitu?”
“Naik pangkat, Wan. Kalau kerjaku selama enam bulan itu bagus, pangkatku bakal naik, gajiku juga.”
Wanto hanya mengangguk. Ia merasa iba, juga bangga pada Pardi. Ia sudah membayangkan Pardi naik jabatan. Ia tidak lagi mengayuh sepeda, tapi naik kendaraan yang bermesin itu. Atau Pardi akan segera menikah karena jika sudah berstatus karyawan pabrik kayu yang besar itu, para perawan desa akan mudah menerima pinangannya. Tapi hati Wanto juga merasa sedih, Pardi seperti dimanfaatkan dan ditipu oleh perusahaan. Pardi dijanjikan naik jabatan asal menuruti semua perintah atasan. Pardi tidak sebatas bekerja lagi, tapi ia telah menyerahkan tubuhnya untuk diperas keringatnya habis-habisan.
“Hey, Wan! Kok malah ngelamun. Wes pesen kopi?”
Wanto hanya menggeleng.
“Ayo pesan! Malam ini aku yang traktir. Cepet ambil rokok sama pesan kopi!” Senyum Pardi mengembang. Hari itu ia memang baru saja gajian. Bulan ini ia banyak lembur, jadi gaji yang ia terima lumayan besar. Ia menyicil hutangnya pada Mbok Sarem, ibunya sendiri. Dan malam ini ia bisa mentraktir rokok dan kopi di warung Mbak Sumi.
Pagi harinya, sepertia biasa Mbok Sarem membangunkan Pardi yang tidur di kamarnya. Adzan shubuh sudah berkumandang, ayam jantan sudah bekokok berkali-kali menyambut pagi. Mbok Sarem masuk ke kamar Pardi yang hanya ada beberapa perkakas. Satu kasur, satu meja, dan satu almari. Ia guncangkan tubuh anaknya berkali-kali. Tapi Mbok Sarem tak mendapati Pardi bergerak sedikitpun. Perasaannya mulai takut. Tangan yang sudah keriput itu ia letakkan di bawah hidung Pardi. Entah mungkin karena tangannya yang sudah tua atau memang tidak ada pertanda apa-apa, Mbok Sarem tidak merasakan hembusan nafas di hidung Pardi. Tiba-tiba air matanya merebas di pipi, disusul teriakannya yang menyebut nama Pardi. Gelap, entah Mbok Sarem tak sadarkan diri.
“Oalah. Baru tadi malem aku tanya ke Pardi, apa dia nggak takut sakit karena kerja lembur terus setiap hari. Eh sekarang malah begini. Oalah Par, Pardi. Kita sudah nggak bisa tertawa bareng lagi di warung Mbak Sumi,” ucap Wanto saat memandikan tubuh temannya. Tubuh itu terasa kaku, ada beberapa tanda lebam di beberapa bagian tubuh Pardi. 
“Iyo, Wan. Ngeniki Pardi dapat uang sumbangan nggak ya dari perusahaan itu? kasihan Mbok Sarem.”
“Nggak usah berharap, Ton. Mana mungkin mereka peduli sama rakyat kecil yang kayak gini.”
Hari itu Mbok Sarem seperti mimpi. Pardi sudah pergi tanpa meninggalkan pesan apapun kepadanya. Perusahaan itu seakan tutup telinga dan tak peduli dengan kematiannya. Tak ada pesangon, tak ada karangan bunga. Wanto dan Tono hanya bisa memaki dalam hati. Mereka berjanji tidak akan mau dan melamar pekerjaan di pabrik itu. Tono tak peduli meskipun sampai saat ini ia belum punya cukup modal untuk melamar Sri.
 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar