Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SURAU

https://mapio.net/pic/p-47657574/ 

Alvian izzul Fikri

Terik matahari yang begitu menyengat di siang hari tak menyurutkan semangat para jamaah sholat jumat untuk melaksanakan ibadah di masjid Baitunnur, bau harum yang sangat khas yang pasti kita jumpai ketika kita memasuki masjid untuk menunaikan sholat, yang mana harum itu berasal dari para jamaah sholat jumat, dimana mereka memakai pakaian terbaik mereka, memakai parfum terwangi mereka sebagai bukti dan kesungguhan untuk memenuhi panggilan Tuhannya.

Dedaunan dari pohon yang berguguran karena terpaan angin, suara langkah kaki yang terdengar semakin kecil dari jamaah yang mulai meninggalkan masjid, Dimas masih khusu’ melantunkan dzikir dan doa-doa yang ia baca setelah jamaah usai. Ketika Dimas ingin meninggalkan masjid, dia tidak sengaja melihat dari kejauhan sesosok orang yang sepertinya ia kenal, setelah dia mencoba untuk mengingat siapa sosok itu, dia teringat gaya (memakai) songkok yang orang itu kenakan dan sajadah yang ia pikul, dengan menyisahkan rambut sedikit di depan dan suka memegang songkoknya sendiri ketika berbicara, dia adalah Rangga.

Tanpa banyak pikir Dimas langsung menghampirinya dengan wajah yang sumringah, karena sudah lebih dari 3 tahun dia tidak bertemu karena Dimas melanjutkan sekolahnya ke SMA favorit di daerahnya, sedangkan Rangga meneruskan jenjang pendidikan ke ke salah satu Pesantren terkenal di Indonesia. “Rangga? ..” berkata Dimas kepada Rangga dengan harapan dia dengan mudah mengenalinya dan mudah untuk akrab lagi dengannya, karena mereka berdua adalah teman yang sangat akrab sebelumnya. Rangga terkejut mendengar ada yang memanggil namanya, lalu ia menoleh kesamping, “lo, Dimas .. gimana kabarnya” Tanya Rangga memberikan senyuman yang lebar dan tatapan yang hangat untuk Dimas, sembari mereka bersalaman “ Alhamdulillah, baik ngga,” jawab Dimas kepada Rangga.

Lama sekali mereka menyalami dan berbagi pengalaman tentang sekolah mereka masing-masing, bercerita tentang apa yang membuat mereka bisa tertawa lepas samai tak terasa sudah satu jam meraka lewatkan pembicaraan itu di teras masjid. Ada pertanyaan yang mengganjal di benak Rangga, tentang peran vital seorang guru terhadap kehidupan beragama, dimana dia sendiri melihat dimana santri-santri di pondok pesantren itu menaruh rasa hormat yang lebih kepada gurunya.

Setelah Rangga mengungkapkan kegelisahannya itu kepadanya, sehingga pertanyaan itu membuat Rangga langsung tersenyum lebar sembari mengarahkan wajahnya kepada Dimas yang masih mengerutkan dahinya karena rasa penasaran yang ada pada dirinya. Rangga menjawabnya dengan bahasa yang sederhana dengan harapan dimas mudah menerima dan memahami apa yang ia maksudkan, dengan menjelaskan tentang pentingnya Ulama dan guru dalam kehidupan. “Akhir-akhir ini kita sering mendengar perkataan mari kita kembali kepada Al-Quran dan As-sunnah, Ketika samean mendengar perkataan itu, mari kita kembali ke Al-Quran dan hadist, karena ulama tidak selalu benar? Apa yang samean dapat pahami?” Tanya rangga kepada Dimas.

“Ya, ketika kita ada permasalahan yang kita hadapi kita langsung merujuk kepada Alquran dan Hadist, karena ulama sendiri belum tentu benar” jawab Dimas dengan mantab, Rangga kembali tersenyum dan memberikan pertanyaan lagi, “Terus yang kamu maksud dari Al-Quran dan Hadist itu apa?”, “ Maksud dari Al-Quran dan Hadist itu sendiri adalah apa yang telah sampai kepada kita baik yang berupa tulisan” jawab Dimas dengan ragu, “ Kita sebagai orang awam sangatlah harus berhati-hati ketika kita mendapatkan sebuah informasi, dimana ketika kita tidak mengetahui atau kita salah menafsirkan pemahaman tersebut kita sudah seharusnya lari kepada ulama kita dan guru-guru kita, agar supaya kita ditetapkan di dalam jalan yang benar, apa lagi informasi tentang sesuatu yang berkaitan dengan agama, Ketika ada orang yang berkata bahwasanya kita harus kembali kepada Al-Quran dan Hadist, maka kita sebagai orang awam akan menangkap pemahaman bahwasanya ketika ada masalah yang kita hadapi, kita langsung merujuk atau mencari jawabanya itu sendiri lansung dengan membaca Al-quran dan Hadist sendiri karena beranggapan bahwa ulama atau guru-guru kita tidak selalu benar,”.

Lalu Rangga melanjutkan “Ulama dan guru-guru kita adalah orang yang senantiasa membimbing kita sejak kecil, yang membuat kita tahu dan paham atas apa yang dahulu kita tidak tau dan kita pahami, sudah sepatutnya kita selalu menghormati kepada mereka, dan haruslah juga kita tanamkan didalam hati kita, ya benar Ulama memang tidak selalu benar tetapi kita mesti salah, dimana ketika memegang prinsip itu, maka secara tidak langsung kita akan mempunyai semangat untuk selalu crosscheck informasi yang kita dapatkan kepada guru-guru kita, sehingga secara tidak langsung akan tumbuh rasa hormat itu didalam diri kita”, dimas mengangguk-ngangguk tanda bahwa ia paham akan vital seorang ulama dan guru. Mereka lalu melanjutkan pembicaraan yang ringan, sembari menunggu adzan sholat ashar berkumandang.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar