Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Taubatnya Tsa’labah Bin Abdurrahman Karena Dosa Yang Tak Disengaja



Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Tsa’labah Bin Abdurrahman merupakan golongan sahabat Anshar yang periang dan selalu memenuhi apapun hajat atau kebutuhan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, beliau dijuluki sebagai pelayan sejati Rasulullah SAW. 

Suatu masa Tsa’labah Bin Abdurrahman pernah tidur di masjid yang menghadap tepat di pintu rumah Rasulullah SAW. Semua itu dilakukan oleh Tsa’labah Bin Abdurrahman karena ketika Rasulullah SAW keluar dari rumahnya, dia ingin menjadi seorang yang melihat baginda Rasulullah SAW. Dan umur Tsa’labah Bin Abdurrahman menurut beberapa pendapat tergolong belia, yakni antara 14-15 tahun an. 

Pada suatu hari, Tsa’labah diutus oleh Rasulullah SAW untuk memenuhi kebutuhan beliau. Seperti biasa, Tsa’labah dengan sigap akan melaksanakan perintah saat itu dan menyelesaikannya dengan harapn agar dia bisa kembali lagi untuk melihat langsung wajah Rasulullah SAW. Dari sini terlihat begitu cinta dan rindunya Tsa’labah Bin Abdurrahman kepada Rsulullah SAW tidak hanya di mulut saja, melainkan hatinya juga tak kuasa menahan rindu untuk bertemu sang kekasih Allah SWT.

Tsa’labah Bin Abdurrahman ketika itu diutus ke ujung kota Madinah. Di tengah perjalanan Tsa’labah melewati sebuah rumah yang saat itu pintunya terbuka karena diterpa angin. Tsa’labah pun tidak sengaja melihat ternyata di dalamnya ada orang yang sedang mandi. Dia pun langsung mengucapkan,”Astaghfirullahal’adzim…, Ya Allah ampunilah dosa-dosaku. Saya diutus oleh Rasulullah bukan untuk melihat yang haram.”
Seketika itu, Tsa’labah langsung menangis dan menyesali perbuatannya, meskipun kejadian itu tidak disengaja. Sesalnya itu karena dia diutus bukan untuk melihat yang haram dan takut jika Allah SWT akan menurunkan ayat tentang kejadian tersebut.Dia pun langsung lari entah kemana (ada yang menyebutkan di pegunungan). Tsa’labah kemudian tinggal disana dan masih menyesali perbuatannya. 

Rasulullah SAW menunggu Tsa’labah yang ketika itu beliau memimpin sholat berjama’ah. Sampai sholat selesai, Tsa’labah tidak muncul. Akhirnya Rasulullah menanyakan kepada para sahabat, “Apakah engkau melihat Tsa’labah Bin Abdurrahman?” Para sahabat menjawab,” Ya Rasulullah,, kami tidak melihat Tsa’labah Bin Abdurrahman.” Kemudian sahabat lain menjawab,”mungkin masih bermain Ya Rasulullah, karena dia masih anak-anak”. 

Saat itu, Rasulullah SAW meminta tolong para sahabat untuk mencari Tsa’labah Bin Abdurrahman. Namun, tidak ditemukan. Kemudian Rasulullah SAW mendapatkan wahyu melalui malaikat Jibril bahwasanya Tsa’labah ada di kaki gunung Madinah. Setelah itu, Rasulullah SAW mengutus sahabat Umar Bin Khattab dan Salman Al-Farisi untuk mencari Tsa’labah disana.

Sesampainya di kaki gunung Madinah sahabat Umar Bin Khattab dan Salman Al-Farisi melihat ada seekor kambing dan penggembalanya. Sahabat pun bertanya kepada penggembala kambing,”Wahai penggembala kambing, apakah engkau melihat anak kecil yang dia selalu periang, berjalannya cepat, dst.” Penggembala kambing pun menjawab,” saya tidak melihat orang yang engkau ceritakan disini. Memang ada orang yang seperti itu disini, tetapi dia tidak periang seperti yang engkau ceritakan. Dia orang yang pada pagi hari berada di bukit gunung, dan sore hari menjelang petang dia turun untuk meminta susu kepadaku. dia selalu menangis sehingga derai air matanya masih membekas. Dia tidak mau melihat seseorang. dia akan malu ketika ada seseorang yang datang kepadanya.”

Saat itu, akhirnya sahabat Umar Bin Khattab bertemu dengan Tsa’labah Bin Abdurrahman. Sahabat Umar pun bertanya,” Wahai Tsa’labah Bin Abdurrahman, Saya Umar”. Tsa’labah menjawab,” Kenapa engkau disini, wahai Umar? saya malu bertemu dengan Rasulullah SAW. Saya diutus bukan untuk melihat yang haram.” Sahabat Umar bercerita, Rasulullah SAW menunggu kedatanganmu. Akhirnya Tsa’labah pun di bawa pulang oleh sahabat Umar Bin Khattab  dan Salman Al-Farisi dalam keadaan sakit terhitung berada di kaki gunung Madinah selama 40 hari.

Tsa’labah dibawa pulang ke pangkuan ibundanya. Ketika itu sahabat Umar pun menghadap kepada Rasulullah SAW,”Wahai Rasulullah,,Tsa’labah sudah ada di pangkuan ibundanya. Apakah engkau ingin membawa saya membawa Tsa’labah kesini? dia sekarang sedang sakit, Ya Raulullah .. Rasulullah SAW menjawab,”Tidak, saya yang akan kesana”. Rasulullah SAW akhirnya menjenguk Tsa’labah.

Ketika Rasulullah SAW sampai di rumahnya, beliau duduk tepat di hadapan Tsa’labah yang tengah berbaring. Rasulullah SAW mengangkat kepala Tsa’labah dan diletakkan dipangkuan beliau. Tetapi, tiba-tiba Tsa’labah menjatuhkan kembali kepalanya ke bawah. Rasulullah SAW pun bertanya,” Kenapa wahai Tsa’labah?”. Tsa’labah pun menjawab,”Kepalaku tidak pantas bersandar di pangkuanmu yang mulia ini”. Tsa’labah pun menceritakan kejadiannya ketika tidak sengaja melihat wanita yang sedang mandi, padahal itu tidak sengaja.
Rasulullah SAW bertanya kepada Tsa’labah,”Wahai Tsa’labah, apa yang kamu inginkan?”. Tsa’labah menjawab, “ Ya Rasulullah, saya ingin Allah SWT mengampuniku dan engkau ridha kepadaku. Karena saya malu, engkau mengutusku bukan untuk melihat yang haram, dan saya takut akan ada ayat turun tentangku”. Rasulullah SAW menjawab,”Allah SWT telah mengampunimu dan aku telah ridha kepadamu”.

Tak terasa ajal Tsa’labah semakin dekat, dan akhirnya dia wafat. Seketika itu Rasulullah SAW pun mengurus jenazah Tsa’labah mulai memandikan, mengkafani, menyolati, dan mengangkat jenazah Tsa’labah sampai ke pemakaman. 

Pada saat Rasulullah SAW mengangkat jenazah Tsa’labah pergi ke pemakaman, beliau berjalan jinjit. Kemudian ada sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah ,, kenapa engkau jinjit?” Rasulullah SAW pun menjawab,”saya jinjit karena banyak malaikat yang mengiring jenazah Tsa’labah ke pemakaman. saya tidak mendapatkan tempat untuk berjalan.”

Dari kisah mulianya Tsa’labah di atas dapat kita ambil hikmah, bagaimana kecintaan kita kepada Rasulullah SAW yang dicurahkan tidak hanya di mulut saja, tetapi ditanamkan dalam hati. Meskipun kita atau orang lain tidak tahu apa yang kita perbuat, ingatlah bahwa masih ada Allah SWT yang tahu segalanya. Dan kita harus berusaha menjaga anggota tubuh dari melakukan kemaksiyatan. Waallahua’lam bisshowab..

Sumber: Cerita dari seorang santri yang mendengarkan dari kiainya.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar