Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TERLALU TUA

Oleh: Nety Novira Hariyani


Debu-debu saling berjibaku, Terik surya menambah kesan keriuhan. Tak jarang para pengendara saling menekan klakson, benar-benar menguji kesabaran. Sepintas mataku tertuju pada dua remaja yang sedang menyantap makan siang di warung makan pinggir jalan, ada jus jeruk yang kurasa dapat menghilangkan dahagaku. Belum sempat menawarkan barang dagangan agar bisa membeli jus itu, tatapan mereka tampak sinis terhadapku. “Tak perlu jus jeruk, air putih yang kubawa sudah cukup” batinku menegarkan, lalu aku melanjutkan perjalanan.
Berbekal sendal yang semakin tipis, aku menyusuri setiap jalan, menawarkan dagangan pada siapapun yang aku jumpai. Aku sadar tubuhku terlalu lemah untuk berjalan beberapa kilometer lagi dari tempatku berdiri. Pandanganku semakin gelap, seperti saat dimana aku memaksa mataku untuk memejamkan mata sebelum tidur. Tak berapa lama, aku tidak sadarkan diri.
“Bu, bangun...” aku mendengar suara kerumunan mencoba menepuk-nepuk tubuhku. Aroma kayu putih dapat tercium jelas, kurasa ada yang sengaja menempelkan botol kayu putih tepat di hidungku.
“Alhamdulillah ibu sudah sadar” betapa lembutnya kalimat itu dituturkan. Tak kusangka masih banyak yang peduli pada wanita tua sepertiku. Seorang perempuan muda menyodorkanku jus jeruk. Dari balik maskernya, aku melihat senyum yang begitu tulus. Aku menyeruput jus pemberiannya. “Segar sekali...” tuturku. Perempuan itu diam sejenak, gelagatnya tampak seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Ada apa nak? Kau tampak gelisah” aku mencoba untuk bertanya lebih dulu. “Begini bu, sebenarnya saya mengamati ibu dari tadi. Buah Nangka itu sepertinya belum terjual sama sekali. Akan lebih baik jika saya saja yang membeli semuanya” kata demi kata yang ia tuturkan seakan mengembalikan duniaku, benar saja hati perempuan ini begitu mulia. Rasa terimakasih tak henti-hentinya kuucapkan. Disaat banyak orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, perempuan ini masih menyempatkan diri untuk memperhatikanku.
“Oh ya bu, kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya ibu tidak perlu berkeliling. Saya paham betul ibu butuh uang, tapi kesehatan ibu jauh lebih penting. InsyaaAllah saya akan memasok nangka dari ibu, jadi ibu tidak perlu lagi berkeliling” jelasnya. Rasanya seperti mimpi, masih ada orang baik di dunia ini. Kupikir manusia sekarang telah kehilangan akalnya, bahkan akupun begitu. Aku memaksa tubuhku begitu keras padahal tubuh ini bukan mesin, ia juga butuh jeda. Kurasa Tuhan seolah menegurku lewat perempuan ini. Tapi bagaimana lagi, aku harus bekerja keras demi kelanjutan hidupku. 
“Alhamdulillah, aku tidak seperti wanita tua kebanyakan yang dikirim ke Panti Jompo. Biarlah aku bekerja keras dan tidak menggantungkan diri pada anak-anakku. Mereka bahagia bersama keluarga masing-masing, akupun bahagia hidup sendiri meskipun bahagiaku hanya pura-pura” batinku berusaha menenangkan pikiran yang jauh mengembara.

Source Image : cianjur.pojoksatu.id


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar